Pak Djarot, tidak kabur pak, memang jadinya multi-tafsir. Bisa maksudnya salah satu teorisi yang lain praktisi, bisa saja maksudnya masing-masing memiliki kemampuan teorisi-praktisi. Saya hanya menyimpulkan dari narasi bapak saja, yang ditangkap seperti itu. Jadi ini bukan masalah kaidah kebahasaan, tapi masuk ke dalam teori penafsiran. Bayangkan suatu teks yang sudah dibahas berkali-kali oleh berbagai pihak, dengan berbagai sudut pandang ilmu, dan mengikutsertakan ahli Bahasa Indonesia, dst, ketika sudah ditetapkan dan disosialisasikan, masih bisa (dan sangat mungkin) dimulti-tafsirkan. Minggu lalu di Bandung saya juga menyampaikan: jangan ngarep seorang pembuat kebijakan atau dokumen akan mengharapkan pembaca kebijakan/dokumen tersebut akan memahami sebagaimana pemahaman pembuat kebijakan tersebut. Jadi perlu 'keikhlasan' bila pemahaman kita akan berbeda dengan pemahaman orang lain; atau, pakai teori kekuasaan untuk menekankan pemahaman. Demikian saja pak. Salam.
-ekadj 2010/6/21 Djarot Purbadi <[email protected]> > > > Pak Eka, apakah tidak kabur pernyataan panjenengan ya. Mas Ridwan Kamil > bukan melulu teoritisi lho, tetapi juga praktisi sebab karyanya banyak. Pak > Djokowi kayaknya memang pantas disebut praktisi dan banyak berdiskusi dengan > pengalaman empiris, juga dengan para perencana/perancang kota. Tampaknya > batasan itu menjadi kabur, mungkin hanya berlaku untuk orang seperti saya > yang lebih banyak di kampus saja. > > Salam, > Djarot Purbadi > > > --- On *Mon, 6/21/10, - ekadj <[email protected]>* wrote: > > > From: - ekadj <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi > To: [email protected] > Date: Monday, June 21, 2010, 11:18 PM > > > > Pak Djarot ysh, terima kasih atas catatannya. Senang mendengar teorisi dan > praktisi bisa bersinergi, yang bisa melahirkan inspirasi untuk kita. Salam. > > -ekadj > 2010/6/21 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. > com<http://mc/[email protected]> > > > >> >> >> Dear Sahabat, >> >> Sudah beberapa hari ini saya ingin menuliskan butir-butir pengalaman >> mendengarkan pemaparan dua tokoh penting dalam penataan ruang kota. >> Kebetulan saja, keduanya dapat tampil dalam satu sesi, maka duet mereka >> menjadi sangat asyik dinikmati. Semoga paparan berikut ini menambah >> pengetahuan kita dan membuat kita bangun dari tidur nyenyak dan tidak bisa >> tidur lagi karena kesetrum virus yang disebarkannya. >> >> 1. Ridwan Kamil seorang arsitek muda tentang ruang kota yang datang dari >> Bandung, mengusung gagasan bahwa setiap jaman memiliki budayanya sendiri, >> maka generasi jaman itu harus menciptakan kebudayaan tanpa meninggalkan akar >> budayanya. Beberapa karyanya berbasis pada ideologinya itu, yang dikelola >> dengan prinsip keseimbangan, asalkan semuanya itu tertuju kepada manusia. >> Pada titik ini tampaknya dia ada dalam aliran humanisme sekaligus berpihak >> pada kebudayaan dan melestarikan alam. Dalam paparan itu dia mengatakan >> bahwa "ilmu keseimbangan" untuk menghasilkan karya yang memihak sana-sini >> adalah ilmu yang sulit. >> >> 2. Ridwan Kamil dikenal dengan ide-idenya tentang kota kreatif. Sebuah >> kota akan hidup jika ada festival, maka generasi saat ini harus mampu >> membuat kota hidup dengan festival-festival. Jember dulu tidak dikenal, >> tetapi dengan festival pakaian (?) lantas sekarang menjadi terkenal. Warga >> kota, khususnya walikota, harus mampu menghidupkan kota dengan acara-acara >> unik, maka kota akan hidup dan berkembang ekonominya, dst dst. >> >> 3. Soal suasana kota yang nyaman, paradigmanya harus diubah yaitu >> mengedepankan manusia, Ada banyak contoh, bagaimana dulu kota yang penuh >> dengan lost space diubah dengan pembuatan ruang-ruang terbuka hijau yang >> penuh dengan aktivitas manusia. Orang dibuat supaya jika rekreasi tidak >> melulu ke Mall, melainkan ke ruang-ruang terbuka hijau yang penuh dengan >> aktivitas manusia. Intinya, ruang terbuka hijau bukan hanya soal tanaman, >> tetapi lebih-lebih ruang itu harus menjadi ruang yang hidup