"Kamu kenapa, Mer?" tanya Dian sambil mendekat ke arahku. Sejenak dia 
memegang bahuku. Aku diam saja tak memberi respon apa-apa padanya. Aku menatap 
kosong ke depan. Seakan-akan yang ada di permukaan air danau itu, kosong juga. 
Tak ada harapan buatku.
   
        "Kamu punya masalah?" tanya Dian lagi. Lagi-lagi aku hanya diam. 
Kemudian terdengar hembusan napasnya yang panjang. Seakan-akan dia sengaja 
memperdengarkannya di telingaku kalau dia tidak suka dengan sikapku itu.
   
        Lalu, sama-sama kami berdiam diri dalam beberapa saat. Bedanya, dia 
bagaikan asyik dengan sebuah buku di tangannya itu. Ya, dia akan selalu membawa 
buku jika aku mengajaknya ke tempat ini. Hari ini pun, aku memaksanya 
menemaniku ke sini. Ya, itulah sifatku. Kadang membuat orang lain tersiksa 
dengan keegoisanku itu.
  
     "Jika kamu pernah dibohongi oleh seseorang, apakah kamu akan 
mempercayainya kembali?" tanyaku tanpa mengalihkan mataku dari hamparan air 
danau itu. 
   
       Sejenak dia diam tanpa merespon pertanyaanku. "Kenapa kamu tiba-tiba 
bertanya seperti, Mer?" tanyanya. 
       "Pernahkah kau membohongi seseorang?" tanyaku lagi. 
     "Saya amat yakin, semua orang pasti pernah berbohong!" katanya tanpa 
mengalihkan pandangannya dari buku itu. 
      "Jika kau dibohongi, adakah kau bisa mempercayai kembali orang itu?" aku 
kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
      "Dulu, saya amat membenci orang yang membohongiku, Mer!" katanya sambil 
mengalihkan pandangannya ke arah danau itu juga. Tempatnya mataku bertahta dari 
tadi. "Aku bahkan tidak memberi kesempatan padanya untuk membangun kepercayaan 
lagi. Aku menjauh darinya, " sambungnya.
        "Namun, suatu ketika tanpa saya sengaja, saya telah membohongi 
seseorang juga, tetapi orang itu tetap saja mempercayaiku. Aku pikir dia tidak 
tahu kalau aku membohonginya, ternyata jauh-jauh hari, ketika aku 
berterus-terang kepadanya, dia pun berterus-terang kalau sebenarnya dia tahu 
tentang pembohonganku itu. Waktu itu, aku malu dan tentu saja menyesal. Karena 
selama ini, memang saya tidak pernah membohongi siapa pun" , katanya lagi. 
"Katanya, setiap orang berhak untuk mendapatkan kepercayaan dan kita 
berkewajiban untuk memberi kepercayaan itu. Selama dia punya keinginan untuk 
tidak mengulangi kebohongan itu lagi. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? 
Bukankah yang membuat kita lebih mendekati sempurna adalah kesalahan yang 
pernah kita lakukan? Asalkan kita berusaha untuk memperbaiki kesalahan itu. 
Asalkan kita tahu taubat yang hakiki....." katanya dengan senyuman.
   
        "Adakah semua orang seperti itu, Dian?" tanyaku tanpa memalingkan muka 
memandangnya.
   
        Dia hanya diam tak bergeming dengan tatapan yang masih saja di danau 
itu. Seakan-akan semua pertanyaan yang aku lontarkan ada jawabannya di sana. 
       "Entahlah!" keluar juga jawabannya. 
   
        "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya aneh-aneh seperti itu?" tanyanya.
      Sejenak kuhirup dalam-dalam udara bebas yang berkeliaran di situ. Aku 
ingin menghilangkan segala beban dan sesak dadaku yang kurasakan dari tadi. Ya, 
dadaku sesak dengan beribu-ribu kilo penyesalan. Aku benci dengan kesesakan 
itu. Aku benci dengan penyebab dengan kesesakan itu. Ya, aku benci dengan 
diriku sendiri. Karena dirikulah yang membawa kesesakan pada dadaku sendiri. 
Ternyata, beginilah rupanya kalau terlanjur berbuat salah. 
   
