Ini barangkali klise. Kita butuh 'local leadership' yg sudah beberapa
muncul dan 'take action' membenahi kota/kabupatenya seperti walikota
tarakan, bupati jembrana, walikota pekalongaan, walikota solo,dan
banyak lagi. Bagaimana kita bisa 'merangsang' dan membantu lebih
banyak 'champion2' seperti itu?
On Feb 2, 2010, at 9:25 PM, [email protected] wrote:
Pak RM dan bpk/ibu lainnya,
saya mencoba pemikiran sederhana.
Sebagai orangtua, tentunya kita inginkan anak2 kita lebih baik dari
kita. Konsekuensinya, kita mulai mengirim anak kita ke sekolah yg
lbh baik dan sayangnya itu hanya terdapat di kota. Dalam perjalanan
selanjutnya, tentu sulit untuk mengajak anak kembali ke desa. Ada
banyak faktor, trtm psikologi. Mungkin bisa dikatakan ketiadaan
pendidikan yg berkualitas di desa adalah kesalahan sistemik.
Dalam perjalanan waktu akhirnya orangtua sadar akan meningkatnya
kebutuhan biaya, dan ternyata kalau hanya bertani, sulit terpenuhi.
Satu2 nya jalan adalah jadi pedagang produk pertanian. Inipun ada
konsekuensi, orangtua mulai pindah ke kota.
Seiring dng meningkatnya pendapatan, mulailah perkembangan fisik
bangunan di lokasi yg dibeli saat masih berpenghasilan pas2 an.
Akibatnya rth semakin berkurang, demikian juga prasarana, sarana dan
utilitas lainnya.
Dampaknya adalah munculnya kawasan kumuh, banjir yang berulang
setiap musim hujan, kemacetan, kurangnya angkutan umum, dsb.
Sayangnya, di saat spt ini, penyelesaian tidak terkoordinir. Dan
lebih disayangkan lagi, sering pula penyelesaian masalah dikaitkan
dng peluang untuk mensejahterakan diri sendiri dan kelompok.
Bagaimana solusi? Mungkin ini yg dimaksud dng local content sehingga
penyelesaian di satu kota akan berbeda dng kota lain. Perlu
ketajaman dalam identifikasi dan perumusan masalah di satu wilayah,
meskipun apa yg baik di tempat lain (apakah itu barat atau timur)
dpt dijadikan pertimbangan.
Salam.
Hot Asi.
-----Original Message-----
From: Risfan M
Sent: 02/02/2010, 7:57 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia
Pak Moris dan Rekans ysh,
Kebetulan beberapa kali saya ke Kebumen, Purworejo. Atau kalau
diteruskan ke timurnya Jogja, Wonosari, juga Wonogiri, apalagi
Pacitan, ke timur lewat Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung.
(kebetulan hari ini di Jogja, tp belum lapor Pak Djarot).
Kota pantai selatan Jawa yang sebagian mengandalkan tanaman pangan
dan palawija, sepertinya stagnant. Tanaman pangan harga produknya
dikontrol dan palawija memang juga tidak lebih baik. Sehingga sulit
diharap surplusnya jadi penggerak kota-kota kecil tersebut.
Saya sempat mendampingi beberapa klaster UMKM/IKM di beberapa daerah
tersebut, dan sebetulnya potensinya ada walau tidak besar. Ada
klaster pembuat knalpot, wig, sabut untuk jog mobil (sebagian
ekspor), tas, batik, makanan kering (alen-alen, dst).
Saya pikir kota-kota jenis ini memang akan tetap segitu saja
ukurannya. Sehingga ukuran penilaiannya (kalau ada gunanya menilai)
lebih tepat dilihat dari liveability nya, daripada ukuran
pertumbuhannya.
Dengan pertumbuhan penduduk, nampaknya migrasi ke (bekerja di) kota
besar menjadi tak terelakkan. Dan, ini terjadi dari dulu, sehingga
kata orang banyak perwira TNI dari daerah tersebut.
Perkembangan ekonomi daerah sebagian besar masih mengikuti "nasib"
komoditas yang harganya dikontrol (pangan) atau fluktuatif.
Sementara pergeseran ke manufaktur (UMKM) tergantung adanya potensi
kewirausahaan lokal. Kalau investasi besar barangkali memang msh
sulit diharap mengingat lokasi (jauh pelabuhan), ketersediaan SDM
terampil, dst terbatas. Sementara sektor jasa umumnya justru lebih
banyak pertokoan yang menyedot 'kemamuran' setempat ke kantung
pemiliknya yang tinggal di kota besar.
Salam,
Risfan Munir
Pada Sen, 01 Feb 2010 23:06 CST Moris Nuaimi menulis:
>Bapak/Ibu ysh,
>
>Membangun perkotaan tanpa membangun perdasaan saya kira tidak akan
membantu
>menjaga keberlangsungan kota-desa secara berkesinambungan. RTR memang
>diperlukan sebagai alat. Tetapi hanya sebagai syarat perlu saja.
Syarat
>cukupnya cukup banyak.. Dan kita harus memikirkan tantangan
perkembangan
>kota ini secara bersama. Tanpa memperkuat sektor primer,
perkembangan kota
>(dan desa) hanya semu semata. Secara seyektif saya melihat kota2
kecil
>menjadi tidak berkembang (mungkin sekali malah menurun) akibat
menurunnya
>kapasitas sektor primer.
>
>Sebagai contoh, kota2 antara Purwokerto-Jogja (kebetulan saya bisa
melihat
>perkembangannya dalam 10-20 tahun ini). Kota2 seperti Gombong,
Karanganyar,
>Kutowinangun, Kutoarjo terlihat makin sepi. Mungkin yang agak
menggeliat di
>ibukota kabupaten, itu juga hanya pada tanggal muda saja. Kota2
kecil ini
>sekarang menjadi sangat tergantung pada kota, khususnya Jakarta.
Tenaga
>kerja yg bekerja di perkotaan menjadi penolong kehidupan kota2
kecil ini.
>Setalah praktis sektor primer (pertanian) tidak bisa lagi menopang
kehidupan
>kota2 kecil ini.
>
>Di sisi lain sektor manufaktur di perkotaan tren-nya tidak hanya
mengalami
>pelambatan, tapi juga penurunan kapasitas. Khususnya pada industri
>manufaktur padat karya. Pada gilirannya 'injeksi ekonomi'' kota
besar ke
>kota kecil lewat tenaga kerjanya tidak dapat diharapkan lagi.
>
>Membangun kota tidak hanya membangun kota2 besar, tapi juga
membangun kota2
>kecil seperti saya sebutkan di atas. Kota2 kecil tidak akan bisa
bertahan
>tanpa adanya dukungan dari sektor primer/pertanian. Sementara
revitalisasi
>pertanian (dan juga program2 lainnya) itu sendiri tidak pernah
jelas ke mana
>arahnya.
>
>Mohon maaf sebelumnya
>
>Salam,
>Moris