Fungsi Penengah Seorang Da'i
Dalam Tafsir Ibn Katsir Surah Al Baqarah ayat 213, ada sebuah redaksi doa yang sangat indah dari Rasulullah saw : "Ya Allah, Tuhan Malaikat Jibril, Mikail, & Israfil. Tuhan pencipta langit dan bumi, yang mengetahui perkara baik & tampak. Engkaulah yang memutuskan di antara mereka tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran yang dipersilisihkan itu dengan izinMu. Sesungguhnya Engkah menunjukkan orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim) Fungsi penengah perselisihan adalah tugas yang diemban oleh da'i sejati, bukannya malah menambah perselisihan menjadi tambah runyam. Karenanya ada beberapa hal yang semestinya ada pada diri seorang da'i : 1. Ilmu dan Pemahaman Bagaimana mungkin seorang menjadi wasit yang adil jika tidak memiliki kapasitas yang cukup tentang pokok permasalahan dan perbendaharaan solusinya. Mengingat kemungkinan begitu luasnya ranah permasalahan yang muncul tidak selalu berbanding lurus dengan kapasitas yang dimiliki seorang da'i, maka diperlukan pula kebesaran hati untuk membatasi diri pada masalah-masalah tertentu saja yang menjadi spesialisasi dirinya, disamping kemampuan untuk mengkomunikasikannya kepada pakar dan ahli lain untuk mendapatkan solusi yang lebih lengkap. 2. Netralitas Kemampuan memandang permasalahan dari berbagai sisi membutuhkan netralitas atas pihak-pihka yang bertikai. Citra netral itu haruslah tampak pada semua pihak yang sedang berselisih, karenanya pilihan afiliasi bagi seorang da'i adalah hasil dari sebuah pertimbangan yang matang dengan dasar keilmuan yang cukup; termasuk dalam hal ini adalah afiliasi politik, mazhab hingga kelompok-kelompok sosial. Netralitas tidaklah berarti seorang da'i tidak memiliki ketetapan pendapat akan suatu masalah. Tetapi cara pandang yang tidak berat sebelah akan membuat sang da'i mampu mengkomunikasikan pendapatnya tersebut dalam cara yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang bertikai. Begitu bangyak keteladanan sahabat dan para ulama salaf sebagai siswa-siswa utama Rasulullah saw dalam menyelesaikan konflik di antara mereka sendiri, terutama dalam hal yang berkaitan dengan perbedaan pendapat seputar masalah-masalah sosial keagamaan. 3. Kemampuan Berkomunikasi dan Mengkomunikasikan Solusi Saat ini sangat sulit menemukan media Islam yang benar-benar bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat muslim. Mau tidak mau, kondisi ini mempersulit bahkan memperparah jurang antara para alim ulama dengan rakyat dalam mengkomunikasikan fatwa-fatwa dan penjelas-penjelas atas masalah-masalah keummatan. Kemampuan berkomunikasi dan mengkomunikasikan, termasuk di dalamnya penguasaan mediak komunikasi, menjadi hal yang mutlak bagi para da'i agar apa yang dikatakannya tidak menjadi bias dan bercampur dengan berbagai macam distorsi, sehingga masyarakat yang menerimannya mampu mengerti dengan baik, sesuai keadaan akal dan pengetahuan yang mereka miliki. Kombinasi ketiga hal diataslah yang kemudian lebih kita kenal sebagai : Kebijaksanaan Allahu 'Alam (Original Writing by Reza Ervani at Muntok, West Bangka, December 29th, 2007) Komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
