Mas Laks dan sahabat lainnya yb.,

Terima kasih atas 'bacaannya'. Wah, jadi malu nih 'ketangkap tangan' begini. 
Hehehe...

Ya, mungkin ini resiko 'orang kemaruk' yang harus saya tanggung. Tetapi ya 
nggak apa-apa juga. Toh, seperti Mas Laks bilang, betapa pun ada hubungan 
kausalitas di antara keduanya (prolog yang berwujud data politik-ekonomi, 
dengan pertanyaan tentang paradigma itu).

Percayalah, saya sadar sedar-sadarnya, tidak ada niat secuilpun untuk melakukan 
'pelengsengan' itu. Jika memang terkesan demikian, karena saya memang ingin 
masuk (juga) pada hubungan kausalitas itu.

Mengapa hal itu penting dilakukan? Setidaknya ada dua alasan untuk itu: (1) ada 
sementara pihak yang tegas-tegas memisahkan kedua hal itu, atau malah hanya 
mengakui eksistensi salah satu di antara keduanya; dan (2) tidak nyambungnya 
paham yang dianut dengan tindakan yang diambil, seperti yang terjadi dalam 
kasus -- ikut-ikutan mohon maaf agar nggak kualat -- seperti yang terjadi dalam 
kasus Eyang Kakung (saya sudah berusaha mencari contoh lain, namun tidak/belum 
ketemu tokoh yang sepenting Pak Koen ini). Lari dari kenyataan terobservasi dan 
bergenit ria dengan teori dan metodologi, karena aman tentram tanpa perlawanan, 
mudah-mudahan bukan tabiat saya.

Kesan 'plengsengan'  menjadi tidak terhindari, boleh jadi, karena keinginan 
saya mendapatkan tanggapan balik baik pada tataran 'data politik-ekonomi' dan 
'paradigmatik' secara sekaligus.

Upaya yang seperti itu, sejauh ini, ternyata memang kurang berhasil. Salah arah 
untuk tidak mengatakannya penghindaran menjadi sangat mudah dilakukan. Maka, 
kecurigaan mas Laks menjadi dapat saya dipahami akhirnya. Nyatanya, sejauh ini, 
tanggapan balik atas posting awal saya ini memang lebih banyak berada di domain 
paradigma ketimbang data terobservasinya sendiri.

Tetapi, ya tak apa pula. Bagi saya, apapun itu, tetap sangat-sangat berharga, 
karena, seperti mas Laks bilang juga, sangat-sangat mencerdaskan. Mudah-mudahan 
kedepan kita memperoleh tanggapan pada tataran data-data terobservasi itu. Dan 
itu, secara empirik, akan 'tidak tentram', 'berpihak', dan akan 'penuh 
perlawanan'.

Salam,
ryz

  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, August 20, 2010 8:45 AM
  Subject: Re: Fw: [referensi] Re: [IKA-UI] Bahaya sebuah paradigma bagi Papua


    
  >
  Numpang nimbrung kerabat,
  Diskusi ini sungguh menggoda dan mencerdaskan. Geertz bilang kerja
  antropolog itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh pada paa
  informannya. Prasyarat ini telah dipenuhi dalam wacana yang dikembangkan
  di sini. Kalau alur ini diikuti, maka saya jamin antropologi Indonesia
  akan memperluas wacana (etnografi) yang mencerdaskan dan revolusioner.
  Coba simak pertanyaan bung Yando ini secara biasa-biasa sebelum masuk ke
  urusan paradigma.

  "Nah, jika perubahan itu memang datang bertubi-tubi dan dipaksakan pula,
  salahkah mereka berusaha untuk 'melarikan diri'? Lalu, mengapa pula
  pelarian itu (baca: menentang pergantian dan pergolakan zaman yang
  berwujud gerakan-kebatinan, cargo cult) dituduh sebagai hambatan mental
  pula? Bukan kah ini namanya 'sudahlah jatuh kau timpakan tangga pula'?"

