Turut prihatin juga,..
Pemahaman sebagian dokter kita adalah pemahaman materialistik bukan pemahaman
spiritul, ketika ia melakukan pekerjaannya yg dilihat adalah azas manfaat, sisi
ibadah masih sangat jauh sekalipun ia bekerja di rumah sakit yg berlabel islam
"tidak ada jaminan". Maka perlunya nilai nilai islam di tengah tengah
kehidupan. Rumah sakit islam masih jauh dari nilai-nilai islam karena sistem yg
dipakainya tdk diambil dari ajaran islam. Masih banyak rumah sakit menolak
pasiennya dgn berbagai alasan yg dibuat buat karena tidak menguntungkan buatnya.
Perlu nya islam diterapkan dalam semua aspek kehidupan agar dapat mengayomi
semua lapisan masyarakat. Rumah sakit dalam islam harus dikelola negara dan
negara lah yg bertanggungjawab, sekarang rumah sakit sdh jauh dari visi dan
misi islam, terbukti bahwa rumah sakit yg ada sekarang harus mengejar profit
baik rumah sakit pemerintah maupun swasta,......
bc_deden <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
SIMPATI UNTUK KELUARGA MAS DIDI
Assalamu alaiku warahmatullahi wabaratuh,
Mas, jangan kaget hal yang dialami oleh Anda Jauh lebih baik mungkin
ketimbang pengalaman yang saya alami, dimana para Dokter di negara
kita (mungkin tidak semua) sering seolah menjadi orang yang paling
pintar dan yang paling dibutuhkan masyarakat. para tenaga medis di
kita sekarang lebih mementingkan materi pribadi dibanding rasa sosial
sebagai anggauta masyarakat.
Pengalaman yang ada pada kami adalah dikala anak saya wakyu itu
berusia 10 bulan dan sedang sekarat dan perlu penanganan segera
disuruh tunggu antrian karena ada pasien yang lebih meguntungkan bagi
dia mungkin sehingga tatkala ditangani anak saya sudah tiada,
menghadap Sang Khalik, dan dengan entengnya dia mengatakan "wah
kenapa tidak dari tadi...."
Kayaknya menurut mereka diluar profesi dia untuk masalah kesehatan
yang lain BODOH semua, padahal kalau orang bodoh harus diberi
informasi agar pintar.
Memang harga sebuah pelayanan itu mahal sekali Mas, semoga masih
banyak tenaga medis yang baik dan mempunyai hati nurani tidak seperti
yang kita alami, amin
--- In [email protected], "Didi Mardiyanto"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> JADILAH DOKTER YANG TIDAK KIKIR ILMU
>
> Assalamu'alaikum Wr.Wb
>
> Setelah beberapa waktu mengikuti milis ini, akhirnya tergerak juga
untuk menulis sesuatu. Tulisan perdana ini diilhami dari kejadian
yang menimpa istri saya yang kebetulan beberapa hari lalu di rawat di
Rumah Sakit Islam di bilangan Cempaka Putih Jakarta Pusat.
>
> Istri saya yang kebetulan tengah mengandung usia 4 bulan, pada
beberapa waktu lalu harus dirawat di rumah sakit karena memiliki
masalah pada kandung kemihnya. Istri saya kesulitan melakukan Hajat
Buang Air kecil, sehingga harus dirawat dan dipasang kateter untuk
melancarkan proses buang air kecil.
>
> Kejadian yang membuat saya ingin menulis ini terjadi pada saat
istri saya dikunjungi oleh dokter yang melakukan perawatan.
Kebetulan dokter yang merawat adalah Dokter Rauf. Pada saat dokter
melakukan kunjungan ke ruang rawat, istri saya memanfaatkan kunjungan
dokter untuk bertanya kepada dokter mengenai hal ihwal penyakit yang
dideritanya. Ketika istri saya bertanya " Dokter apa yang
menyebabkan penyakit saya ? " Sang Dokter hanya menjawab " penyakit
ibu karena kondisi ibu yang sedang mengandung ". Mendapat penjelasan
dokter yang singkat tersebut, tentu saja istri saya ingin bertanya
lebih jauh lagi, mengingat kehamilan istri saya adalah kehamilan yang
ketiga dan dua kehamilan yang terdahulu tidak mengalami masalah
seperti saat ini.
>
> Istri saya kemudian kembali mengajukan pertanyaan " Bagaimana
Dok .. koq karena kehamilan bisa menyebabkan saya harus dipasang
kateter seperti ini ? " Mendengar pertanyaan lanjutan dari istri
saya, nampaknya sang dokter merasa tidak senang dan malas memberikan
jawaban. Sebenarnya istri saya sejak awal sudah menduga bahwa Dokter
Rauf yang merawatnya adalah tipe dokter yang enggan memberikan
penjelasan kepada pasien. Namun ternyata dugaan istri saya jauh dari
yang ia duga, karena ternyata Dokter Rauf memberikan jawaban yang di
dalamnya tersirat sikap dokter yang menganggap pasien yang
dihadapinya adalah orang bodoh.
>
> Dokter Rauf menjawab pertanyaan istri saya dengan gaya ketus
seperti ini : " Ibu ! apakah selama ini ibu pernah memikirkan
bagaimana mata dapat bekerja ? Apakah Ibu pernah memikirkan bagaimana
jantung bekerja ? ... Tidak Pernah khan ! karena memang bukan ilmu
yang mudah untuk mempelajarinya. Ibu tidak perlu mikir yang macam-
macam dan yang sulit-sulit yang Ibu tidak akan faham. Pokoknya
penyakit ibu ini disebabkan oleh kehamilan !! "
>
> Astagfirullah .... istri saya bergumam dalam hati. Istri saya
sangat kecewa dengan pernyataan yang diberikan oleh Dokter Rauf.
Mengharapkan mendapat jawaban yang mampu menjelaskan penyakitnya,
yang didapatkan malah pernyataan yang meremehkan yang diberikan oleh
sang dokter.
>
> Istri saya yang bekerja di bidang farmasi dan cukup mengerti
tentang hal yang berkaitan dengan fungsi dan cara kerja organ tubuh,
lebih memilih diam dan tidak melanjutkan pertanyaan kepada Dokter
Rauf. Jika mau, istri saya bisa saja memberikan komentar bahwa ia
mengetahui tentang bagaimana mata bekerja dan bagaimana jantung
bekerja. Tapi itu tidak dilakukan oleh istri saya, karena menganggap
percuma menanggapi seorang dokter yang terlalu bangga dengan
profesinya, dan terlalu meremehkan orang lain, serta menganggap bahwa
hanya orang pintar, jenius, dan yang terpilih saja yang mampu
bergelar dokter.
>
> Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf adalah kenyataan di lapangan,
bahwa ada dokter yang tidak memiliki kemampuan untuk berperan sebagai
dokter yang tidak hanya menyembuhkan. Peran Dokter pada saat
seseorang sakit adalah tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit
tersebut, tetapi juga harus mampu memberikan penjelasan kepada pasien
tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk menghindari penyakit yang
dideritanya. Memberikan penjelasan kepada pasien tentang penyebab
penyakit dan cara pencegahannya, tidak harus serumit menjelaskan
bagaimana mata bekerja dan bagaimana jantung bekerja. Siapapun
pasien yang dihadapinya, harusnya seorang dokter mau memberikan
penjelasan yang diminta oleh sang pasien.
>
> Untuk kasus Dokter Rauf, memberikan penjelasan kepada pasien yang
nyata-nyata telah "membayarnya" saja tidak mau ia lakukan, apalagi
jika yang bertanya kepada Dokter Rauf adalah pasien gratisan.
>
> Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf barangkali jangan dicontoh oleh
rekan-rekan Dokter yang lain. Jangan Kikir Ilmu kepada orang yang
meminta kita menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan. Ilmu yang dimiliki
oleh Dokter Rauf pasti tidak akan menjadi berkurang ketika diberikan
kepada seorang pasien yang membutuhkan penjelasan atas sesuatu hal
yang secara keilmuan dimiliki oleh seorang Dokter. Sosok seorang
Dokter sudah tertanam dibenak masyarakat adalah sosok yang sudah
pasti cerdas, pintar dan berilmu. Tidak perlu meremehkan orang untuk
mengingatkan bahwa "Belajar jadi Dokter itu susah".
>
> Atas kejadian yang menimpanya, istri saya langsung mencoret Nama
Dokter Rauf dari List Dokter yang harus dikunjunginya ketika sakit.
Sosok Dokter Rauf harus dihindarinya, karena ketika sakit, istri saya
berharap memperoleh kesembuhan dari Allah SWT melalui perantaraan
seorang Dokter yang merawatnya, sekaligus mendapatkan ilmu tentang
penyakitnya dari dokter yang merawatnya, dan itu tidak ia dapatkan
dari Dokter Rauf.
>
> Istri saya yakin bahwa Fenomena Dokter Rauf yang kikir ilmu adalah
nyata. Namun ia masih memiliki keyakinan bahwa masih banyak sosok
Dokter yang TIDAK KIKIR ILMU.
>
> Wassalamu'alaikum Wr.Wb
>
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.