Pak RM dan bpk/ibu lainnya,
saya mencoba pemikiran sederhana.
Sebagai orangtua, tentunya kita inginkan anak2 kita lebih baik dari kita. 
Konsekuensinya, kita mulai mengirim anak kita ke sekolah yg lbh baik dan 
sayangnya itu hanya terdapat di kota. Dalam perjalanan selanjutnya, tentu sulit 
untuk mengajak anak kembali ke desa. Ada banyak faktor, trtm psikologi. Mungkin 
bisa dikatakan ketiadaan pendidikan yg berkualitas di desa adalah kesalahan 
sistemik.
Dalam perjalanan waktu akhirnya orangtua sadar akan meningkatnya kebutuhan 
biaya, dan ternyata kalau hanya bertani, sulit terpenuhi. Satu2 nya jalan 
adalah jadi pedagang produk pertanian. Inipun ada konsekuensi, orangtua mulai 
pindah ke kota.
Seiring dng meningkatnya pendapatan, mulailah perkembangan fisik bangunan di 
lokasi yg dibeli saat masih berpenghasilan pas2 an. Akibatnya rth semakin 
berkurang, demikian juga prasarana, sarana dan utilitas lainnya.
Dampaknya adalah munculnya kawasan kumuh, banjir yang berulang setiap musim 
hujan, kemacetan, kurangnya angkutan umum, dsb. Sayangnya, di saat spt ini, 
penyelesaian tidak terkoordinir. Dan lebih disayangkan lagi, sering pula 
penyelesaian masalah dikaitkan dng peluang untuk mensejahterakan diri sendiri 
dan kelompok.
Bagaimana solusi? Mungkin ini yg dimaksud dng local content sehingga 
penyelesaian di satu kota akan berbeda dng kota lain. Perlu ketajaman dalam 
identifikasi dan perumusan masalah di satu wilayah, meskipun apa yg baik di 
tempat lain (apakah itu barat atau timur) dpt dijadikan pertimbangan.
Salam.
Hot Asi.
-----Original Message-----
From: Risfan M
Sent:  02/02/2010, 7:57  PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia



Pak Moris dan Rekans ysh,

Kebetulan beberapa kali saya ke Kebumen, Purworejo. Atau kalau diteruskan ke 
timurnya Jogja, Wonosari, juga Wonogiri, apalagi Pacitan, ke timur lewat 
Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung. (kebetulan hari ini di Jogja, tp belum lapor 
Pak Djarot).

Kota pantai selatan Jawa yang sebagian mengandalkan tanaman pangan dan 
palawija, sepertinya stagnant. Tanaman pangan harga produknya dikontrol dan 
palawija memang juga tidak lebih baik. Sehingga sulit diharap surplusnya jadi 
penggerak kota-kota kecil tersebut.

Saya sempat mendampingi beberapa klaster UMKM/IKM di beberapa daerah tersebut, 
dan sebetulnya potensinya ada walau tidak besar. Ada klaster pembuat knalpot, 
wig, sabut untuk jog mobil (sebagian ekspor), tas, batik, makanan kering 
(alen-alen, dst).

Saya pikir kota-kota jenis ini memang akan tetap segitu saja ukurannya. 
Sehingga ukuran penilaiannya (kalau ada gunanya menilai) lebih tepat dilihat 
dari liveability nya, daripada ukuran pertumbuhannya.

Dengan pertumbuhan penduduk, nampaknya migrasi ke (bekerja di) kota besar 
menjadi tak terelakkan. Dan, ini terjadi dari dulu, sehingga kata orang banyak 
perwira TNI dari daerah tersebut.

Perkembangan ekonomi daerah sebagian besar masih mengikuti "nasib" komoditas 
yang harganya dikontrol (pangan) atau fluktuatif. Sementara pergeseran ke 
manufaktur (UMKM) tergantung adanya potensi kewirausahaan lokal. Kalau 
investasi besar barangkali memang msh sulit diharap mengingat lokasi (jauh 
pelabuhan), ketersediaan SDM terampil, dst terbatas. Sementara sektor jasa 
umumnya justru lebih banyak pertokoan yang menyedot 'kemamuran' setempat ke 
kantung pemiliknya yang tinggal di kota besar.

Salam,
Risfan Munir


Pada Sen, 01 Feb 2010 23:06 CST Moris Nuaimi menulis:

>Bapak/Ibu ysh,
>
>Membangun perkotaan tanpa membangun perdasaan saya kira tidak akan membantu
>menjaga keberlangsungan kota-desa secara berkesinambungan. RTR memang
>diperlukan sebagai alat. Tetapi hanya sebagai syarat perlu saja. Syarat
>cukupnya cukup banyak.. Dan kita harus memikirkan tantangan perkembangan
>kota ini secara bersama. Tanpa memperkuat sektor primer, perkembangan kota
>(dan desa) hanya semu semata. Secara seyektif saya melihat  kota2 kecil
>menjadi tidak berkembang (mungkin sekali malah menurun)  akibat menurunnya
>kapasitas sektor primer.
>
>Sebagai contoh, kota2 antara Purwokerto-Jogja (kebetulan saya bisa melihat
>perkembangannya dalam 10-20 tahun ini). Kota2 seperti Gombong, Karanganyar,
>Kutowinangun, Kutoarjo terlihat makin sepi. Mungkin yang agak menggeliat di
>ibukota kabupaten, itu juga hanya pada tanggal muda saja. Kota2 kecil ini
>sekarang menjadi sangat tergantung pada kota, khususnya Jakarta. Tenaga
>kerja yg bekerja di perkotaan menjadi penolong kehidupan kota2 kecil ini.
>Setalah praktis sektor primer (pertanian) tidak bisa lagi menopang kehidupan
>kota2 kecil ini.
>
>Di sisi lain sektor manufaktur di perkotaan tren-nya tidak hanya mengalami
>pelambatan, tapi juga penurunan kapasitas. Khususnya pada industri
>manufaktur padat karya. Pada gilirannya 'injeksi ekonomi'' kota besar ke
>kota kecil lewat tenaga kerjanya tidak dapat diharapkan lagi.
>
>Membangun kota tidak hanya membangun kota2 besar, tapi juga membangun kota2
>kecil seperti saya sebutkan di atas. Kota2 kecil tidak akan bisa bertahan
>tanpa adanya dukungan dari sektor primer/pertanian. Sementara revitalisasi
>pertanian (dan juga program2 lainnya) itu sendiri tidak pernah jelas ke mana
>arahnya.
>
>Mohon maaf sebelumnya
>
>Salam,
>Moris



      

Kirim email ke