  Coba kita renungkan pertanyaan macam mana ini ...salahkah mereka berusaha
  untuk 'membela diri'? Apa otoritas kita bertanya seperti ini? Pemihakan
  pada "mereka" (the other)? Kalau ya, apakah pemihakan itu sempurna? Atau
  sebaliknya, berlagak memihak mereka, tetapi sebenarnya memihak diri
  sendiri? Siapa yang akan lebih sukses (secara politik) dengan pertanyaan
  seperti itu? Si antropolog dengan segenap agenda (akademik) yang
  disandangnya, atau mereka (orang Papua) ataukah justeru para pemaksa
  perubahannya?
  Kemudian dua pertanyaan berikutnya ..mengapa...dituduh sebagai hambatan
  mental? Pertanyaan ini menarik karena mempertanyakan kepatutan otoritas
  antropolog memberi judgement dari sisi mental (psikologi) pada hal
  disiplinnya budaya dan data yang digunakan pun data etnografis darip[ada
  psikologis. Sedang pertanyaan ...Bukankah ini...jatuh...kau timpakan
  tangga pula? Jelas pertanyaan ini provokatif kepada kita (pembaca) yang
  kurang melihat posisi "mereka" sebagai korban. Persis di sinilah kkritik
  sepanjang masa yang dihadapi antropologi. Sejauh manakah antropolog dapat
  mengidentifikasikan diri pada mereka (korban) sementara mungkin sekali di
  antara mereka sang korban juga ada yang sama dengan "kita" yang tidak
  /kurang melihat posisi korban itu. Di sininal sisi penting secara mendalam
  kita bicara perkara identitas dan pentingnya memilih perspektif untuk
  mengenali apa itu identitas. Sekedar untuk memperpendek perkara, maka
  menilik dari pertanyaan-pertanyaan itu, maka pilihannya adalah perspektif
  antropologi sebagai bagian gerakan sosial, perspektif perlawanan sehingga
  identitas antropolog itu sendiri pun berisi perlawan bahkan pada dirinya
  sendiri.

  Hampir 4 dasa warsa berlalu. Rasanya kehidupan 'wong cilik'
  Papua masih
  'begitu-begitu' saja, untuk tidak mengatakan lebih buruk dari masa
  sebelumnya. Yang katanya 'pembangunan' itu tak kunjung menjadi bagian
  utama gerak kehidupan penghuni asli. Dari ini prolog dan pertanyaan bung
  Yando menarik disimak.

  "Yang terjadi malah sebaliknya: komposisi demografi telah
  berubah secara radikal. Porsi pendatang dan penghuni asli saat
  ini sudah fifty-fifty.Bahkan pendatang sudah lebih banyak, meski
  baru 1 dijit. Sepuluh tahun ke depan, diduga, dengan
  beroperasinya proyek pembangunan skala gajah semacam Merauke
  Food and Energy Estate alias MIFFE, kita akan hanya menemukan 1
  orang Papua di antara 9 pendatang lain. 'Gertakan' bahwa di
  Papua tengahterjadi slow motion genocide menjadi bukan isapan
  jempol lagi.
  Nah, bukankah ini berakar dari sebuah paradigma, yang harus dilawan dengan
  paradigma yang sebaliknya?"

  Antara prolog dan pertanyaan sangat mungkin dipertanyakan apa hubungannya?
  Katakanlah fakta yang disebut sebelum pertanyaan benar bisa begitu, tetapi
  apakah judmentnya (pengakar-akarannya) tepat? Fakta itu urusan
  politik-ekonomi ataukah urusan paradigma? Katakan bisa keduanya karena
  hubungan kausalitasnya, maka kenapa (dalam pretensi pemihakannya pada
  mereka) pertanyaan justeru lari ke urusan paradigma? Bukankan
  "plengsengan" macam ini bagian dari tabiat kita lari dari kenyataan
  terobervasi menuju domain teori dan metodologi (akademik) yang aman
  tenteram tanpa perlawanan?

