Kalau saya tidak salah tangkap sih. Yang diatasi sesungguhnya "uang muka" yang 
biasanya membuat "pedagang lama" tak bisa masuk ke pasar yang baru. Apa lagi 
sebagian berasal dari PKL yang dipindahkan.
 
Tanahnya milik Pemda, sehingga soalnya biaya pembangunan. Disitu Pemda 
sepertinya memberikan "subsidi uang muka". Berikutnya cicilan diambil dari 
retrbusi.
Dia bilang sebetulnya retribusi harian itu nilainya cukup besar. Tapi pasar 
tradisional umumnya bocor di penarikan retribusi, parkir, dst. Maka, dia tata 
betul-betul manajemen pengumpulan retribusi itu. Karena dari situlah sebetulnya 
biaya pembangunan ditutup. 
 
Apakah Pemda menyewakan sebagian untuk bank, dst, dengan harga komersial, bisa 
saja kan itu jadi sumber penerimaan lainnya.
 
Pengelolaan pasar tradisional hasil pembangunan tersebut layak dicatat pula. 
Pedagang pakai seragam, lorong/gang antar stand dijaga betul kebersihan dan 
kerapiannya. Buat pembelanja ada door-prize yang diundi, hadiahnya juga ada 
yang mobil. Tujuannya tidak kalah gengsi dengan hiper/super-rmarket.
 
Salam,
Risfan Munir
www.urbaneconomic.blogspot.com
 
 
 
 
 


--- On Tue, 6/22/10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi, penasaran butir 9
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 22, 2010, 3:43 AM


  








Bung Jehan, sama dengan Koko, saya penasaran bagaimana sih menyiasati amggaran 
sehingga pedagang  beli kios tidak perlu membayar sepeserpun dan nanti 
investasi akan kembali. Niat baik  saja tidak cukup, tapi harus ada 
matematikanya khan?
 
Saya benar-benar "narketing" (penasaran).
 
Thanks. CU. BTS. 


--- Pada Sel, 22/6/10, Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com> menulis:


Dari: Jehan Siregar <jehansiregar@ yahoo.com>
Judul: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 22 Juni, 2010, 8:21 AM


  





Dear Koko n Pak Djarot,
Menurut saya sederhana saja, karena inisiatif ini digerakkan oleh niat murni 
untuk memberdayakan PKL, menata ruang kota dan mengembangkan kawasan baru. 
Tidak ada terselip kepentingan tertentu baik dari investor yang hendak 
berspekulasi memanfaatkan tanah/ruang kota maupun motif proyek-proyek 
pengadaan. Ketika situasi ini ada di kasus-kasus lain dan memang sengaja 
diundang oleh pengelola kota yang menerapkan "do nothing and project approach", 
maka kepentingan ini bisa berubah menjadi selilit yang merusak semangat 
kebersamaan,  sehingga tidak semua bisa happy.

Salam,
Jehan



--- On Tue, 6/22/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:


From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: Re: [referensi] Ridwan Kamil dan DjokoWi
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, June 22, 2010, 9:32 AM


  





Saya tertarik untuk mendalami butir no. 9. 
Seperti apakah 'cara tertentu' menyiasati anggaran tersebut sehingga semua 
happy?
Salam,
-K-



9. Mengapa warga (beberapa kasus adalah penataan pasar) mau pindah ke pasar 
yang ditata dengan sukarela ? Ya karena mereka mendapat kepastian tentang 
tempat jualan sesuai dengan keinginan bersama. Rahasia yang penting: pedagang 
lama di pasar baru tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal, di kota-kota 
lain proses pindah semacam itu selalu dengan mbayar beli kios. lha di Solo kok 
nggak mbayar? Ternyata Djokowi pandai menyiasati anggaran dan meyakinkan dewan 
bahwa dengan cara tertentu uang yang ditanamkan untuk pasar baru akan kembali 
dan pedagang terbebani. Sebenarnya, mereka mbayar juga, hanya dengan cara 
matematika sedemikian rupa semuanya happy.



2010/6/21 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  




















      

Kirim email ke