sdr Ida, saya kira pola thanksgiving itu juga ada di Eropah Barat sedikitnya di 
Jerman dan Perancis, tinggal lihat di papan pengumuman  siapa yang pulang jarak 
jauh dan mau sharing, cuma sekarang barangkali polanya bisa cukup jauh ke 
Maroko 
atau Turki itu masih dekat. Kalau dulu bisa naik kapal-kapal baru dari Pelni 
yang baru mau ke Indonesia dari Jerman . Ada juga dulu pesawat terbang Hercules 
yang pulang ke Indonesia sehabis di service di US. Well that was a long time 
ago. Apakah mungkin di Australia dan New Zealand juga ada mudik kaya gitu? 






________________________________
From: ida gumelar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, September 6, 2010 11:24:23 AM
Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara

  
Di amerika, mudik waktu thanksgiving ataupun christmas tdk membuat pemerintah 
kalang kabut krn infrastruktur sudah tersedia. 


Untuk yg mau naikpesawat, kalau mau murah, 2 bulan sebelumnya sudah harus beli 
tiket. Atau cari tebengan sesama mahasiswa yg searah (share beli BBM atau 
gantian nyetir).

Kebetulan saya pernah 3 kali thankgiving di amerika dan kebetulan tinggal dg 
orang amerika. 

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________

From:  [email protected] 
Sender:  [email protected] 
Date: Mon, 6 Sep 2010 02:11:13 +0000
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara
  
Pak Jarot yth,
Sedikit berkomentar terkait mudik massal.sy membaca di buku wdr 2009, mudik 
massal juga masih terjadi di amerika.kalo ndak salah terutama pada hari 
thanksgiving, dimana keluarga bisa berkumpul.
Bedanya, mudik masal di sana dipandang sbg pergerakan ekonomi rasional semata, 
sementara di kita, sy menilai, bobot politisnya masih ada.mungkin juga karena 
kondisi sistem infrastrukturnya yg berbeda.
Salam
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________

From:  Bambang Tata Samiadji <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Mon, 6 Sep 2010 05:38:47 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara
  
Pak Eka,perlu juga diteliti penataan ruang kampus ITB, UI, IPB, UGM,...koq 
nggak 
pernah tawuran? Bandingkan dengan kampus di Grogol,... apakah betul ada 
korelasi?
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Ming, 5/9/10, - ekadj <[email protected]> menulis:


