Pak Eka, tantangannya sangat menarik ! Saya pernah mendalami tentang simbol karena pernah mengajarkannya dalam sebuah mata kuliah pilihan di arsitektur atma jaya yogyakarta. Uniknya, hanya sedikit mahasiswa yang tertatik, dan yang tertarik itu saya rasakan belajar sungguh-sungguh mendalaminya selama mengambil kuliah itu. Anehnya, ketika saya mengajukan mata kuliah itu yang berjudul "Simbolisme Arsitektural" (maksudnya simbolisme dalam arsitektur) agar masuk ke dalam kurikulum baru, ternyata ditolak. Apa pelajaran dari kejadian ini ? Saya "berkesimpulan", mahasiswa tertarik tetapi para dosen justru tidak.
Nah, apakah simbol dan simbolisme hanya menarik untuk di wacanakan oleh para calon pakar ? Apakah kejadian ini juga menyimbolkan keadaan jagad intelektual di arsitektur (dan perencanaan) yang menunjukkan bahwa para pakarnya kurang tertarik membahasnya sebagai bagian penting dari budaya arsitektur dan perencanaan itu sendiri ? Saya tertarik karena kehidupan ini penuh dengan simbol yang memperkaya jiwa kita. Dunia tanpa simbol tidak ubahnya dunia tanpa kebudayaan. Simbol sebagai "jagad cilik" jika kita baca akan mengantarkan kita kepada "jagad gede", sebab dia bukan sekedar penanda darinya. Simbol sebagai jagad cilik adalah pintu masuk sekaligus bagian dari jagad gede itu. Apalagi dalam keyakinan saya, simbol terkait dengan sakramen, sebab dengan menghayati "yang kecil" kita dihantarkan untuk sampai dan bersatu dengan "yang maha besar". Sakramen ada di atas simbol, sebab menyatukan "yang duniawi" dengan "yang sorgawi", manunggaling kawula Gusti. JIka kita berbicara simbol saja maka kita berbicara tentang esensi kemanusiaan kita, dan jika berbicara sakramen kita sanggup memahami kemanusiaan dalam kaitan dengan Sang Maha Pencipta. Jadi, ada dua tataran jika kita bicara simbol dan simbolisme. Sementara begitu Pak, Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Fri, 3/19/10, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] The Lost Symbol To: [email protected] Date: Friday, March 19, 2010, 8:33 PM Sahabat, akhirnya khatam juga "The Lost Symbol" by Dan Brown setebal 705 halaman dalam 2,5 hari. Sangat menarik, apalagi sebelumnya sudah baca Sahlins dan Turner. Ingin juga mendengar kesan, pendapat, pencerahan dari rekan-rekan lain yang sudah membaca. Siapa tahu bisa menambah studi kriteria ibukota-nya Wilmar, posisi geografis-nya Abiyoso, pemaknaan ruang-waktunya ATA, pemaknaan arkitektur-nya Djarot dan rekan arsitek lainnya, dan siapa pun penggila kajian misteri. Saya ingin menyumbang definisi 'symbols' dalam literatur ilmiah, di luar The Lost Symbol sbb: Leslie White (1949): the symbol is the universe of humanity. Edwar Sapir (1929): distinguished between primary and secondary symbols, in which a connection is no longer directly traceable between words, or combinations of words, and what they refer to. Clifford Geertz (1973): the symbol is the vehicle of signification. Namun Victor Turner (1967) memaknakan the symbol is the vehicle of social processes. (I found I could not analyze ritual symbols without studying them in a time series in relation to other 'events', for symbols are essentially involved in social processes... .. Many things and actions are represented in a single formation). Siap menunggu untuk diskusi tentang ibukota negara, inner thinking, the system of believes, ... atau Mr. Langdon sendiri. Salam. -ekadj

