Kalau miss komunikasi yang saya lihat sudah pasti terjadi karena kesalahan pihak konsumen dalam memilih, Selama bekerja di bagian desain grafis saya dapat membagi konsumen percetakan (karena saya adalah konsumen percetakan) tidak jau berbeda dengan konsumen desain grafis
Ada 6 Macam konsumen dalam awal memesan 1. Mau cepat, murah, bagus 2. Mau cepat, bagus, harga tak masalah 3. Mau hasil terbaik, memesan jauh-jauh hari, harga murah 4. Mau hasil terbaik, memesan jauh-jauh hari, harga tak masalah 5. mau hasil terbaik, cepat, tak mau bayar 6. Mau gratis, hasil tak masalah Nah saya adalah tipe yang ketiga Ada 4 Macam konsumen dalam membayar 1. Mau membayar DP, melunasi ketika barang diterima penuh dengan kondisi yang diharapkan (paling lama 2 bulan untuk pelunasan) 2. Tidak mau membayar DP, melunasi ketika barang diterima penuh dengan kondisi yang diharapkan 3. Mau membayar DP, sulit ketika diminta pelunasannya dengan berbagai alasan yang dibuat macam-macam 4. Membayar lunas dimuka (Every printing company favorite hahahahaha) 5. Menghilang tanpa bayar Nah saya adalah tipe yang ke 1 Nah kalau sifat dalam membayar bukanlah masalah yang kita diskusikan, tetapi hal ini juga berdampak pada kinerja printing tersebut untuk melakukan service yang baik, padahal perusahaan printing yang profesional tidak akan membedakan siapapun pelanggannya. Yang kita bahas sekarang adalah cara konsumen memesan. Namanya konsumen, kalau semuanya mengerti proses percetakan pastinya tidak akan ada masalah seperti sekarang ini (ini bukan yang pertama kali terjadi) karena mereka tak mengerti makanya masalah ini selalu terjadi. Bukan hanya di Mardi Mulyo. HARUSNYA sebagai percetakan kita tidak bisa mengharapkan konsumen untuk mengerti, karena perusahaan percetakanlah yang harus melakukan edukasi bagaimana proses percetakan itu berjalan, apa saja yang dibutuhkan, dan apa saja yang harus dihindari. Banyak percetakan menganggap edukasi ini adalah hal yang akan merugikan mereka jika konsumen menjadi pintar dan mereka tidak bisa meraup untung yang banyak. Padahal edukasi tersebut akan meminimalkan over cost yang diakibatkan kesalahpahaman yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Karena itu sistem ISO pada percetakan membuktikan bahwa percetakan tersebut memiliki sistem edukasi terhadap konsumen. Ini yang saya alami sebagai konsumen di perusahaan percetakan yang memiliki ISO. Tidak ada lagi overcost, salah paham, salah ini, salah itu, semuanya berjalan sempurna. kalau saya tidak mengerti, staf marketing dan teknisi mereka akan menjelaskan kepada saya tentang langkah2 yang perlu mereka ambil. So make a system yang menguntungkan kedua belah pihak. Regards, A Strong Mind Starts with A Fit Body Eat Healthy Without Healthy Activities Means Nothing!!! Know Health Without Preserving Health Means No use!!! Train Hard, Eat Well, STAY TRONG!!! Jimmy [EMAIL PROTECTED] (office) [EMAIL PROTECTED] (Main) YOU BORN WITH LIFE LIFE THAT GIVEN BY THE ALMIGHTY GOD YOU"RE STRONGER THAN ANY SUBSTANCE IN THIS WORLD STAY STRONG!!! On Jan 10, 2008, at 12:23 AM, Toto wrote: > Dalam pemahaman saya terhadap surat ini kelihatanya ada miss > komunikasi > antara kedua belah pihak yang disebabkan oleh ketidak mengertian > proses > pembuatan buku itu sendiri. Saya coba berbagi bagaimana proses > pembuatan > buku tersebut. > > Saya melihat kemungkinan besar memang si Mardi mulyo ini bukan > percetakan > yang layak mencetak buku. Perlu rekan - rekan ketahui bahwa > mencetak buku > tidak sama dengan mencetak kemasan atau cetakan lainya, terutama > dalam hal > halaman ( ini yang membedakan prosesnya ). Dalam menentukan halaman > ini > perlu dilakukan proses dummy dimana proses ini harus juga > memperhitungkan > alur lipatan yang akhirnya akan menghasilkan halaman dan posisi > cetakan yang > aman ketika nantinya dilakukan proses finishing berupa cutting. > > Kesalahan pada proses penyusunan lipatan inilah yang sering menjadi > waste > pembuatan buku sangat tinggi. Tapi kalau proses pembuatan dummy > dilakukan > dengan benar maka hal ini dapat diminimalisir, sayangnya dummy sendiri > memerluka ongkos yang tinggi karena melibatkan mesin secara > langsung. Tapi > biasanya ini include kedalam harga final dari produk. > > Adapun design, secara prinsip percetaka tidak memiliki departemen > design, > karena ini sudah merupakan proses kerja kreatif yang tidak mungkin > disatukan > dengan proses kerja masal. Jadi sebaiknya semua editing difinalkan di > designernya terlebih lagi untuk buku tidak mungkin pihak percetakan > melakukan editing satu persatu kata pada design tersebut ( biasanya > tidak > tersedia sdm untuk itu ). Yang dimiliki oleh percetakan adalah > depatemen > repro yang bertugas melakukan mounting dan expose dari film ke > flat. Jadi > kalau tadi ada ribut - rebut masalah file design berupa cd itu > kelucuan yang > amat sangat. ( sama - sama ngak ngertinya ). Soal film yang bisa > ditarik > oleh customer tergantung kepada kesepakatan awalnya.kalau film itu > di charge > > Maka itu bisa diambil tapi kalau tidak di charge tapi included kedalam > produk itu tidak bisa diambil, karena biasanya kami menanggung > ongkos film > ini berdua dengan konsumen tidak 100 % dibebankan ke konsumen. > > Apa saja unsure harga dalam pencetakan buku, sesuai tahapannya. : > 1. Dummy > 2. Film ( bila ada proses design perubahan yang besar sebaiknya > dilakukan > sendiri karena percetakan pun akan dikerejakan ditempat lain dan ada > tambahan overhead pada harganya nanti ) > 3. pencetakan ( ini sudah meliputi harga bahan, tinta, dll. Yang > menyangkut > proses produksi ) > 4. Delivery dan packing > > Nah dari keempat unsure ini rekan - rekan harus perhatikan dengan > baik pada > saat menerima penawaran harga. Termasuk kesepakatan film yang bisa > diambil > > Terakhir, Adanya mesin cetak tidak berarti di bisa mencetak buku, > percetakan > yang biasa mencetak buku harus memiliki mesin folding ( lipat ), mesin > gluing atau stiching. Ini yang paling penting untuk menunjukan > bahwa dia > memang biasa memproduksi buku. > > Demikian maaf bila menggurui, bila rekan - rekan perlu untuk > berdiskusi > lebih jauh masalah percetakan baik offset, rotogravure, maupun > fleko boleh > kontak saya, dengan senang hati akan saya Bantu. > > Terimakasih, > Toto Hadi Prayitno > > PT. TOPPAN PRINTING INDONESIA > MARKETING DEPARTMEN > Phone : +62218831153 ext. 331 s/d 333 > Fax : +62218830039 / +622188325790 > Mobile : +622198940779/ +62811131123 > E - mail : [EMAIL PROTECTED] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
