Kalau mau menelusuri kota2 sungai agak berbeda dengan menelusuri kota2 pantai 
yang mungkin laju pertumbuhannya kota2 pantai lebih tinggi. Ada tiga 
transportasi yg terkumpul di kota2 pantai yang berkembang yaitu transportasi 
darat, sungai dan laut. Kalau mau sederhana, lihat saja satu wilayah aliran 
sungai mulai dari hulu sampai hilir seperti S Citarum mulai dari hulu ada desa 
Kertamah, Kota Pangalengan (IKKc), Banjaran (IKKc), Bandung (IKP), Purwakarta 
(IKK), Kerawang (IKK), Cilamaya (IKKc). Sebelum trans darat medominanasi moda 
pergerakan barang dan orang, permukiman2 tsb sama pentingnya dalam WAS Citarum. 
Tetapi mengapa Cilamaya itu tdk tumbuh sebagai pelabuhan yg mendororng 
percepatan perkembangan kota seperti di S Ciliwung ada Batavia ?. Yaa menarik 
untuk di-dokumentasikan dan mulai menyusun kota2 mana yg akan 
disayembarakan.... 

--- On Wed, 18/8/10, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Kota Sungai Besar
To: [email protected]
Date: Wednesday, 18 August, 2010, 8:17 PM







 



  


    
      
      
      












Kota2 lainnya:

Kuala Kapuas, Pulang Pisau, Palangka Raya. - S. Kahayan
Sampit - S. Sampit
Pangkalan Bun - S. Katingan
Ketapang - S. Ketapang.
Sanggau, Sintang, Putus Sibau - S. Kapuas.
Solo - Bengawan Solo (Riwayatmu dulu)
Jakarta - Ciliwung.
Karawang - S. Citarum
Tembilahan, Rengat, Teluk Kuantan - S. Inderagiri.Powered by Telkomsel 
BlackBerry®From:  - ekadj <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Wed, 18 Aug 2010 21:02:46 +0700To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: [referensi] Kota Sungai Besar

 



    
      
      
      Pak ATA dan Referensiers ysh.
Memahami pemikiran Pak ATA, kota-kota sungai kita sudah saatnya diunggulkan 
melalui kreasi pembangunan kota. Saya ingin mendata kota-kota sungai (besar) 
kita, di antaranya bisa dilintasi perahu ukuran sedang, melalui memori 
rekan-rekan :

1. Pekanbaru - Sungai Siak
2. Jambi - Sungai Batanghari
3. Palembang - Sungai Musi
4. Pontianak - Sungai Kapuas
5. Banjarmasin - Sungai Martapura dan Barito
6. Samarinda - Sungai Mahakam
7. ...
8. ...
 
Mohon partisipasi rekan-rekan. Salam.
 
-ekadj

2010/8/18 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>


  



Pak Uton, Pak Deni, Pak Ekadj, dan referensier ysh, 


Saya sangat mendukung apabila kota perairan, kota pantai dan kota kepulauan 
dikembangkan sebagai salah satu bahan kajian utama (unggulan) pengembangan 
wilayah dan perkotaan di negara kepulauan Indonesia ini. Pengembangan pemikiran 
dan gagasannya dapat saja melalui berbagai sayembara, mulai dengan 
sepotong-sepotong namun mendalam, kemudian dilanjutkan dengan kawasan yang 
lebih luas. 



Mengenang perasaan kami waktu menelusuri "Venesia" sungai Martapura dan 
permukiman terapung dan di atas air Mentuil dan Bajo di Wakatobi, saya jadi 
teringat kepada berbagai contoh-contoh pengembangan kawasan perairan di 
berbagai bagian dunia ini. Berbagai cara pengolahan tepi sungai di salah satu 
bagian tepi sungai kota Brisbane, Melbourne, pesisir Singapura , bahkan 
kota-kota baru di China dan banyak tepi sungai dan pantai kota lainnya dapat 
menjadi contohnya. Wisata sungai yang dikombinasikan dengan pengolahan di 
sekitar pintu-pintu air di kota-kota sekitar Reading atau jalur air di 
Cambridge (UK) ataupun sungai (ex-sungai kumuh & highway) di Seoul ataupun 
alur-alur air di kota-kota Jepang juga merupakan contoh kemungkinan peningkatan 
kualitas dan sumber wisata lingkungan buatan yang memanfaatkan perairan sebagai 
bagian dari "jualan" suatu kota. 



Daya tarik tersebut tentu mampu mengundang lahirnya kegiatan ekonomi kota 
seperti yang diidam-idamkan Eyang Aby selama ini. Walaupun tidak melalui 
pembidanan Metropolitan atau counter magnet baru, pengembangan potensi unggulan 
di setiap daerah/kota secara incremental atau peacemeal mungkin lebih 
tertangani untuk membantu pengembangan mereka. Dengan sayembara-sayembara 
tersebut, dibantu media masa, perubahan cara pandang para "penggemar (kalau 
kata "pakar" tidak cocok) aspek keruangan" maupun penentu kebijakan pusat 
hingga daerah mungkin dapat lebih berkembang dan terbuka. Dengan meningkatnya 
alternatif pengembangan kawasan yang tadinya hampir dijadikan "daerah belakang" 
tersebut, maupun "blow up" berbagai pelaksanaannya di Indonesia selama ini, 
walaupun masih sepotong-sepotong tersebut, selain merupabah pola pikir dan tata 
nilai warga kota setempat maupun yang di daerah serupa juga dapat melahirkan 
peluang berkembangnya berbagai gagasan baru penerapan
 iptek serta daya tarik investasi bagi pengembang lokal maupun luar untuk 
merubah strategi penanaman modal dan merealisasikan.           



Saya percaya bahwa selain pemikiran kreatif, berbagai realisasi gagasan 
tersebut di berbagai bidang yang sedang ditangani para rekans sekalian akan 
mampu secara akumulatif merealisasikan terwujudnya ruang-ruang peralihan dan 
interaksi tanah dan air yang lebih kaya, berkualitas, produktif dan bermanfaat 
bagi generasi kini maupun mendatang. Dalam suasana merayakan hari proklamasi 
merdekanya tanah-air ini semoga kemerdekaan berkreasi ini juga membawa 
kesejahteraan bagi mereka yang berkehidupan di sekitar daratan maupun perairan 
negara kepulauan ini.



Merdeka.....


ATA    



    
     

    










    
     

    
    


 



  





Kirim email ke