         "Aku telah membohonginya, Dian! Aku telah melakukan kesalahan yang 
besar. Aku telah membohongi orang yang aku amat sayangi. Aku telah membohongi 
wanita yang telah berbuat baik kepadaku. Aku pikir, itu bisa dianggap sebuah 
permainan. Sesuatu yang mengundang tawa. Ternyata, aku salah besar. Ya, aku 
tahu. Selama ini, aku tidak pernah membohongi siapa pun. Selama ini, aku adalah 
anti dibohongi. Selama ini, aku amat membenci orang yang membohongiku. Tetapi, 
sekarang.... " akhirnya air bening di pipiku mengalir dengan perlahannya 
menelusuri liku-liku garis hidungku. 
   
          Dian hanya menatapku dengan wajah keheranan. 
        "Ya, aku tahu, aku melakukannya dengan menganggapnya itu canda. Aku 
tahu itu. Bahkan, aku sudah meminta maaf. Dan, dia mengatakan kalau dia telah 
memaafkan aku. Aku juga tahu, kalau dia adalah orang baik, pemaaf dan manusia 
yang patut diteladani. Bahkan, silahturahmi kami pun masih berjalan. Tetapi, 
kenapa hati ini masih dihantui perasaan bersalah? Kenapa masih saja aku berpkir 
kalau aku telah kehilangan dia? " kubiarkan air bening itu terus mengalir. "Aku 
tahu, selama ini aku belum pantas untuk berada di sisinya. Aku tahu, kalau 
dunia kami amat berjauhan. Dia terlalu tinggi untuk aku lihat bagi kepalaku 
yang rendah ini. Aku tahu, itu. Entah mengapa aku begitu terlalu berani 
menganggap kalau aku sudah bisa hidup di sampingnya. Sudah bisa tertawa 
bersama. Entah mengapa aku begitu mudah bermimpi?...."
   
          Dian hanya diam seribu bahasa. Seakan-akan sengaja memberiku 
kesempatan untuk mengeluarkan semua isi hatiku. 
       "Ternyata, melakukan kesalahan, sekecil apa pun itu, ternyata amat berat 
resikonya ya?" tanyaku dengan senyuman lucu. Lalu, menghapus air mataku. 
   
         Kupandangi lagi danau itu. "Masihkah bisa aku mengembalikkan wajahku 
yang dulu? Wajah yang pertama kali dikenalinya? Ah, pasti itu hanyalah khayalan 
semata. Pasti wajahku sudah cacat di matanya. Cacat yang tidak akan pernah 
pulih seperti sedia kala. Bukankah begitu, Dian?" tanyaku pada Dian. Kali ini, 
aku pandangi mukanya yang juga memandang mataku. "Iya, kan?" tanyaku lagi. 
   
         Dian mengalihkan pandangannya ke depan. Ada butir bening di matanya 
mengambang. Aku tahu perasaan sahabatku itu amat cepat tersentuh. 
       "Tuhan saja Maha Pemaaf, Mer,  apalagi dia. Tuhan saja Maha mempercayai 
hamba-Nya, apalagi dia. Tuhan saja senantiasa menerima siapa saja hamba-Nya 
yang datang walau dalam keadaan apa jua, apalagi dia. Percayalah! Kau masih Mer 
yang dulu di matanya. Seperti aku menganggapmu Mer yang tidak akan pernah 
berubah. Karena itulah hidup. Di situlah kita harus mengambil hikmah atas semua 
ini. Ini pelajaran buat kamu agar kamu juga berusaha untuk membuka pintu 
kepercayaan buat orang yang pernah membohongimu, dulu. Lihatlah, betapa adilnya 
dunia ini, bukan?" tanyanya.
   
