Rekans ysh,
 
Trima kasih Pak Aby, tapi saya tidak menyalahkan keadaan atau zaman.
Tapi membuka wawasan bahwa sebaiknya kerjaan kita bukan cuma membuat rencana, 
tetapi bagaimana mengkomunikasikan dan mengoordinasikan antar institusi, dengan 
kelompok warga, swasta. Karena semua punya kewenangan dan area kerja 
masing-masing. Resources masing-masing terbatas (orang, dana, alat). Sedang 
masalahnya besar.
 
Aspek "organisasi, prosedur, SDM", atau dalam bahasa pemerintahan "kelembagaan, 
tata laksana, penguatan personil" harus jadi perhatian para profesional 
planning juga. Karena kalau kita datang ke Dinas apapun di daerah, SDM nya 
sungguh terbatas, kalau ada 2-3 yang pinter juga terokupasi banyak sekali 
kegiatan birokrasi. Sehingga kalau kita menghimbau, kritik, jengkel dst, 
sebetulnya ke siapa? Gak jelas yang punya kapasitas menindak-lanjuti.
 
Saran pak Aby, bicaranya naik ke atasan langsung, sudah dilakukan oleh "Ibu & 
Anak korban ledakan gas 3kg", tapi kembali lagi kan, eksekutornya di bawah 
mesti ditingkatkan kemampuannya, prosedur/ tatalaksana mesti diperbaiki terus.
 
Masalahnya sudah jelas, mengritik dua-belas tahun isinya juga sama-sama saja. 
Mungkin saatnya siapa yang punya ilmu (profesional) kerja-sama membantu 
pengembangan kapasitas para eksekutor, dan solusi praktis. Dan, komunikasi 
antar institusi + swasta + masyarakat.
 
Salam,
Risfan Munir
 


--- On Thu, 7/22/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:


From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re:Posmo [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
To: [email protected]
Date: Thursday, July 22, 2010, 10:47 PM


  








Tgp utk Pak Risfan ysh, 

Berdasar posting pak Risfan  pd Selasa, 20 Juli 3:18AM : 

++++: Pak RVK dan rekans ysh, 
 Dulu waktu masih sekolah dan mulai kerja, saya masih yakin kalau sebagai 
planner menyusun rencana, akan ada satu atau beberapa instansi dan kewenangan 
yang rame-rame melaksanakannya. Sekarang rasanya kita tidak tahu, kita 
merencana untuk siapa, siapa yang akan mengawal dan melaksanakan. Semua bilang 
seharusnya instansi lain juga mendukung, tapi ..... 
>>>>: Anda benar ….Ya namanya istilahnya sekarang ini menurut Joyoboyo sedang 
>>>>jaman edan  pak ……..jadi maklum kalau segalanya serba nggak keruan …..tapi 
>>>>tentunya yg namanya jaman edan itu khan tak akan selamanya…pasti suatu kali 
>>>>akan kembali/ berubah menjadi jaman normal….. 

++++: Rencana dari satu instansi tak ada jaminan akan diikuti oleh instansi 
lain (dirjen lain, bahkan direktiat lain) yang juga punya rencana dan 
kebijakan. Jadi sebetulnya kita diskusi ini mau disampaikan ke siapa?  Ayo 
tumbuhkan magnet tandingan, siapa yang diharapkan gerak? Ayo batasi urban 
sprawl, Ayo tata transportasi Jabodetabek, kepada siapa ajakan ini? (5 Pemda + 
3 kementerian) ? siapa nurut siapa? Saya tidak tahu, mungkin ini yang oleh para 
arsitek disebut era Posmo, alias gado-gado. Masing-masing hanya punya 
sumberdaya dan kewenangan kecil, dan sulit diketemukan, disinergikan. 
>>>>: Setidaknya diskusi di milis ini adalah salah satu dari banyak cara 
>>>>komunikasi ……khususnya diskusi dimilis adlh memang acara diskusi khususnya 
>>>>dgn planner …dan bagi non-planner setidaknya dpt menjadi pencerahan/ 
>>>>masukan  ……lagian ibarat spt kutbah di mesjid …..walau tak semua jamaah 
>>>>mendengarkan ….setidaknya itulah daya upaya dakwah dari seorang umat 
>>>>manusia utk mengkomunikasikan ide2 yg dianggapnya baik bagi bangsa dan 
>>>>negara…... Bhw antar ditjen/ direktorat atau bahkan antar kementerian tidak 
>>>>saling mendukung utk konsep yg sdh teruji benae2 baik …..kalau begitu cara 
>>>>komunikasinya jangan hanya horisontal saja begitu dong …..direktorat bisa 
>>>>ke ditjen lalu ditjen kementeri lalu menteri seharusnya kewapres dan 
>>>>presiden….. kalau yg dir tidak mau ke dirjen lalu dirjen tak mau  juga ke 
>>>>menteri lalu  yg menteri tak mau ke presiden …..ya nggak papa  juga pak 
>>>>Risfan …..lha wong namanya saja juga jaman edan pak :-))
 ……..salam, aby 

--- On Tue, 7/20/10, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, July 20, 2010, 3:18 AM


  






Pak RVK dan rekans ysh,
 
Dulu waktu masih sekolah dan mulai kerja, saya masih yakin kalau sebagai 
planner menyusun rencana, akan ada satu atau beberapa instansi dan kewenangan 
yang rame-rame melaksanakannya. Sekarang rasanya kita tidak tahu, kita 
merencana untuk siapa, siapa yang akan mengawal dan melaksanakan. Semua bilang 
seharusnya instansi lain juga mendukung, tapi .....
 
Rencana dari satu instansi tak ada jaminan akan diikuti oleh instansi lain 
(dirjen lain, bahkan direktiat lain) yang juga punya rencana dan kebijakan. 
Jadi sebetulnya kita diskusi ini mau disampaikan ke siapa?
 
Ayo tumbuhkan magnet tandingan, siapa yang diharapkan gerak? Ayo batasi urban 
sprawl, Ayo tata transportasi Jabodetabek, kepada siapa ajakan ini? (5 Pemda + 
3 kementerian) ? siapa nurut siapa?
 
Saya tidak tahu, mungkin ini yang oleh para arsitek disebut era Posmo, alias 
gado-gado. Masing-masing hanya punya sumberdaya dan kewenangan kecil, dan sulit 
diketemukan, disinergikan. 
 
 
 
Salam,
Risfan Munir
 
 


--- On Tue, 7/20/10, rvk_pa...@yahoo. com <rvk_pa...@yahoo. com> wrote:


From: rvk_pa...@yahoo. com <rvk_pa...@yahoo. com>
Subject: [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Tuesday, July 20, 2010, 5:05 AM


  

Rekans Ysh,

Saat saya jadi anak sekolah di AIT Bangkok akhir thn 80 an, kota ini memang 
parah lalu lintasnya seiring dgn pertumbuhan investasi di negeri ini. Juga pd 
saat yg sama, Manila kondisinya demikian, sedangkan Jakarta masih enak. Kenapa 
kita nggak belajar?
Teman2 planner pasti tahu soalnya termasuk jalan keluarnya. 
Kenapa kita sibuk dgn kota2 di Jawa/Jkt saja yg sdh terlanjur runyam sementara 
utk luar Jawa sedikit sekali kita bahas ? Bisakah kesalahan di P.Jawa jangan 
terulang lagi diluar Jawa ?
Mohon maaf kalau ungkapan ini terlalu vulgar.

Regards

rvk
-----Original Message-----
From: bspr...@indosat. net.id
Sent: 20-07-2010, 13.20 
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Pak Hermawan ysh,

Kasus Casablanca itu sebenarnya kembali lagi kasus konsistensi. Sebenarnya 
konsep Casablanca adalah konsep nanggung. Kalau memang dia diorientasikan akan 
menjadi arterial sekunder, maka harus ada limited direct access ke jalan. 
Konsep itu dulu sec sempurna diterapkan di jl. Sudirman-Thamrin. 
Casablanca sebenarnya diharapkan akan menjadi feeder utk nantinya masuk ke 
jalur toll Kp. Melayu-kali Malang-Cikarang. Dg demikian through traffic tdk 
terganggu oleh local movement. 

Yg terjadi tidak. Shg point of conflictnya ya sepanjang jalan itu. Akibatnya, 
design speed yg bisa 60 km/jm tdk pernah tercapai.

Tapi secara langsung Casablanca juga bagian dr strategi counter magnet tsb, dg 
fungsi dorm-working area. Masih konsisten sec jalur tetapi tdk dr sisi detail 
design.

Salam
Bsp
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: beherma...@yahoo. com
Sender: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tue, 20 Jul 2010 07:27:09 
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Scr makro konsepsual memang countermagenet, MRT, dll disepakati sbg pilihan 
jawaban utk transportasi di perkotaan.khusus kemacetan di jakarta, kok sy lebih 
cenderung mengurai solusinya case by case saja. Misalkan kemacetan di jalan 
casablanca, jalur sy pulang ke rumah, penyebab kemacetan kadang2 hanya hal 
sederhana, mobil mogok, mobil berhenti dan konyolnya mobil yg drivernya sdg 
nelepon. Itu perilaku. Kadang2 juga kemacetan krn org keluar masuk parkir di 
rumah makan sederhana atau rumah makan lain di sekitar tebet. Nah apkah utk 
kasus ini
seryta merta harus menerpakan konsep counter
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!

-----Original Message-----
From: "nita" <ariny...@yahoo. com>
Sender: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tue, 20 Jul 2010 06:46:48 
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Dear referensiers,
Ikut ngobrol sedikit ya....

Kenapa macet, karena jumlah (luas) jalan tidak sesuai dengan jumlah kendaraan 
(segala jenis). Kenapa tidak sesuai, karena luas jalan tidak bertambah, tapi 
jumlah kendaraan bertambah banyak sekali (ini termasuk sepeda lho, yg kini juga 
jadi pengguna jalan). Kenapa jumlah kendaraan tambah banyak sekali, karena 
banyak orang lebih suka/pilih naik mobil/motor pribadi drpd naik angkutan umum, 
dgn berbagai alasan. So, alasan2 orang tdk mau pakai angk umum ini yg mestinya 
'dikorek-korek' lbh dalam. 

Coba tanya, ga usah jauh2, kalau Anda ke Singapura atau Hong Kong, lebih 
memilih mana, naik mobil (bukan taxi ya) atau naik trem/mrt/bis? Tanyakan lagi, 
knp pilih itu? Nah ketemu kan, kenapa org Jakarta lebih doyan naik mobil/motor. 
.....

Salam,
Nita

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Sender: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tue, 20 Jul 2010 14:18:51 
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Reply-To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Dear referensiers
 
Membaca ulasan Pak Aby sepertinya kemacetan itu dikarenakan aglomerasi atau 
adanya magnet yang kuat sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran di 
Jabodetabek. Logika yang tepat bila dikembangkan countermagnet, maka kemacetan 
di Jabodetabek itu bisa dikurangi dan diurai. Dengan logika yang sama pula 
bahwa munculnya countermagnet akan melahirkan kemacetan baru. Dengan demikian 
konsep pengembangan countermagnet sama saja dengan "memindahkan" kemacetan. 
Memperluas pengembangan countermagnet, bukankah sama saja "memeratakan" 
kemacetan?
 
Kemacetan lalu lintas di kota-kota metro sering tak bisa dihindari. Tapi memang 
tidak separah Jakarta. Bangkok dulu macetnya...ya ampuunn, tetapi sekarang 
tidak lagi dan Bangkok tetap kota prima, tanpa ada konsep countermagnet. Juga 
kota-kota metro di negara-negara lain  tidak harus macet seperti Jakarta ini 
tanpa harus ada pengembangan countermagnet.
 
Menurut buku yang saya pahami, kemacetan itu bukan tataran makro, tapi tataran 
mikro saja, atau itu masalah manajemen saja. Walaupun begitu, mengurai 
kemacetan tidaklah gampang, ... banyak faktor. Untuk itu perlu diurai satu 
persatu dan diselesaikan secara bertahap. Ini bukan soal gebleg,..bukan soal 
suka ngeles, ..juga bukan soal omong doang.... Perlu kerja sama banyak 
pihak,...juga partsipasi/kesadara n masyarakat tentunya. 
 
