Ha ha ha pak BTS ini planner kali. Salah satu pengurang terjadinya tawuran 
memang dr design kampusnya. Tapi yg korelasinya kuat adalah dr kecerdasan 
intelektual, emosional dan spiritualnya. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 6 Sep 2010 05:38:47 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara

Pak Eka,perlu juga diteliti penataan ruang kampus ITB, UI, IPB, UGM,...koq 
nggak pernah tawuran? Bandingkan dengan kampus di Grogol,... apakah betul ada 
korelasi?
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Ming, 5/9/10, - ekadj <[email protected]> menulis:


Dari: - ekadj <[email protected]>
Judul: Re: [referensi] simbol ibukota negara
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 5 September, 2010, 5:06 PM


  




Referensiers ysh. Belum lama ini saya sempat melakukan penelitian kecil 
mengenai pola interaksi mahasiswa di sebuah PTS bilangan Grogol. Ada tradisi 
mahasiswa tahunan yaitu tawuran, namun sejak 3 tahun terakhir ini tradisi itu 
menghilang.
Saya mengamati adanya pengaruh pembangunan gedung baru dan penataan kawasan 
kampus, yang mempengaruhi pola interaksi mahasiswa ini, sehingga friksi antar 
mahasiswa menjadi tereduksi. Satu kesimpulan yang saya hasilkan: penataan ruang 
yang tepat mampu mempengaruhi pola interaksi manusia di dalamnya.
Bagi yang berminat dengan artikel penelitian ini, dapat menghubungi saya via 
japri.
Salam.
 
-ekadj
 
2010/9/5 Djarot Purbadi <[email protected]>


  







Dear Sahabats,

Menurut saya, Jakarta kita masalalukan dalam pikiran sebenarnya menunjukkan 
bahwa segala sesuatu masih berpusat di Jakarta atau Jawa, maka ini juga 
mengindikasikan pembangunan kita masih saja terpusat di Jakarta dan Jawa. 
Indikasi lain, nyuwun sewu dan nyuwun duka sebab harus jujur, jika persoalan 
mudik masih menjadi masalah nasional juga menunjukkan kesejahteraan yang adil 
belum merata di negeri kita. Orang boleh bangga tentang fenomena mudik ini, 
tetapi pada sisi lain (yang perlu kita lihat secara kritis dan jernih) ada 
model matematis yang menunjukkan ketimpangan struktural pusat-daerah yang tidak 
pernah ditangani secara mendasar !!! Jadi, kita masih jalan di tempat. 
Idealnya, orang tidak perlu mudik massal karena mudah mendapatkan pekerjaan di 
dekat rumahnya. Ini bisa karena faktanya magnit Jakarta begitu kuat, juga 
karena persepsi orang jika ke Jakarta adalah hebat. 

Teman saya Agusmie orang Wonosari, tinggal di dekat perumahan-perumahan Jogja 
dan merasa cukup karena ya memang hanya bisa bakul mie, maka dia memutuskan 
tidak pelu migrasi ke Jakarta (bisa dibaca di 
http://eloknogotirto.wordpress.com). Ada mindset dari generasi ke generasi yang 
mengagungkan Jakarta, sehingga sebelum lulus studi pun Jakarta sudah ada dalam 
benaknya, Kenapa tidak punya angan-angan bekerja di Jayapura, Merauke, 
Manokwari, Manado, Pontianak atau tempat lain yang jauh karena di sana juga 
masih Indonesia ? ya karena di sana-sana tidak ada daya tariknya, mau cari 
penyakit (malaria) atau setor nyawa karena tidak aman !!!

Maaf ini pendapat saya, orang yang lahir di Jogja, sekolah di Jogja, bekerja di 
Jogja, jadi ya sempit pandangannya... meskipun saya pernah tinggal di Biak 
selama 2 tahun dan riset di Timor sekitar 6 minggu tidak urut waktunya.... 


Salam,

Djarot Purbadi
(Neon Kaenbaun)

--- On Sun, 9/5/10, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]> 

Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara
To: [email protected]
Date: Sunday, September 5, 2010, 11:37 AM 





  

Bagus juga Mas Djarot. Saya mau jadi 'dayohnya...'
Kalau niatnya mau buat kerajaan baru..tentu alasan dan ratusan rujukan bisa 
dibuat, disarankan, disuarakan dan diilmiahkan. Yang belum jelas nasib Jakarta 
kemudian (macet panas rusuh rungsep dll), dan takdir kota baru yg mau dicipta. 
Apa nantinya akan menjiplak Jakarta, apa warnanya baru semangat lama, apa beda 
banget. Jangan2 'Beti' wong yg mau mengisi tdk berubah. 
Lha Jakarta, warganya boleh menuntut donk, agar perhatian kepada kotanya tdk 
berkurang...yg invest tidak panik, yg mau invest tdk belok, yg sdh lama jd 
penghuni tdk jd minggir,..perlu kejelasan agak segera tentang 
baik-benar-syahnya nasib IBUkota lama atau stop...dayohnya sgera masuk kalau 
perlu ikut bereskan kloso yg bedah dll...
Barang kali pengelolaan Jakarta sdh mulai uzur beraroma museum dan ternyata 
perlu diswastakan supaya segera mencicil keluhannya...bolehkah? Salam. 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: Djarot Purbadi <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Sun, 5 Sep 2010 10:28:16 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara

  





Dear Sahabats,

Ketika saya renungkan diskusi dengan tema pemindahan ibukota, saya merasa kita 
sudah melihat Jakarta saat ini sebagai monumen masalalu. Pergantian rezim 
selalu ada kecenderungan ingin membangun monumen untuk dirinya sendiri, 
termasuk merusak monumen rezim sebelumnya. Apakah ada yang salah dalam jiwa 
kita sebagai bangsa ??? Kotagede menjadi kota suci bagi kraton Solo dan 
Yogyakarta karena ada tali jiwa dalam silsilah kerajaan masa lalu, maka 
Kotagede masih menyimpan spirit masa lalu bagi kedua kerajaan itu, meskipun 
bukan ibukota lagi. Jakarta kini sudah menjadi masa lalu, ketika kita 
diskusikan, dan ibukota di masa depan juga belum jelas !!!

Kadang aku merenungkan diskusi kita yang antusias itu. Pertanyaanku: apakah 
perilaku ini bukan sebuah langkah aneh, seperti digambarkan dalam lagu Jawa: e 
dayohe teka e, e gelar na klasa e, e klasane bedah e, e tambalen jadah e, e 
jadahe mambu e, e pakakno asu e, e asune turu e, e buwangen kali e, e e e e 
bubar wae e e e

Lagu itu mengandung pesan dan mengingatkan, kita sudah "menyerah" mengatasi 
problema yang dihadapi karena tidak fokus menghadapinya. Ketika ada tamu 
datang, konsentrasi kita ke tikar, dan seterusnya berpindah-pindah, sehingga 
dayohe atau tamunya tetap ada di depan pintu, tidak pernah kita minta dia masuk 
ke rumah....

Salam,

Djarot Purbadi
(Neon Kaenbaun)

--- On Sun, 9/5/10, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] simbol ibukota negara
To: [email protected]
Date: Sunday, September 5, 2010, 12:55 AM


  


Referensiers ysh, sungguh menarik topik (baru) ini. Pertanyaan Bu Nita sungguh 
sangat mendasar: bagaimana nasib 'simbol-simbol' ibukota negara itu? Saya 
tertarik untuk mengulas sedikit, selain pernah mendapat clue dari Pak Wawo.
Formasi dua istana yang saat ini berhadapan dapatkah kira-kira dijelaskan, 
termasuk sebenarnya mencerminkan sistem kenegaraan yang kita anut? Bukankah 
seharusnya Wapres berdampingan dengan Pres? Formasi yang ada sekarang ini 
sepertinya hanya cocok untuk era Orde Lama, ketika Boeng Hatta masih menjadi 
Wapres.
Coba kita pelajari sedikit konsep Putrajaya. Istana PM terletak di ujung 
koridor pada tanah tinggi, sementara di ujung koridor yang satunya adalah 
Convention Center, yang cukup melambangkan obsesi Malaysia untuk menjadi salah 
satu pusat dunia. Kedua titik pembentuk koridor ini masing-masing memiliki 
pemandangan yang sangat luas dan bagus. Saya kira dua titik ini yang menjadi 
simbol dominan Puterajaya. Mudah-mudahan Pak Koes mau mengulas lebih lanjut.
Kembali ke sekitar Lapangan Merdeka, 'tanda' apa kira-kira yang bisa 
menginspirasi Indonesia Jaya?
Untuk pertahanan dan pengamanan internal (+garnizun), untuk asumsi 100 ribu 
warga, diperlukan sekitar 5 pasukan segelar sepapan (divisi), jadi Cilangkap 
belum perlu pindah, dan kita masih madani. Kondisi sekarang: 60-70%(?) kekuatan 
TNI numpuk di Jakarta dsk.
Senang bila Prof Deden sudah mulai mengumpulkan bahan-bahan terkait, 
mudah-mudahan bisa berkolaborasi dengan Pak Wilmar dkk.
Sementara demikian dulu. Salam.
 
-ekadj

2010/9/4 nita <[email protected]>


  



Numpang nimbrung,
Kalau ibukota neg dipindahkan, 2 istana di jl merdeka bagusnya dijadikan apa 
ya???

Ibukota neg pindah, haruskan mabes tni ikut pindah?? 

Salam, 

Nita 








Kirim email ke