         "Adil?" terasa lucu kata-kata itu di telingaku. 
       "Iya", jawabnya untuk meyakinkan aku bahwa dia serius atas kata-katanya. 
"Bukankah tidak ada yang baik kalau tidak ada yang buruk? Bukankah tidak ada 
yang mulus kalau tidak ada yang kasar? Bukankah tidak ada yang kaya kalau tidak 
ada yang miskin? Bukankah tidak ada hitam kalau tidak ada putih? Bukankah tidak 
ada tinggi kalau tidak ada rendah? Begitu seterusnya. Begitu juga dengan 
kesalahan dan kemaafan. Tidak pernah ada kata maaf kalau semua manusia tidak 
pernah berbuat kesalahan. Iya, kan?" 
   
         Sejenak aku tertawa lepas. Walau air mataku masih saja mengalir. Ah, 
begitu munafiknya diriku ini. Menangis sudah, masih mau tertawa. Adakah aku 
manusia normal? 
   
          Tak terasa, waktu terus berjalan tanpa ada yang bisa menahannya. 
Seperti hatiku yang masih saja dipenuhi rasa gundah dan penyesalan. Ya, akan 
kubawa penyesalan itu ke mana saja kakiku melangkah. "Maafkan aku, wahai 
orang-orang yang pernah membohongiku! Ya, maafkanlah jika aku pernah menutup 
pintu kepercayaan untukmu. Dan, wahai orang yang pernah aku bohongi! 
Maafkanlah, aku! Aku menyesal atas semua itu. Aku baru sadar, kalau beginilah 
rasanya jika melakukan kesalahan. Terimakasih atas kesadaran yang kau berikan 
padaku. Aku tidak akan memintamu untuk memasang wajahku yang dulu di matamu. 
Aku tidak akan memintanya karena aku tahu, aku sudah tak berhak tentang itu. 
Cuma, satu yang ingin kutanyakan padamu, masihkah ada pintu kepercayaan untukku 
di matamu atau di hatimu?" 
   
          Kuhembuskan napas pelan-pelan. Kupandangi hamparan permukaan danau 
yang sudah mulai diterpa cahaya senja. Diam-diam kuraih sebuah kertas dan 
pulpen di sampingku. Diam-diam pula, lahir sebuah puisi dari jiwa penyesalan 
yang amat dalam.
   
   
  Di Rumah Sakit
   
  Di sini, di rumah sakit ini,
  kau pernah meminta perpisahan.
"Jangan pernah mencintaiku!
  Tidakkah kau takut aku meninggalkanmu
  karena kanker di dadaku?" katamu padaku.
   
  Di sini pula, di rumah sakit ini juga.
  Aku pernah meminta perpisahan.
  "Aku tidak takut atas kepergianmu.
  Yang kutakutkan jika aku yang meninggalkanmu," kataku
  saat ada berita kesembuhan kankermu.
   
  Kini, di rumah sakit ini lagi.
  Aku terbaring mengenang kenangan di sini.
  Di saat aku dan engaku meminta perpisahan.
  Diri ini, mengharap engkau kembali lagi di sin.
  Walau aku tahu, kau telah pergi bukan untuk kembali.
   
  Biarkanlah aku di sini, tetap di sini,
  di rumah sakit ini, untuk mencintaimu,
  mencintaimu dan tetap mencintaimu
  di sini, di rumah sakit ini, di dalam puisi ini.
  Dan, bukan hanya saat ini.
   
         Terimakasih sahabat, engkau telah memberiku pengertian tentang sebuah 
kesalahan. Sekali lagi terimakasih. Ucapku dalam hati dengan dada yang masih 
sesak.
   
  *PS: Terimakasih buat bidadari yang telah menginspirasi saya tentang tulisan 
ini. :)
  http://alinasheart.multiply.com
  http://alinasheart.rezaervani.com 
   
   
   

       
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

Kirim email ke