Tgp kpd ysh mas BTS …namun mohon maaf ..formatnya msh tetap spt mutilasi’ …..tetapi mudah2an esensinya bukan mutilasi…. ++++: Membaca ulasan Pak Aby sepertinya kemacetan itu dikarenakan aglomerasi atau adanya magnet yang kuat sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran di Jabodetabek. Logika yang tepat bila dikembangkan countermagnet, maka kemacetan di Jabodetabek itu bisa dikurangi dan diurai. >>>>: Pengembangan countermagnet city (dibarengi dgn tindakan partly relocate/ >>>>semai industri foot loose nasional memimpin) utamanya bukan semata utk >>>>mengurangi dan mengurai kemacetan Jkt ……tetapi lbh utk memberi ajang baru >>>>favoritisme pilihan arah arus urbanisasi yg banyak menyerbu kekota primat >>>>……shg kota primat dpt lbh ‘bernapas’ dlm terus membenahi dan meningkatkan >>>>mutu angkutan masal/ MRTnya……. ++++: Dengan logika yang sama pula bahwa munculnya countermagnet akan melahirkan kemacetan baru. Dengan demikian konsep pengembangan countermagnet sama saja dengan "memindahkan" kemacetan. Memperluas pengembangan countermagnet, bukankah sama saja "memeratakan" kemacetan? >>>>: bbrp unsur pembentuk kemacetan adlh a.l. ratio antara jumlah penduduk, >>>>panjang jalan, jumlah kendaraan bermotor pribadi yg keluar dijalan raya pd >>>>jam yg sama, jumlah dan kapasitas sarana angkutan umum, variasi sistem >>>>angkutan umum dsb…….. Sbgmn gempa bumi atau badai memiliki skala kedahsyatan tingkat kerusakan …walau yg satu ini blm lazim dipergunakan …..tapi setidaknya secara imaginary kita bisa bayangkan bhw yg namanya ‘kemacetan lalulintas’ itu jg ada tingkatan2 keparahannya jg …spt katakanlah ukuran2nya bisa saja misalnya berupa kombinasi ukuran ttg bgmn seseorang normalnya dpt menyelesaikan sekian km perjalanannya melalui rute2 jalan strategis harian dlm sekian jam dan sekian belas menit ……namun dlm tingkat keparahan kemacetan yg tinggi waktu perjalanan itu bisa bbrp kali lipat …..spt misalnya saja normalnya Blok M-Semanggi dpt ditempuh dlm 10 menit …namun ditempuh dalam 1 jam atau lebih misalnya…..atau bgmn secara rata2 kendaraan harus ‘tersiksa’ merayap dgn kecepatan rata2 hanya 2 atau 5km perjam ….pdhal berkendara yg nyaman tentunya perlu kecepatan rata setidaknya 30km/ jam….. Yg namanya ‘kemacetan’ tdk selalu hrs bermakna buruk ……justru kemacetan sekaligus mengisyaratkan bgmn suatu kawasan memiliki arti ekonomi sosial amat strategis dan memiliki tingkat kegiatan perekonomian yg tinggi …shg pd hari dan jam2 yg sama demikian banyak manusia hrs berangkat menuju/ memasuki suatu kawasan tsb …….. Yg perlu diupayakan oleh para perencana adlh justrui bgmn ‘tingkat kemacetan’ yg menyiksa itu dpt diturunkan menjadi tingkat yg ‘wajar’…….atau bahkan bgmn kawasn2 yg tak pernah mengenal macet (alias tertinggal) perlu dibuat agar memiliki juga sedikit porsi ‘kemacetan’ …….mas Dwiagus saya kira akan senang jika dpt mendengar kota Kupang juga kini sering mengalami macet misalnya (pertanda bhw perekonomian perkotaannya meningkat pesat) ……dibanding dgn hanya mendengar berita kota Kupang suasana lalulintasnya ‘tenang’ saja terus ….yg mencirikan karakter keterpencilannya…….. ++++: Kemacetan lalu lintas di kota-kota metro sering tak bisa dihindari. Tapi memang tidak separah Jakarta. Bangkok