>
>   Pak BTS dan Sahabat Referensiers,
>

Sedikit tambahan informasi tentang Pendapatan Nasional (National Income)
yang lazim digunakan sebagai indikator makro seperti Produk Domestik
Bruto (PDB) = Gross Domestic Product (GDP), dan Produk National Bruto (PNB)
= Gross National Product (GNP).

PDB  atau GDP adalah pendapatan yang diperoleh seluruh
faktor-faktor produksi (tenaga kerja, modal, tanah, enterpreneurship) pada
suatu wilayah dan waktu (tahun, kuartal,  semester, dst) tertentu. PDB
Indonesia tahun 2009 (current price) adalah sekitar Rp 5600 triliun, yang
dihasilkan oleh faktor produksi warga negara Indonesia dan asing di wilayah
yurisdiksi Indonesia.

PNB atau GNP adalah pendapatan faktor-faktor produksi berdasarkan
"warganegara"--> GNP = GDP - Net Factor Income from abroad.

"Net factor income from abroad"  adalah selisih antara pendapatan faktor
produksi WNI di luar negeri (al. pendapatan TKI dan perusaan Indonesia di
LN) dengan pendapatan WNA di Indonesia (dalam negeri).

Karena pendapatan faktor produksi WNI di LN lebih kecil dari pendapatan WNA
di DN, maka net faktor income from abroad Indonesia negatif. Makanya GNP
Indonesia lebih kecil dari GDP. Secara politis, Indonesia lebih suka gunakan
GDP, sementara AS cenderung gunakan GNP karena lebih tinggi dibandingkan
GDP.

Beberapa tahun lalu, negative net factor income from abroad cukup
tinggi, antara lain disebabkan defisit pada sektor jasa angkutan laut,
karena hampir 70% angkutan ekspor kita gunakan kapal asing. Di sinilah
muncul Inpres 5/2005 Tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional,
mempertegas azas cabotage, penyediaan kredit perbankan untuk usaha pelayaran
nasional, prioritas angkutan sawit, batubara, dll  untuk kapal berbendera
Indonesia, dll.

Kalau tidak ada TKI, defisit transaksi jasa kita mungkin akan jauh lebih
tinggi --> GNP lebih kecil. Jadi TKI ini benar-benar pahlawan devisa,
walaupun diperoleh dengan tangis dan air mata.

Ya Allah lindungilah, sayangilah mereka setibanya kembali ke Indonesia..
betapa besar jasa mereka... bukan hanya devisa, tetapi juga telah
mereduksi gejolak sosial.

Salam hangat di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke