Maaf ada yg kehapus. Intinya kita sudah punya banyak strategi
kebijakan pembangunan kota, mulai dari NUDS 1 thn 1985, NUDS 2 (son of
NUDS), NUDS 3 (grandson of NUDS) sedang dalam proses penyempurnaan dan
sosialisasi. Kebijakan dan strategi sudah banyak. Tetapi belum pernah
secara konsisten diikuti atau apalagi dilaksanakan. Belum pernah jadi
dokumen berkekuatan hukum. Mengapa? Krn orang atau lembaga tertinggi
dinegara ini belum 'ngeh' belum care ttg kota2 kita sebagai suatu
entitas, bukan parsial. Bagaimana kita bisa menatik perhatian mereka
thd hal ini? Statistik sudah bicara ttg pertumbuhan kota yg begitu
pesat. Tunggu apalagi? Salam, ini dari bu Yati, fosil yg pernah ada di
planologi. Barangkali ada diantara kalian yg kenal atau masih ingat.
On Feb 2, 2010, at 5:34 AM, Risfan M wrote:
Rekans ysh,
Dalam situasi dan kondisi permukiman yang runyam seperti sekarang
ini maka paling gampang kita mengatakan 'setiap ide adalah salah
besar, bahkan biang kerok.
Yang hoby kelautan bilang ini gara2 bias daratan. Yang gemar
fenomenologi mengatakan ini gara2 kuantitatif minded. Yang bangga
suka desa bilang urban bias lah biangnya.
Menurut saya semua bisa berkontribusi terhadap perbaikan, kalau bisa
dilaksanakan secara konsisten.
Satu hal lagi, mungkin perlu ada upaya lebih kuat untuk menarik
perhatian Pemerintah, Dunia Usaha, Kelompok Penentu terhadap masalah
Perkotaan dan Permukiman.
Ini penting karena di kalangan pemerintah sendiri sangat birokratis
dan menghambat. Contohnya, misalnya saat DKI harus mengimpor bus,
hambatan datang dari prosedur pelabuhan yang tak mau tahu
kepentingan publik dari bus tersebut. Ini contoh yang mungkin salah,
banyak masalah MANAJEMEN yang tidak sinkron semacam ini.
Sulitnya kerjasama Jabodetabek, masalah TPA sampah Tangerang
Selatan, menunjukkan MANAJEMEN Pemda tidak beres, masih belum bisa
berfikir tentang kerjasama.
Jadi menurut saya semua ide bisa berkontribusi, termasuk tinjauan
aspek perbaikan MANAJEMEN (pemerintahan, pembangunan) dan bagimana
mengajak stakeholders, termasuk yang pengaruhnya besar.
Kata ahli "kegagalan demokrasi" sudah didepan mata, maka ada baiknya
kita tumbuhkan saling percaya (trust) dan kerjasama.
Salam,
Risfan Munir
Pada Sen, 01 Feb 2010 10:34 CST nita menulis:
>Referensier,
>Pendeknya, kita sudah mengalami proses urbanisasi.... Berubah
menjadi kota... Baik dari desa menjadi kota, maupun kota yg
"membengkak"...
>
>Mengutip sedikit kalimat pak BTS, ... Kembali ke desa... Bukan lagi
salah besar, tapi jadi aneh... Sepertinya peng-kota-an itu salah...
Yg salah, kenapa tidak dipersiapkan agar kota tidak menjadi buruk
akibat proses itu..
>
>Tapi juga jgn lagi mengurusi "kenapa tidak siap"... Melainkan,
harus segera bertindak "bagaimana selanjutnya"... Bagaimana
menyiapkan calon2 kota, bagaimana menyiapkan kota yg tadinya kecil
akan tumbuh dewasa....
>
>Bagaimana.... Maaf saya baru bisa bertanya...
>
>Salam,
>Nita
>
>Sent from my BlackBerry®
>powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
>-----Original Message-----
>From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
>Date: Mon, 1 Feb 2010 07:42:57
>To: <[email protected]>
>Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia
>
>dear all
>
>Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat
dibanding dengan persentase penduduk diperdesaan.
>
>Berdasarkan data statistik :
>
>Tahun 1970, jumlah penduduk 119 juta, kota : desa = 17% : 83% =
20,23 jt : 98,77 jt
>Tahun 1980, jumlah penduduk 147 juta, kota : desa = 23% : 77% =
33,81 jt : 113,19 jt
>Tahun 1990, jumlah penduduk 179 juta, kota : desa = 30% : 70% =
53,70 jt : 125,30 jt
>Tahun 2000, jumlah penduduk 205 juta, kota : desa = 43% : 57% =
116,85 jt : 88,15 jt
>Tahun 2010, jml pddk (proy) 233 juta, kota : desa = 55% : 45% =
104,85 jt : 128,15 jt
>
>Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke
tahun, tetapi jumlah nominalnya tidak mengalami banyak pengurangan,
yaitu sekitar 100 juta sejak tahun 1970 hingga proyeksi tahun 2010.
Lihat fakta di atas.
>
>Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan bukan
hanya karena migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota, tetapi
juga perubahan wilayah desa menjadi kota sehingga wilayah perdesaan
semakin berkurang. Mengingat jumlah nominal penduduk perdesaan
sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang semakin berkurang,
berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat.
>
>Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali ke desa.
>
>Thanks. CU. BTS.
>
>
>--- On Mon, 2/1/10, [email protected] <[email protected]>
wrote:
>
>
>From: [email protected] <[email protected]>
>Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia
>To: [email protected]
>Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM
>
>
>Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa
>Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota.
>Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah
udah macet.
>Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah
diklakson.
>Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh,
pulang Isya.
>Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan
>Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN
diintip orang.
>Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir
dimana mana.
>Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak
harum mewangi.
>Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah.
>Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua.
>Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca
pake Dialek Roma Irama)
>Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda
hargenye.
>Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar.
>Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua..
>Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa
bikin PNPM busway, eh Suramadu bisa deng.
>
>Iman tea.
>Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
>------------------------------------
>
>Komunitas Referensi
>http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>