dulu macetnya...ya ampuunn, tetapi sekarang tidak lagi dan Bangkok tetap kota prima, tanpa ada konsep countermagnet. >>>>: Bhw Bangkok yg pernah macet parah dan kini tidk lagi….. dan sampai saat >>>>ini tetap menjadi kota primat dan spt kurang ada kecemasan ttg perlunya >>>>konsep desentralisasi sistem perkotaan di Thailand ……setidaknya alasannya >>>>bisa bbrp macam …..spt bhw pertama ……luas Bangkok yg 1568 km2 lbh dari 2x >>>>lipat luas kota Jkt ……kedua, total penduduk nasionalnya saat ini yg >>>>‘hanya’ sktr 66 juta (hampir hanya ¼ Indonesia) suatu jumlah penduduk yg >>>>‘kecil’ …yg di Indonesia dialami sekitar sebelum thn 1960an menyebabkan >>>>negeri Thailand masih merasa ‘tenang’ bhw jumlah penduduknya belum >>>>mengalami ‘ledakan’ …….ketiga …..negeri Thailand yg seluruhnya berupa >>>>‘daratan’ (samasekali bukan belasan ribu pulau macem Indonesia) dan jarak >>>>jelajah negerinya yg terjauh hanya sekitar 600-800an km dari Bangkok dan >>>>kota2 terjauhnya dihubungkan dgn jalur kereta api, masih belum terlampau >>>>sulit utk mencapai ibukota Bangkok ……menyebabkan Bangkok belum teramat memerlukan kota tandingan yg menyerupai besarannya ……krn ‘wilayah terpencilnya’ tak sedahsyat spt di Indonesia yg jaraknya ‘dgn harus menyeberangi laut’ bisa sampai 2500-3000km dari pusat negeri ……dgn ombak yg dikala ganas mencapai ketinggian 5m-6m yg menyulitkan perhubungan dimana pd kondisi spt ini pelayaran sering hrs dihentikan agar nyawa tak melayang.……. ++++: Juga kota-kota metro di negara-negara lain tidak harus macet seperti Jakarta ini tanpa harus ada pengembangan countermagnet. >>>>: Sbgmn dlm arsitektur dikenal ungkapan “tak ’kan pernah ada dua kota yg >>>>sama”…..maka dlm planologi/ pembangunan wilayah boleh juga kita katakan bhw >>>>“masalah keruangan, situasi keruangan dan solusi pemecahannya dari tiap2 >>>>negeri hampir tak ‘kan pernah sama” …….countermagnet city atau semacam itu >>>>di Bld, Perancis, AS, Italia, Skandinavia dan banyaknegara lain samasekali >>>>tidak saling sama polanya stu sama lain…… ++++: Menurut buku yang saya pahami, kemacetan itu bukan tataran makro, tapi tataran mikro saja, atau itu masalah manajemen saja. Walaupun begitu, mengurai kemacetan tidaklah gampang, ... >>>>: secara fisik ia hanya melanda ruang secara mikro/ lokal saja …….tetapi >>>>sebab2 serta akar masalah yg mendorong terjadinya kemacetan itu adlh makro >>>>…..ialah kurangnya kesempatan kerja dan ketertinggalan kelengkapan >>>>modernitas infrastruktur dan berbagai modernitas fasilitas kenikmatan >>>>hidup lainnya didaerah2……. ++++: banyak faktor. Untuk itu perlu diurai satu persatu dan diselesaikan secara bertahap. Ini bukan soal gebleg,..bukan soal suka ngeles, ..juga bukan soal omong doang.... Perlu kerja sama banyak pihak,...juga partsipasi/kesadara n masyarakat tentunya. >>>>: betul dn setuju ttg perlunya kerjasama bnyk pihak …..masalahnya saya kira >>>>berubah menjadi (maaf) gebleg ketika masalah yg kelihatannya ‘mikro’/ lokal >>>>lalu benar2 dikira memang hanya sekedar merupakan masalah ‘lokal’ saja >>>>….lalu disikapi secara lokal, secara monosektoral dan dikira >>>>penyelesaiannya yg tuntas/ memuaskan bisa cukup hanya dgn secara lokal dan >>>>monosektoral ……(pdhal masalahnya adlh ketimpangan