Rekans ysh,

List sungai dan kota yang dilewati merupakan awal identifikasi peluang dan
permasalahan pengembangannya.

Tahap berikutnya adalah menelusuri karakteristik peluang dan masalah yang
terkait dengannya, dari aspek alami dan buatan manusia, baik yang berupa
risiko (dampak negatif bahkan bencana bila diabaikan, maupun peluang positif
bila diantisipasi sebelumnya) maupun manfaat lebih bila dikembangkan secara
lebih arif pula (lingkungan perubahan alam maupun peningkatan kualitas
budaya manusia). Contoh dan pengalaman dari bagian dunia lain perlu dikaji
peluang pengelolaannya. Penemuan dan perkembangan baru dalam IpTek dapat
merupakan peluang menghadapi tantangan yang dapat dihadapi. Temuan serta
konsekuensi pengembangan dan pengelolaannya perlu dikembangkan juga bersama
perkembangan kultur masayarakat yang terkait dengannya.

Tidak semua sungai besar berpotensi positif, tidak semua sungai kecil
terbatas peluang pengembangannya. Selain kajian dari sisi cakupan DAS, juga
kesatuan sistem sungai dan kebijakan pengelolaannya dari hulu hingga muara
dan pesisir sekitarnya serta perkembangan di daratan dan iklim yang berpen
garuh setempat harus menjadi dasar pengembangan oleh pengelola kawasan
setempat.

Dari kajian tersebut akan diperoleh bukan saja peluang pengembangannya namun
juga tinjauan kembali kepada pakem lama yang semula masih berlaku, misalnya
apakah garis sempadan (daratan tepian) sungai dan pantai merupakan ketentuan
baku diseluruh Indonesia atau tergantung lokasi dan perkembangan peluang
iptek dan manajemen setempat dan antar tempat untuk mengelolanya. Apakah
sebaliknya garis sempadan perairan terhadap garis pangkal sungai atau pantai
perlu mulai dikembangkan, sesuai dengan perkembangan fungsi dan penyesuaian
terhadap risiko dan manfaat pengembangannya sesuai perkembangan iptek dan
kearifan lingkungan serta kemampuan pengelolaan oleh pemangku kepentingan
setempat dan sekitarnya.

Dalam hal tersebut sebelumnya, konsep dan acuan "garis sempadan" dapat
berkembang karena fungsi sesungguhnya suatu sempadan adalah kesepakatan yang
dibuat berdasarkan perkembangan alam dan iptek dalam suatu waktu-ruang
tertentu demi "keselamatan dan kesejahteraan manusia" yang berpeluang
dipengaruhi oleh perubahan perilaku alam tertentu.  Jadi penentuan sempadan
tersebut bukan demi "keamanan sungai" karena semua unsur alam selalu berubah
dan berkembang dalam setiap waktu-ruangnya sesuai hukum alam. Sedangkan
jenis dan tingkat risiko pemanfaatan alam terhadap manusia dipengaruhi oleh
jenis dan tingkat risiko perkembangan dan kearifan pemanfaatan iptek dalam
proses pemanfaatan tersebut.

Masih banyak PR yang perlu kita susun bersama dari setiap sektor ataupun
posisi kita berada.
Selamat mengembangkan.