  Makasih dan bravo antropologi,
  PM Laksono

  FYI. Sekedar menyebarangkan informasi. Maaf jika terjadi penerimaan ganda.
  >
  > salam,
  > ryz
  >
  > ----- Original Message -----
  > From: Djarot Purbadi
  > To: [email protected]
  > Sent: Thursday, August 19, 2010 8:52 PM
  > Subject: Re: [referensi] Re: [IKA-UI] Bahaya sebuah paradigma bagi Papua
  >
  >
  >
  > Pak Yando dan sahabats,
  >
  > Aku jadi ingat sekarang, bahwa sekitar tahun 1990 Eyang Kakung
  > pernah tampil dalam seminar di arsitektur atmajaya dan kebetulan
  > saya yang mendampingi beliau menjadi moderator sesinya. Sejauh aku
  > ingat, baru pertama kali itulah kami arsitektur atmajaya kontak
  > langsung dengan Mbahnya antropologi di Indonesia. Aku dipilih
  > menjadi moderator beliau karena waktu itu bertugas mengajar mata
  > kuliah "Apresiasi Budaya', yaitu yang melihat arsitektur dalam
  > konteks kebudayaan. Tugasku adalah memberi wawasan kepada mahasiswa
  > tentang kacamata atau paradigma kebudayaan dalam memandang
  > arsitektur. Lainnya, karena dalam mata kuliah itu aku menggunakan
  > referensi buku yang ditulis beliau.
  >
  > Sekarang mata kuliah "Apresiasi Budaya" sudah tidak ada, tetapi
  > diganti dengan "Apresiasi Arsitektur" yang setahuku cenderung
  > melihat arsitektur dari kacamata estetika dengan sedikit unsur
  > kebudayaannya. Tentu ini berbeda dengan mata kuliah sebelumnya, yang
  > aku posisikan mahasiswa arsitektur mencoba melihat dari sisi atau
  > dengan kacamata kebudayaan (antropologi). Aku sebenarnya
  > menyayangkan perubahan ini, sebab arusnya ke arah arsitektur untuk
  > arsitektur semata, kurang menggali peranan nilai kemanusiaan
  > (budaya) di dalam cara pandang mahasiswa/alumni atmajaya. Jadi
  > wacana yang menang adalah arsitektur untuk arsitektur !!!
  >
  > Sayang menurut aku, tetapi masih ada jalan lain untuk memberi
  > wawasan budaya kepada mahasiswa/alumni dengan cara yang lebih nyata,
  > misalnya dengan perbuatanku yang aku lakukan sampai sekarang:
  > menulis disertasi tentang desa Kaenbaun dan tulisan lain. Menurut
  > aku, tidak usah mati-matian memperjuangkan pakling mata kuliah,
  > lebih baik mengelola kapling ilmu yang lebih mendasar dan abadi, dan
  > itu yang aku lakukan. Ya supaya mahasiswa/alumni tidak hanya
  > mengalami di kampus, melainkan lebih mengalami di dunia nyata, bahwa
  > kacamata antropologi (dan fenomenologi tentunya) seperti itu
  > hasilnya.... hehehehhee....
  >
  > Salam,
  >
  > Djarot Purbadi
  >
  > --- On Thu, 8/19/10, R. Y. Zakaria <[email protected]> wrote:
  >
  >
  > From: R. Y. Zakaria <[email protected]>
  > Subject: [referensi] Re: [IKA-UI] Bahaya sebuah paradigma bagi
  > Papua
  > To: [email protected]
  > Cc: [email protected]
  > Date: Thursday, August 19, 2010, 3:47 PM
  >
  >
  >
  > 
  >
  > Mas Heddy dan Idham yb.,
  >
  > Trims atas responnya. Memang begitulah yang saya maksudkan.


  .
   
  

Kirim email ke