Pak Djarot ysh, terima kasih atas catatannya. Senang mendengar teorisi dan
praktisi bisa bersinergi, yang bisa melahirkan inspirasi untuk kita. Salam.

-ekadj
2010/6/21 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
>   Dear Sahabat,
>
> Sudah beberapa hari ini saya ingin menuliskan butir-butir pengalaman
> mendengarkan pemaparan dua tokoh penting dalam penataan ruang kota.
> Kebetulan saja, keduanya dapat tampil dalam satu sesi, maka duet mereka
> menjadi sangat asyik dinikmati. Semoga paparan berikut ini menambah
> pengetahuan kita dan membuat kita bangun dari tidur nyenyak dan tidak bisa
> tidur lagi karena kesetrum virus yang disebarkannya.
>
> 1. Ridwan Kamil seorang arsitek muda tentang ruang kota yang datang dari
> Bandung, mengusung gagasan bahwa setiap jaman memiliki budayanya sendiri,
> maka generasi jaman itu harus menciptakan kebudayaan tanpa meninggalkan akar
> budayanya. Beberapa karyanya berbasis pada ideologinya itu, yang dikelola
> dengan prinsip keseimbangan, asalkan semuanya itu tertuju kepada manusia.
> Pada titik ini tampaknya dia ada dalam aliran humanisme sekaligus berpihak
> pada kebudayaan dan melestarikan alam. Dalam paparan itu dia mengatakan
> bahwa "ilmu keseimbangan" untuk menghasilkan karya yang memihak sana-sini
> adalah ilmu yang sulit.
>
> 2. Ridwan Kamil dikenal dengan ide-idenya tentang kota kreatif. Sebuah kota
> akan hidup jika ada festival, maka generasi saat ini harus mampu membuat
> kota hidup dengan festival-festival. Jember dulu tidak dikenal, tetapi
> dengan festival pakaian (?) lantas sekarang menjadi terkenal. Warga kota,
> khususnya walikota, harus mampu menghidupkan kota dengan acara-acara unik,
> maka kota akan hidup dan berkembang ekonominya, dst dst.
>
> 3. Soal suasana kota yang nyaman, paradigmanya harus diubah yaitu
> mengedepankan manusia, Ada banyak contoh, bagaimana dulu kota yang penuh
> dengan lost space diubah dengan pembuatan ruang-ruang terbuka hijau yang
> penuh dengan aktivitas manusia. Orang dibuat supaya jika rekreasi tidak
> melulu ke Mall, melainkan ke ruang-ruang terbuka hijau yang penuh dengan
> aktivitas manusia. Intinya, ruang terbuka hijau bukan hanya soal tanaman,
> tetapi lebih-lebih ruang itu harus menjadi ruang yang hidup dan aktif oleh
> kegiatan manusia. Walikota Solo nyeletuk, Solo akan diubah ruang kotanya
> dengan kebijakan non-motorize, parkir kendaraan di luar kota dan untuk ke
> dalamkota oran harus jalan kaki, bersepeda atau naik becak dan andong.
>
> 4. Djokowi bercerita tentang pengalamannya yang banyak dalam mengubah image
> dan wajah kota Solo yang bopeng di sana-sini melalui tayangan slides yang
> sederhana namun sarat dengan muatan informasi. Ia menggunakan prinsip ilmu
> Jawa: memanusiakan manusia (orang jawa kalau dipangku mati, seperti huruf
> jawa itu). ia setuju dengan semua gagasan Ridwan Kamil bahwa kota harus
> manusiawi, berbudaya dan sehat alami.
>
> 5. Pada waktu awal menjadi walikota Solo, Djokowi kritis terhadap situasi
> yang dihadapi dan punya konsep tersendiri. Cerita tentang satpol PP menarik
> untuk diangkat. Pimpinan Satpol PP mengajukan anggaran sekian juta untuk
> membeli penthungan, dia diamkan. Tahun berikutnya, mengajukan lagi, sekian
> puluh juta untuk membeli tameng, dia diamkan juga. Djokowi sadar, situasi
> seperti itu harus diubah. Tahun berikutnya, sebelum pimpinan satpol PP
> mengajukan anggaran, dia minta semua unsur satpol PP berkumpul di balai kota
> untuk menyerahkan penthungan dan tamengnya untuk digudangkan !!! Sebuah
> langkah berani yang dilandasi konsep jelas, bahwa kota Solo akan membangun
> tanpa menggusur.
>
> 6. Ridwan Kamil setuju dengan langkah Djokowi tersebut, katanya, perubahan
> ruang kota memang harus di mulai dari pucuk pimpinan pemerintah kota. Jika
> tidak demikian, maka tidak akan ada gerakan perubahan yang mendasar. Dari
> slides yang ditayangkan Djokowi memang terlihat benar-benar turun ke
> lapangan MEMIMPIN bagaimana mendekati warga yang tanahnya akan ditata. Ia
> terlibat langsung dalam temu warga secara intens, ketika mengadakan gerakan
> pembangunan yang berpartisipasi masyarakat (berbasis masyarakat).
>
> 7. Kunci yang lain Djokowi menggunakan "makan bersama" sebagai sarana
> perjumpaan antara walikota dengan warga yang akan ditata. Ia berkali-kali
> menyelenggarakan acara makan bersama seperti itu, dan hanya makan saja,
> tanpa dialog formal. ketika ada yang bertanya, pak kok nggak ada dialog?
> Dijawabnya: memang nggak ada, aku memang ingin mengundang kamu makan
> bersama, titik. Lama-lama pendekatan ini muncul efektifitasnya, warga lambat
> laun memahami mau kemana walikota dan dibawa kemana Solo dengan penataannya.
> Hasilnya, warga dengan sukarela berpartisipasi.
>
> 8. Ketika proses dialog, walikota dan warga aktif bertemu. Pada saat
> penataan fisik, warga terlibat dengan sukarela karena memahami arah yang
> akan dituju. Bahkan ketika warga pindah ke tempat yang baru (khususnya
> pasar) mereka diarak dengan cara budaya Jawa, diantarkan oleh prajurit
> kraton. Warga membawa tumpeng, satu tumpeng satu keluarga, diarak bersama
> walikota ke tempat yang baru. Artinya, warga dilibatkan, budaya tidak
> ditinggalkan, saling hormat walikota dengan warganya terjadi. Kirab semacam
> ini juga pernah dilaksanakan di Jogja, pindahnya pasar klithikan dan pasar
> burung beberapa waktu yang lalu.
>
> 9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar
> yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang
> tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting:
> pedagang lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di
> kota-kota lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha
> di Solo kok nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan
> meyakinkan dewan bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar
> baru akan kembali dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga,
> hanya dengan cara matematika sedemikian rupa semuanya happy.
>
> Demikian catatan saya sejauh masih saya ingat. Semoga bisa menjadi
> inspirasi yang kreatif. Jika ada pertanyaan-pertanyaan, mungkin ingatan saya
> bisa terbuka lagi dan catatan ini bisa bertambah.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
>

Kirim email ke