>Dari: - ekadj <[email protected]>
>Judul: Re: [referensi] simbol ibukota negara
>Kepada: [email protected]
>Tanggal: Minggu, 5 September, 2010, 5:06 PM
>
>
>  
>Referensiers ysh. Belum lama ini saya sempat melakukan penelitian kecil 
>mengenai 
>pola interaksi mahasiswa di sebuah PTS bilangan Grogol. Ada tradisi 
>mahasiswa tahunan yaitu tawuran, namun sejak 3 tahun terakhir ini tradisi itu 
>menghilang.
>Saya mengamati adanya pengaruh pembangunan gedung baru dan penataan kawasan 
>kampus, yang mempengaruhi pola interaksi mahasiswa ini, sehingga friksi antar 
>mahasiswa menjadi tereduksi. Satu kesimpulan yang saya hasilkan: penataan 
>ruang 
>yang tepat mampu mempengaruhi pola interaksi manusia di dalamnya.
>Bagi yang berminat dengan artikel penelitian ini, dapat menghubungi saya via 
>japri.
>Salam.
> 
>-ekadj
> 
>2010/9/5 Djarot Purbadi <[email protected]>
>
>  
>>Dear Sahabats,
>>
>>Menurut saya, Jakarta kita masalalukan dalam pikiran sebenarnya menunjukkan 
>>bahwa segala sesuatu masih berpusat di Jakarta atau Jawa, maka ini juga 
>>mengindikasikan pembangunan kita masih saja terpusat di Jakarta dan Jawa. 
>>Indikasi lain, nyuwun sewu dan nyuwun duka sebab harus jujur, jika persoalan 
>>mudik masih menjadi masalah nasional juga menunjukkan kesejahteraan yang adil 
>>belum merata di negeri kita. Orang boleh bangga tentang fenomena mudik ini, 
>>tetapi pada sisi lain (yang perlu kita lihat secara kritis dan jernih) ada 
>>model 
>>matematis yang menunjukkan ketimpangan struktural pusat-daerah yang tidak 
>>pernah 
>>ditangani secara mendasar !!! Jadi, kita masih jalan di tempat. Idealnya, 
>>orang 
>>tidak perlu mudik massal karena mudah mendapatkan pekerjaan di dekat 
>>rumahnya. 
>>Ini bisa karena faktanya magnit Jakarta begitu kuat, juga karena persepsi 
>>orang 
>>jika ke Jakarta adalah hebat. 
>>
>>
>>Teman saya Agusmie orang Wonosari,  tinggal di dekat perumahan-perumahan 
>>Jogja 
>>dan merasa cukup karena ya memang hanya bisa bakul mie, maka dia memutuskan 
>>tidak pelu migrasi ke Jakarta (bisa dibaca di 
>>http://eloknogotirto.wordpress.com/). Ada mindset dari generasi ke generasi 
>>yang 
>>mengagungkan Jakarta, sehingga sebelum lulus studi pun Jakarta sudah ada 
>>dalam 
>>benaknya, Kenapa tidak punya angan-angan bekerja di Jayapura, Merauke, 
>>Manokwari, Manado, Pontianak atau tempat lain yang jauh karena di sana juga 
>>masih Indonesia ? ya karena di sana-sana tidak ada daya tariknya, mau cari 
>>penyakit (malaria) atau setor nyawa karena tidak aman !!!
>>
>>Maaf ini pendapat saya, orang yang lahir di Jogja, sekolah di Jogja, bekerja 
>>di 
>>Jogja, jadi ya sempit pandangannya... meskipun saya pernah tinggal di Biak 
>>selama 2 tahun dan riset di Timor sekitar 6 minggu tidak urut waktunya.... 
>>
>>
>>
>>Salam,
>>
>>Djarot Purbadi
>>(Neon Kaenbaun)
>>
>>--- On Sun, 9/5/10, [email protected] <[email protected]> wrote:
>>
>>
>>>From: [email protected] <[email protected]> 
>>>
>>>Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara
>>>To: [email protected]
>>>Date: Sunday, September 5, 2010, 11:37 AM 
>>>
>>>
>>>
>>>  
>>>Bagus juga Mas Djarot. Saya mau jadi 'dayohnya...'
>>>Kalau niatnya mau buat kerajaan baru..tentu alasan dan ratusan rujukan bisa 
>>>dibuat, disarankan, disuarakan dan diilmiahkan. Yang belum jelas nasib 
>>>Jakarta 
>>>kemudian (macet panas rusuh rungsep dll), dan takdir kota baru yg mau 
>>>dicipta. 
>>>Apa nantinya akan menjiplak Jakarta, apa warnanya baru semangat lama, apa 
>>>beda 
>>>banget. Jangan2 'Beti' wong yg mau mengisi tdk berubah. 
>>>
>>>Lha Jakarta, warganya boleh menuntut donk, agar perhatian kepada kotanya tdk 
>>>berkurang...yg invest tidak panik, yg mau invest tdk belok, yg sdh lama jd 
>>>penghuni tdk jd minggir,..perlu kejelasan agak segera tentang 
>>>baik-benar-syahnya 
>>>nasib IBUkota lama atau stop...dayohnya sgera masuk kalau perlu ikut 
>>>bereskan 
>>>kloso yg bedah dll...
>>>Barang kali pengelolaan Jakarta sdh mulai uzur beraroma museum dan ternyata 
>>>perlu diswastakan supaya segera mencicil keluhannya...bolehkah? Salam. 
>>>
>>>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
>>Teruuusss...!
________________________________
 
