Rekan2 ysh,
bagaimana menjelaskan fenomena 'kluster' industri property,seperti kawasan 
serpong yg dulu tempat jin buang anak (thn 1985 harga tanah dipinggir jalan 
utama 10R/m2) sekarang bisa jual tanah perumahannya  4jt/m2 dan menjual produk 
property total sekitar 5 triliun/thn...atau kelapa gading yg bisa menjual lahan 
perumahan 20jt/m2...tapi disisi lain ada proyek superblok Jakarta City 
Center(JCC) yg dibangun pengembang properti komersial terbesar agung podomoro 
dilokasi terbaik (dibelakang htl indonesia,dekat dg psr tnh abang) namun 
ternyata dr kiosk2 yg disediakan ribuan toko kosong melompong?...
Saya pribadi percaya 'pengertian lokasi yg baik' sdh sangat kompleks,ada krn 
infra/fas,ada akses,ada  unsur artifisal/ ada yg dr sononya,ada citra,ada 
promosi,ada akumulasi investasi yg besar,ada fengshui,dll.
Yg pasti semua ini perlu dipahami juga oleh para urban planner dlm melakukan 
zonasi ruang, bahwa selain land capabilty,land suitability,kajian lingkungan 
hidup strategis,juga perlu memahami value of land spt kata uda Eka..
Salam
Hari ganie
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: - ekadj <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 30 Aug 2010 03:34:31 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: Revitalisasi Kluster Industri

Pak Nuzul dan rekan2 ysh.
Menarik pak menelaah kembali teori lokasi, kebetulan kita punya banyak rekan
yang mendalami hal itu di milis ini. Satu kritik pernah juga disampaikan
dulu <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1862>. Berhubung
sekarang kita sudah lumayan komplit, termasuk juga ada beberapa alumni
Cornell, mudah-mudahan dapat menanggapi Paris yang dkk-nya juga sudah
banyak.
Beberapa penelaahan saya, teori lokasi tersebut umum terbentuk untuk kondisi
kontinental, termasuk Eropah, US, dan China. Untuk Indonesia, perlu
modifikasi dalam formasi geografis yang terbatas. Saya kira Hindia-Belanda
doeloe sudah banyak melakukan eksperimen, hanya perlu reinventing
paradigmanya, menjadi pola atau teori baroe.
Sekarang kelihatannya faktor lokasi diutamakan 'keunggulan lokasi'nya, dan
kalau sudah bicara 'keunggulan' maka berarti 'artifisial', selanjutnya
adalah kapital dan citra. Itu paradigma yang berkembang sekarang, dan
berjangkit di seluruh dunia.
Kalau Jepang saya kira juga meninggalkan teori lokasi, jadi mereka bermain
di '(land) value', dan sangat artifisial. Mudah-mudahan Tokyo mau
menjelaskan.
Kita tunggu tanggapan rekan-rekan. Salam.

-ekadj
2010/8/29 Nuzul Achjar <[email protected]>

>
>
> Sahabat Referensiers Ysh,
>
> Kembali kepada diskusi tentang pergeseran paradigma, konsep Weber yang
> dikenal dalam teori lokasi (klasik) tentang keseimbangan antara lokasi
> sumber daya alam, pasar dan lokasi proses industri sudah tidak mampu
> menjelaskan fenomena kekinian tentang lokasi kegiatan industri ataupun
> kegiatan ekonomi lainnya.
>
> Fenomena munculnya klaster industri kulit dan sepatu di Tuscany
> (Italia) yang sangat fenomenal boleh dikatakan tidak dapat dijelaskan
> dengan pendekatan Weberian. Fenomena klaster industri sepatu dan kulit
> di Italia kemudian melahirkan istilah "Marshallian Industrial
> District" karena faktor "localization economies", yaitu terciptanya
> skala ekonomis produksi karena berkumpulnya industri yang sama. Pada
> era Weber, lokasi industri mencari atau mendekati faktor-faktor
> produksi - yang bagi paham "Marshallian bukanlah sebagai faktor utama.
>
> Pendekatan atau paradigma Weberian (pendekatan "post positivism")
> dalam perencanaan yang telah disinggung di atas hanyalah sebagai
> jembatan atau pemicu untuk menelurusi perkembangan paradigma dan teori
> dalam perencanaan yang kebetulan menjadi topik hangat di milis ini.
> Misalnya saja, apakah konsep Tata Ruang yang menjadi trade mark
> perencanaan di Indonesia adalah sebuah paradigma? Jika menjadi
> paradigma, dimanakah posisinya dalam "Procedural Planning Theory" nya
> Faludi, salah seorang teoretikus perencanaan terkemuka.
>
> Wassalam,
>
> Nuzul Achjar
> 
>

Kirim email ke