dan aktif oleh >> kegiatan manusia. Walikota Solo nyeletuk, Solo akan diubah ruang kotanya >> dengan kebijakan non-motorize, parkir kendaraan di luar kota dan untuk ke >> dalamkota oran harus jalan kaki, bersepeda atau naik becak dan andong. >> >> 4. Djokowi bercerita tentang pengalamannya yang banyak dalam mengubah >> image dan wajah kota Solo yang bopeng di sana-sini melalui tayangan slides >> yang sederhana namun sarat dengan muatan informasi. Ia menggunakan prinsip >> ilmu Jawa: memanusiakan manusia (orang jawa kalau dipangku mati, seperti >> huruf jawa itu). ia setuju dengan semua gagasan Ridwan Kamil bahwa kota >> harus manusiawi, berbudaya dan sehat alami. >> >> 5. Pada waktu awal menjadi walikota Solo, Djokowi kritis terhadap situasi >> yang dihadapi dan punya konsep tersendiri. Cerita tentang satpol PP menarik >> untuk diangkat. Pimpinan Satpol PP mengajukan anggaran sekian juta untuk >> membeli penthungan, dia diamkan. Tahun berikutnya, mengajukan lagi, sekian >> puluh juta untuk membeli tameng, dia diamkan juga. Djokowi sadar, situasi >> seperti itu harus diubah. Tahun berikutnya, sebelum pimpinan satpol PP >> mengajukan anggaran, dia minta semua unsur satpol PP berkumpul di balai kota >> untuk menyerahkan penthungan dan tamengnya untuk digudangkan !!! Sebuah >> langkah berani yang dilandasi konsep jelas, bahwa kota Solo akan membangun >> tanpa menggusur. >> >> 6. Ridwan Kamil setuju dengan langkah Djokowi tersebut, katanya, perubahan >> ruang kota memang harus di mulai dari pucuk pimpinan pemerintah kota. Jika >> tidak demikian, maka tidak akan ada gerakan perubahan yang mendasar. Dari >> slides yang ditayangkan Djokowi memang terlihat benar-benar turun ke >> lapangan MEMIMPIN bagaimana mendekati warga yang tanahnya akan ditata. Ia >> terlibat langsung dalam temu warga secara intens, ketika mengadakan gerakan >> pembangunan yang berpartisipasi masyarakat (berbasis masyarakat). >> >> 7. Kunci yang lain Djokowi menggunakan "makan bersama" sebagai sarana >> perjumpaan antara walikota dengan warga yang akan ditata. Ia berkali-kali >> menyelenggarakan acara makan bersama seperti itu, dan hanya makan saja, >> tanpa dialog formal. ketika ada yang bertanya, pak kok nggak ada dialog? >> Dijawabnya: memang nggak ada, aku memang ingin mengundang kamu makan >> bersama, titik. Lama-lama pendekatan ini muncul efektifitasnya, warga lambat >> laun memahami mau kemana walikota dan dibawa kemana Solo dengan penataannya. >> Hasilnya, warga dengan sukarela berpartisipasi. >> >> 8. Ketika proses dialog, walikota dan warga aktif bertemu. Pada saat >> penataan fisik, warga terlibat dengan sukarela karena memahami arah yang >> akan dituju. Bahkan ketika warga pindah ke tempat yang baru (khususnya >> pasar) mereka diarak dengan cara budaya Jawa, diantarkan oleh prajurit >> kraton. Warga membawa tumpeng, satu tumpeng satu keluarga, diarak bersama >> walikota ke tempat yang baru. Artinya, warga dilibatkan, budaya tidak >> ditinggalkan, saling hormat walikota dengan warganya terjadi. Kirab semacam >> ini juga pernah dilaksanakan di Jogja, pindahnya pasar klithikan dan pasar >> burung beberapa waktu yang lalu. >> >> 9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke >> pasar yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian >> tentang tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: >> pedagang lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di >> kota-kota lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha >> di Solo kok nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan >> meyakinkan dewan bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar >> baru akan kembali dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, >> hanya dengan cara matematika sedemikian rupa semuanya happy. >> >> Demikian catatan saya sejauh masih saya ingat. Semoga bisa menjadi >> inspirasi yang kreatif. Jika ada pertanyaan-pertanya an, mungkin ingatan >> saya bisa terbuka lagi dan catatan ini bisa bertambah. >> >> Salam, >> >> Djarot Purbadi >> >>