kemajuan inter-regional, >>>>belum dikembangkannya sistem perkotaan scr nasional yg integrated …) …..dan >>>>penanganannya yg memuaskan perlu tindakan multisektoral dan interregional >>>>(redistribusi migrasi/ arus urbanisasi … partly relokasi industri atau yg >>>>lebih mungkin ya semai industri memimpin, pengembangan kota tandingan yg >>>>sepadan dgn kota primat ……dsb)… ++++: Apakah Anda-anda semua sudah mulai "bike to work", "walk to work", naik angkutan umum....... Itu semua sangat membantu mengurangi kemacetan ini. Ayolah! >>>>: Bike to work, walk to work, termasuk jg naik angkutan umum pd kota >>>>primat spt Jkt yg sedang membenahi sistem angkutan umumnya yg belum >>>>selesai tentu mrpkn pemikiran2 dan tindakan2 yg baik dari wargakotanya >>>>……namun sayang kalau itu tidak dibarengi dgn tindakan tujuan jangka panjang >>>>membenahi redistribusi penduduk dikota2 secara nasional yg lbh berimban, >>>>proposional dan lbh sehat secara nasional…… Siapa yg bisa jamin …..penumpang busway yg kini hrs menumpuk mengantri krn kurangnya frkwensi angkutan (jg msh untung kalau tak mengalami pelecehan) …..ketika baru saja ditambah armadanya …namun tak lama penduduk pendatang telah bertambah pula ….dan busway serta metromini pd jam sibuk tetap saja kembali tak memadai menjalankan fungsinya…….. salam, aby
--- On Mon, 7/19/10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja To: [email protected] Date: Monday, July 19, 2010, 11:18 PM Dear referensiers Membaca ulasan Pak Aby sepertinya kemacetan itu dikarenakan aglomerasi atau adanya magnet yang kuat sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran di Jabodetabek. Logika yang tepat bila dikembangkan countermagnet, maka kemacetan di Jabodetabek itu bisa dikurangi dan diurai. Dengan logika yang sama pula bahwa munculnya countermagnet akan melahirkan kemacetan baru. Dengan demikian konsep pengembangan countermagnet sama saja dengan "memindahkan" kemacetan. Memperluas pengembangan countermagnet, bukankah sama saja "memeratakan" kemacetan? Kemacetan lalu lintas di kota-kota metro sering tak bisa dihindari. Tapi memang tidak separah Jakarta. Bangkok dulu macetnya...ya ampuunn, tetapi sekarang tidak lagi dan Bangkok tetap kota prima, tanpa ada konsep countermagnet. Juga kota-kota metro di negara-negara lain tidak harus macet seperti Jakarta ini tanpa harus ada pengembangan countermagnet. Menurut buku yang saya pahami, kemacetan itu bukan tataran makro, tapi tataran mikro saja, atau itu masalah manajemen saja. Walaupun begitu, mengurai kemacetan tidaklah gampang, ... banyak faktor. Untuk itu perlu diurai satu persatu dan diselesaikan secara bertahap. Ini bukan soal gebleg,..bukan soal suka ngeles, ..juga bukan soal omong doang.... Perlu kerja sama banyak pihak,...juga partsipasi/kesadara n masyarakat tentunya. Apakah Anda-anda semua sudah mulai "bike to work", "walk to work", naik angkutan umum....... Itu semua sangat membantu mengurangi kemacetan ini. Ayolah! Thanks. CU. BTS. --- Pada Sel, 20/7/10, SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> menulis: Dari: SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> Judul: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 1:14 AM Setuju bung Aby. Itulah enaknya menjadi anggota