>>>From: Djarot Purbadi <[email protected]> 
>>>Sender: [email protected] 
>>>Date: Sun, 5 Sep 2010 10:28:16 +0800 (SGT)
>>>To: <[email protected]>
>>>ReplyTo: [email protected] 
>>>Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara
>>>
>>>  
>>>Dear Sahabats,
>>>
>>>Ketika saya renungkan diskusi dengan tema pemindahan ibukota, saya merasa 
>>>kita 
>>>sudah melihat Jakarta saat ini sebagai monumen masalalu. Pergantian rezim 
>>>selalu 
>>>ada kecenderungan ingin membangun monumen untuk dirinya sendiri, termasuk 
>>>merusak monumen rezim sebelumnya. Apakah ada yang salah dalam jiwa kita 
>>>sebagai 
>>>bangsa ??? Kotagede menjadi kota suci bagi kraton Solo dan Yogyakarta karena 
>>>ada 
>>>tali jiwa dalam silsilah kerajaan masa lalu, maka Kotagede masih menyimpan 
>>>spirit masa lalu bagi kedua kerajaan itu, meskipun bukan ibukota lagi. 
>>>Jakarta 
>>>kini sudah menjadi masa lalu, ketika kita diskusikan, dan ibukota di masa 
>>>depan 
>>>juga belum jelas !!!
>>>
>>>Kadang aku merenungkan diskusi kita yang antusias itu. Pertanyaanku: apakah 
>>>perilaku ini bukan sebuah langkah aneh, seperti digambarkan dalam lagu Jawa: 
>>>e 
>>>dayohe teka e, e gelar na klasa e, e  klasane bedah e, e tambalen jadah e, e 
>>>jadahe mambu e, e pakakno asu e, e asune turu e, e buwangen kali e, e e e e 
>>>bubar wae e e e
>>>
>>>Lagu itu mengandung pesan dan mengingatkan, kita sudah "menyerah" mengatasi 
>>>problema yang dihadapi karena tidak fokus menghadapinya. Ketika ada tamu 
>>>datang, 
>>>konsentrasi kita ke tikar, dan seterusnya berpindah-pindah, sehingga dayohe 
>>>atau 
>>>tamunya tetap ada di depan pintu, tidak pernah kita minta dia masuk ke 
>>>rumah....
>>>
>>>Salam,
>>>
>>>Djarot Purbadi
>>>(Neon Kaenbaun)
>>>
>>>--- On Sun, 9/5/10, - ekadj <[email protected]> wrote:
>>>
>>>
>>>>From: - ekadj <[email protected]>
>>>>Subject: [referensi] simbol ibukota negara
>>>>To: [email protected]
>>>>Date: Sunday, September 5, 2010, 12:55 AM
>>>>
>>>>
>>>>  
>>>>Referensiers ysh, sungguh menarik topik (baru) ini. Pertanyaan Bu Nita 
>>>>sungguh 
>>>>sangat mendasar: bagaimana nasib 'simbol-simbol' ibukota negara itu? Saya 
>>>>tertarik untuk mengulas sedikit, selain pernah mendapat clue dari Pak Wawo.
>>>>Formasi dua istana yang saat ini berhadapan dapatkah kira-kira dijelaskan, 
>>>>termasuk sebenarnya mencerminkan sistem kenegaraan yang kita anut? Bukankah 
>>>>seharusnya Wapres berdampingan dengan Pres? Formasi yang ada sekarang ini 
>>>>sepertinya hanya cocok untuk era Orde Lama, ketika Boeng Hatta masih 
>>>>menjadi 
>>>>Wapres.
>>>>Coba kita pelajari sedikit konsep Putrajaya. Istana PM terletak di ujung 
>>>>koridor 
>>>>pada tanah tinggi, sementara di ujung koridor yang satunya adalah 
>>>>Convention 
>>>>Center, yang cukup melambangkan obsesi Malaysia untuk menjadi salah satu 
>>>>pusat 
>>>>dunia. Kedua titik pembentuk koridor ini masing-masing memiliki pemandangan 
>>>>yang 
>>>>sangat luas dan bagus. Saya kira dua titik ini yang menjadi simbol dominan 
>>>>Puterajaya. Mudah-mudahan Pak Koes mau mengulas lebih lanjut.
>>>>Kembali ke sekitar Lapangan Merdeka, 'tanda' apa kira-kira yang bisa 
>>>>menginspirasi Indonesia Jaya?
>>>>Untuk pertahanan dan pengamanan internal (+garnizun), untuk asumsi 100 ribu 
>>>>warga, diperlukan sekitar 5 pasukan segelar sepapan (divisi), jadi 
>>>>Cilangkap 
>>>>belum perlu pindah, dan kita masih madani. Kondisi sekarang: 60-70%(?) 
>>>>kekuatan 
>>>>TNI numpuk di Jakarta dsk.
>>>>Senang bila Prof Deden sudah mulai mengumpulkan bahan-bahan terkait, 
>>>>mudah-mudahan bisa berkolaborasi dengan Pak Wilmar dkk.
>>>>Sementara demikian dulu. Salam.
>>>> 
>>>>-ekadj
>>>>
>>>>2010/9/4 nita <[email protected]>
>>>>
>>>>  
>>>>>Numpang nimbrung,
>>>>>Kalau ibukota neg dipindahkan, 2 istana di jl merdeka bagusnya dijadikan 
>>>>>apa 
>>>>>ya???
>>>>>
>>>>>Ibukota neg pindah, haruskan mabes tni ikut pindah?? 
>>>>>
>>>>>Salam, 
>>>>>
>>>>>Nita  
>>>  

 


      

Kirim email ke