ATA

2010/8/18 muhammad koeswadi <[email protected]>

>
>
> Mas Eka, sekedar ikut nambahi (barangkali bener)...
> 7. Bengawan Solo Jateng
> 8. Kali Brantas Jatim
> 9. Cisadane - Jabar/Banten
> 10. S.Landak Kalbar
> 11. S Mempawah - Kalbar
> 12. S. Serayu - Jateng
> 13. Sungai macam2 di Kalimantan yg mana penduduk asli dan pendatang
> (Madura, Banjar) memanfaatkannya dari dulu hingga sekarang.
>
> Dalam skala pendek (kecil/sempit/dangkal) banyak sungai telah digunakan
> membentuk peradaban. Tambahan, sungai2 di P.Jawa disebutkan memiliki ciri:
> 1. sebagai sungai yang pendek-pendek (jarak antara hulu hingga muara). 2.
> sebagai sungai yang volume airnya tidak ajeg (intermiten? atau apa...maaf
> lupa). Maksudnya pada musim hujan deras dan mbludag, sebaliknya kering
> (umprik) dan agak jernih. Barang kali karakter ini juga perlu disimak.
> Mungkin yang perlu (selanjutnya) memberi batasan kepada: sungai (fisik),
> sebaran pemukiman, budaya, dst...guna mempersiskan pendataannya...makasih,
> selamat mencoba. bravo. Salam, Koes.
>
>
>
> --- On *Wed, 18/8/10, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: - ekadj <[email protected]>
> Subject: [referensi] Kota Sungai Besar
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, 18 August, 2010, 21:02
>
>
>
>  Pak ATA dan Referensiers ysh.
> Memahami pemikiran Pak ATA, kota-kota sungai kita sudah saatnya diunggulkan
> melalui kreasi pembangunan kota. Saya ingin mendata kota-kota sungai (besar)
> kita, di antaranya bisa dilintasi perahu ukuran sedang, melalui memori
> rekan-rekan :
> 1. Pekanbaru - Sungai Siak
> 2. Jambi - Sungai Batanghari
> 3. Palembang - Sungai Musi
> 4. Pontianak - Sungai Kapuas
> 5. Banjarmasin - Sungai Martapura dan Barito
> 6. Samarinda - Sungai Mahakam
> 7. ...
> 8. ...
>
> Mohon partisipasi rekan-rekan. Salam.
>
> -ekadj
> 2010/8/18 abimanyu takdir alamsyah 
> <[email protected]<http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >
>
>
>  Pak Uton, Pak Deni, Pak Ekadj, dan referensier ysh,
>
> Saya sangat mendukung apabila kota perairan, kota pantai dan kota kepulauan
> dikembangkan sebagai salah satu bahan kajian utama (unggulan) pengembangan
> wilayah dan perkotaan di negara kepulauan Indonesia ini. Pengembangan
> pemikiran dan gagasannya dapat saja melalui berbagai sayembara, mulai dengan
> sepotong-sepotong namun mendalam, kemudian dilanjutkan dengan kawasan yang
> lebih luas.
>
> Mengenang perasaan kami waktu menelusuri "Venesia" sungai Martapura dan
> permukiman terapung dan di atas air Mentuil dan Bajo di Wakatobi, saya jadi
> teringat kepada berbagai contoh-contoh pengembangan kawasan perairan di
> berbagai bagian dunia ini. Berbagai cara pengolahan tepi sungai di salah
> satu bagian tepi sungai kota Brisbane, Melbourne, pesisir Singapura , bahkan
> kota-kota baru di China dan banyak tepi sungai dan pantai kota lainnya dapat
> menjadi contohnya. Wisata sungai yang dikombinasikan dengan pengolahan di
> sekitar pintu-pintu air di kota-kota sekitar Reading atau jalur air di
> Cambridge (UK) ataupun sungai (ex-sungai kumuh & highway) di Seoul ataupun
> alur-alur air di kota-kota Jepang juga merupakan contoh kemungkinan
> peningkatan kualitas dan sumber wisata lingkungan buatan yang memanfaatkan
> perairan sebagai bagian dari "jualan" suatu kota.
>
> Daya tarik tersebut tentu mampu mengundang lahirnya kegiatan ekonomi kota
> seperti yang diidam-idamkan Eyang Aby selama ini. Walaupun tidak melalui
> pembidanan Metropolitan atau counter magnet baru, pengembangan potensi
> unggulan di setiap daerah/kota secara incremental atau peacemeal mungkin
> lebih tertangani untuk membantu pengembangan mereka. Dengan
> sayembara-sayembara tersebut, dibantu media masa, perubahan cara pandang
> para "penggemar (kalau kata "pakar" tidak cocok) aspek keruangan" maupun
> penentu kebijakan pusat hingga daerah mungkin dapat lebih berkembang dan
> terbuka. Dengan meningkatnya alternatif pengembangan kawasan yang tadinya
> hampir dijadikan "daerah belakang" tersebut, maupun "blow up" berbagai
> pelaksanaannya di Indonesia selama ini, walaupun masih sepotong-sepotong
> tersebut, selain merupabah pola pikir dan tata nilai warga kota setempat
> maupun yang di daerah serupa juga dapat melahirkan peluang berkembangnya
> berbagai gagasan baru penerapan iptek serta daya tarik investasi bagi
> pengembang lokal maupun luar untuk merubah strategi penanaman modal dan
> merealisasikan.
>
> Saya percaya bahwa selain pemikiran kreatif, berbagai realisasi gagasan
> tersebut di berbagai bidang yang sedang ditangani para rekans sekalian akan
> mampu secara akumulatif merealisasikan terwujudnya ruang-ruang peralihan dan
> interaksi tanah dan air yang lebih kaya, berkualitas, produktif dan
> bermanfaat bagi generasi kini maupun mendatang. Dalam suasana merayakan hari
> proklamasi merdekanya tanah-air ini semoga kemerdekaan berkreasi ini juga
> membawa kesejahteraan bagi mereka yang berkehidupan di sekitar daratan
> maupun perairan negara kepulauan ini.
>
> Merdeka.....
>
> ATA
>
>
>  
>

Kirim email ke