DPR. Meskipun tak paham apa itu angkutan apa itu lalu-lintas, asal kritiknya meriah. Bukankah fasilitas sudah mewah dan gaji wah ? Maka, jawabannya pun sekelas martabak. Pada hemat saya, selama koordinasi perencanaan dan penanganan masalah hanya sebatas pertemuan bibir atas dan bawah, selama itu pula kemacetan akan tetap tak teratasi. Apalagi rencana jangka panjang tak pernah teripikirkan karena terbelenggu masa jabatan. Ma'af tak pernah ikut omong, ini hanya ledakan kesebalan. WASSALAM "SW" From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com> Sent: Mon, July 19, 2010 10:14:12 PM Subject: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Milisters ysh, Saat ini DPR dan Gub DKI saling melakukan kritik …yg dimulai dengan ‘serangan’ DPR yg katakan Gub DKI tak kunjung mampu atasi kemacetan Jkt – sesuatu yg menurut DPR kenapa dulu dijanjikan oleh Foke sewaktu kampanye pilgub waktu itu ……yg lalu Gub DKI menyerang balik dgn katakan DPR hanya bisa ngomong doang dan “…mengatasi kemacetan Jkt itu tak semudah bikin martabak bung…” ….begitu serangan balik dari Gub DKI kpd DPR…… Kalau menurut saya ....saya pikir kedua pihak sama2 saja brengseknya atau kalau mau lbh kasar ya kedua pihak sama2 geblegnya ……DPR mengira kemacetan itu dpt diselesaikan sendiri oleh Jkt dan krn itu dgn sederhana lalu ia dipandang mrpkn tgjwb Gub DKI ……sementara itu para Gub DKI (termasuk juga para cagub) umumnya jg bersikap arogan dgn selalu memandang kemacetan Jkt memang dpt diselesaikan hanya oleh Jkt sendiri saja ……dan tak diperlukan peran kota2 lain spt ttg perlunya dikembangkan countermagnet city atau pengembangan kota besar lain serta penyemaian industri memimpin disana utk membagi arus urbanisasi dan migrasi yg saat ini terbanyak menyerbu kota Jkt/ Jabodetabek…… Bhw DPR ‘memikirkan’ kemacetan Jkt …itu samasekali tdklah salah ….krn apa2 yg menjadi masalah serius bagi masyarakat, bangsa dan negara tentu itu termasuk dlm lingkup pemikiran pd umumnya negarawan…..baik eksekutif maupun legislatif …… Yg lalu menjadi tidak pas adlh kalau DPR lalu berpikir menyederhanakan masalah dgn mengira masalah kemacetan Jkt dpt diselesaikan di Jkt dan sendirian oleh Jkt (dan tentu lalu dlm pandangan DPR kambingnya hitamnya ya tdk lain adlh Gub DKI atau dlm hal ini Foke itu) …….. Baik pihak DPR maupn Gub DKI maupun banyak pihak yg lain (termasuk DJPR) masih sangat kurang berpikir bhw kemacetan adlh bagian sebab dari urbanisasi dan migrasi yg terbesar menyerbu Jabodetabek dan berpusatnya industrialisasi maupun juga lokasi2 industri nasional memimpin di Jabodetabek maupun banyak jenis foot loose industries yg berlokasi ‘memusat’ di Jawa ……dan mrk belum pada mau berpikir ttg perlunya mengembangkan countermagnet city to Jkt dgn inisiasi berupa penyemaian industri memimpin spd industri spd motor kita yg sampai 6,5 juta unit per tahun dan ke-3 terbesar dunia …….yg kenapa ia hrs seluruhnya diproses hanya disepanjang koridor Cikampek-Krawang- Bekasi …..dan bukannya 1/8 bagiannya saja misalnya disuruh memproses di calon countermagnet city di KTI misalnya .....yg dgn itu akan menumbuhkan dampak2 ganda yg luas diberbagai sektor ..dan pd saatnya akan dpt mempengaruhi arus migrasi dan urbanisasi yg menyerbu Jabodetabek .......salam, aby

