Pak Djarot dan rekan2 ysh, saya harap bapak sudah mulai baca-baca The Lost Symbol pada weekend ini (untuk Cak Andri, anda sudah sampai halaman berapa?). Tapi konsep bapak tentang simbologi sudah mendekati Sapir dan Turner. Mengenai simbolisme dalam arsitektur, boleh juga bapak bentangkan di milis ini, mudah-mudahan ada 'perjuangan' lebih lanjut.
Konsep simbol yang paling umum adalah simbol huruf Romawi, terangkai dalam kata(-kata) dan bahasa, seperti yang kita nikmati sekarang ini di dunia virtual. Supaya mudah dipahami dalam hermeunetika dasar, digunakan bahasa populer, walau terkadang juga masih sering salah pengertian. Pelajaran mendasar sudah disampaikan Pak Suwardjoko, coba ganti simbol 'merokok' dengan 'pelacur', apakah masih dimaknakan sama? Jadi menurut Dan Brown, perlu suatu pengetahuan lagi: semiotika, berarti harus baca Geertz, dan kita sudah pernah bahas. Untuk karya sastra lebih sulit lagi, perlu penghayatan dan intonasi. Saya selalu teringat puisinya Toto Sudarto Bachtiar, 'Pahlawan Tak Dikenal, satu bait yang selalu salah diucapkan: "... sebuah lubang peluru bundar di dadanya ..." Éngineers-nya Pak Aby bekerja sepenuhnya dengan simbol-simbol, seperti terlihat dalam gambar rancangan arsitektur dan peta-peta rencana. Dulu kita mengenal di buku-buku atlas ada gambar jangkar, berarti di situ adalah pelabuhan. Kemudian bundaran merah 'circumpunct', berarti ibukota provinsi. Kemudian sejak SVV dikenalkan simbol warna, dan kemudian dipermodern. Warna kuning untuk perumahan, dengan gradasi, mulai kuning tua untuk perumahan padat sampai kuning transparan untuk perumahan tidak padat. Pak DennyZ protes, kalau kuning ya kuning saja nggak usah pakai gradasian, tapi ditambahkan lagi simbol di atas simbol, yaitu R1, R2, dst. Ok-lah kalok begitu. Peta-peta PZ sudah mulai standar, peta-peta 'existing' juga begitu sejak PP10, namun peta-peta rencana kan belum ya Pak Akbar? Kalau peta-peta analisis 'simbolisasi'-nya sudah diprotes Pak Yando, apa tuh maksudnya buletan-buletan, panah-panah, garis-garis, dst? Begitu juga dengan aneka warna yang meragukan di peta. Dengan kata lain 'simbol-simbol' yang kita ciptakan belum bernilai sosial, menurut Pak Djarot dan Turner, sehingga juga belum menjadi simbol. Begitu juga dengan beberapa istilah simbol yang lain: slogan, semboyan, rambu, marka, lampu lalu-lintas, dst, khususnya bagi pengguna transportasi. Untuk menggunakan ruang publik perlu lulus ujian simbol (SIM); nyatanya lebih 50% peserta ujian tidak lulus pada test pertama. Public and publicly perlu kesepahaman simbol bersama. Bila tidak, nyawa taruhannya. Untuk simbol yang terbangun 3 dimensi atau menempati ruang, tentu Pak Djarot dkk pakarnya. Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Eka, tantangannya sangat menarik ! > > Saya pernah mendalami tentang simbol karena pernah mengajarkannya dalam sebuah mata kuliah pilihan di arsitektur atma jaya yogyakarta. Uniknya, hanya sedikit mahasiswa yang tertatik, dan yang tertarik itu saya rasakan belajar sungguh-sungguh mendalaminya selama mengambil kuliah itu. Anehnya, ketika saya mengajukan mata kuliah itu yang berjudul "Simbolisme Arsitektural" (maksudnya simbolisme dalam arsitektur) agar masuk ke dalam kurikulum baru, ternyata ditolak. Apa pelajaran dari kejadian ini ? Saya "berkesimpulan", mahasiswa tertarik tetapi para dosen justru tidak. > > Nah, apakah simbol dan simbolisme hanya menarik untuk di wacanakan oleh para calon pakar ? Apakah kejadian ini juga menyimbolkan keadaan jagad intelektual di arsitektur (dan perencanaan) yang menunjukkan bahwa para pakarnya kurang tertarik membahasnya sebagai bagian penting dari budaya arsitektur dan perencanaan itu sendiri ? > > Saya tertarik karena kehidupan ini penuh dengan simbol yang memperkaya jiwa kita. Dunia tanpa simbol tidak ubahnya dunia tanpa kebudayaan. Simbol sebagai "jagad cilik" jika kita baca akan mengantarkan kita kepada "jagad gede", sebab dia bukan sekedar penanda darinya. Simbol sebagai jagad cilik adalah pintu masuk sekaligus bagian dari jagad gede itu. > > Apalagi dalam keyakinan saya, simbol terkait dengan sakramen, sebab dengan menghayati "yang kecil" kita dihantarkan untuk sampai dan bersatu dengan "yang maha besar". Sakramen ada di atas simbol, sebab menyatukan "yang duniawi" dengan "yang sorgawi", manunggaling kawula Gusti. JIka kita berbicara simbol saja maka kita berbicara tentang esensi kemanusiaan kita, dan jika berbicara sakramen kita sanggup memahami kemanusiaan dalam kaitan dengan Sang Maha Pencipta. Jadi, ada dua tataran jika kita bicara simbol dan simbolisme. > > Sementara begitu Pak, > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Fri, 3/19/10, ffekadj 4ek...@... wrote: > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] The Lost Symbol > To: [email protected] > Date: Friday, March 19, 2010, 8:33 PM > > > Sahabat, akhirnya khatam juga "The Lost Symbol" by Dan Brown setebal 705 > > halaman dalam 2,5 hari. Sangat menarik, apalagi sebelumnya sudah baca > > Sahlins dan Turner. Ingin juga mendengar kesan, pendapat, pencerahan > > dari rekan-rekan lain yang sudah membaca. Siapa tahu bisa menambah studi > > kriteria ibukota-nya Wilmar, posisi geografis-nya Abiyoso, pemaknaan > > ruang-waktunya ATA, pemaknaan arkitektur-nya Djarot dan rekan arsitek > > lainnya, dan siapa pun penggila kajian misteri. > > > > Saya ingin menyumbang definisi 'symbols' dalam literatur ilmiah, di luar > > The Lost Symbol sbb: > > > > Leslie White (1949): the symbol is the universe of humanity. > > > > Edwar Sapir (1929): distinguished between primary and secondary symbols, > > in which a connection is no longer directly traceable between words, or > > combinations of words, and what they refer to. > > > > Clifford Geertz (1973): the symbol is the vehicle of signification. > > > > Namun Victor Turner (1967) memaknakan the symbol is the vehicle of > > social processes. (I found I could not analyze ritual symbols without > > studying them in a time series in relation to other 'events', for > > symbols are essentially involved in social processes... .. Many things > > and actions are represented in a single formation). > > > > Siap menunggu untuk diskusi tentang ibukota negara, inner thinking, the > > system of believes, ... atau Mr. Langdon sendiri. Salam. > > > > -ekadj >