Apakah Anda-anda semua sudah mulai "bike to work", "walk to work", naik 
angkutan umum....... Itu semua sangat membantu mengurangi kemacetan ini. Ayolah!
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 

--- Pada Sel, 20/7/10, SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> menulis:

Dari: SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com>
Judul: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 1:14 AM

  

Setuju bung Aby. Itulah enaknya menjadi anggota DPR. Meskipun tak paham apa itu 
angkutan apa itu lalu-lintas, asal kritiknya meriah. Bukankah fasilitas sudah 
mewah dan gaji wah ? Maka, jawabannya pun sekelas martabak. Pada hemat saya, 
selama koordinasi perencanaan dan penanganan masalah hanya sebatas pertemuan 
bibir atas dan bawah, selama itu pula kemacetan akan tetap tak teratasi. 
Apalagi rencana jangka panjang tak pernah teripikirkan karena terbelenggu masa 
jabatan. Ma'af tak pernah ikut omong, ini hanya ledakan kesebalan.

 WASSALAM

"SW" 

From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com>
Sent: Mon, July 19, 2010 10:14:12 PM
Subject: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

  

Milisters ysh, 

Saat ini DPR dan Gub DKI saling melakukan kritik …yg dimulai dengan ‘serangan’ 
DPR yg katakan Gub DKI tak kunjung mampu atasi kemacetan Jkt – sesuatu yg 
menurut DPR kenapa dulu dijanjikan oleh Foke sewaktu kampanye pilgub waktu itu 
……yg lalu Gub DKI menyerang balik dgn katakan DPR hanya bisa ngomong doang dan 
“…mengatasi kemacetan Jkt itu tak semudah bikin martabak bung…” ….begitu 
serangan balik dari Gub DKI kpd DPR…… 

Kalau menurut saya ....saya pikir kedua pihak sama2 saja brengseknya atau kalau 
mau lbh kasar ya kedua pihak sama2 geblegnya  ……DPR mengira kemacetan itu dpt 
diselesaikan sendiri oleh Jkt dan krn itu dgn sederhana lalu ia  dipandang 
mrpkn tgjwb Gub DKI ……sementara itu para Gub DKI (termasuk juga para cagub) 
umumnya jg bersikap arogan dgn selalu memandang kemacetan Jkt memang dpt 
diselesaikan hanya oleh Jkt sendiri saja ……dan tak diperlukan peran kota2 lain 
spt ttg perlunya dikembangkan countermagnet city atau pengembangan kota besar 
lain serta penyemaian industri memimpin disana utk membagi arus urbanisasi dan 
migrasi yg saat ini terbanyak menyerbu kota Jkt/ Jabodetabek…… 

Bhw DPR ‘memikirkan’ kemacetan Jkt …itu samasekali tdklah salah ….krn apa2 yg 
menjadi masalah serius bagi masyarakat,  bangsa dan negara tentu itu termasuk 
dlm lingkup pemikiran pd umumnya negarawan…..baik eksekutif maupun legislatif 
……       Yg  lalu menjadi tidak pas adlh kalau DPR lalu berpikir 
menyederhanakan masalah dgn mengira masalah kemacetan Jkt dpt diselesaikan di 
Jkt dan sendirian oleh Jkt (dan tentu lalu dlm pandangan DPR kambingnya 
hitamnya ya tdk lain adlh Gub DKI atau dlm hal ini Foke itu) …….. 

Baik pihak DPR maupn Gub DKI maupun banyak pihak yg lain (termasuk DJPR) masih 
sangat kurang berpikir bhw kemacetan adlh bagian sebab dari urbanisasi dan 
migrasi yg terbesar menyerbu Jabodetabek dan berpusatnya industrialisasi maupun 
juga lokasi2 industri nasional memimpin di Jabodetabek maupun banyak jenis foot 
loose industries yg berlokasi ‘memusat’ di Jawa ……dan mrk belum pada mau 
berpikir ttg perlunya mengembangkan countermagnet city to Jkt dgn inisiasi 
berupa penyemaian industri memimpin spd industri spd motor kita yg sampai 6,5 
juta unit per tahun  dan ke-3 terbesar dunia …….yg kenapa ia hrs seluruhnya 
diproses hanya disepanjang koridor Cikampek-Krawang- Bekasi  …..dan bukannya 
1/8 bagiannya saja misalnya disuruh memproses di calon countermagnet city di 
KTI misalnya .....yg dgn itu akan menumbuhkan dampak2 ganda yg luas diberbagai 
sektor ..dan pd saatnya akan dpt mempengaruhi arus migrasi dan urbanisasi yg 
menyerbu Jabodetabek
.......salam, 

aby 

  

  
 











      

Kirim email ke