SIMPATI UNTUK KELUARGA MAS DIDI

Assalamu alaiku warahmatullahi wabaratuh,

Mas, jangan kaget hal yang dialami oleh Anda Jauh lebih baik mungkin 
ketimbang pengalaman yang saya alami, dimana para Dokter di negara 
kita (mungkin tidak semua) sering seolah menjadi orang yang paling 
pintar dan yang paling dibutuhkan masyarakat. para tenaga medis di 
kita sekarang lebih mementingkan materi pribadi dibanding rasa sosial 
sebagai anggauta masyarakat. 
Pengalaman yang ada pada kami adalah dikala anak saya wakyu itu 
berusia 10 bulan dan sedang sekarat dan perlu penanganan segera 
disuruh tunggu antrian karena ada pasien yang lebih meguntungkan bagi 
dia mungkin sehingga tatkala ditangani anak saya sudah tiada, 
menghadap Sang Khalik, dan dengan entengnya dia mengatakan "wah 
kenapa tidak dari tadi...." 

Kayaknya menurut mereka diluar profesi dia untuk masalah kesehatan 
yang lain BODOH semua, padahal kalau orang bodoh harus diberi 
informasi agar pintar.

Memang harga sebuah pelayanan itu mahal sekali Mas, semoga masih 
banyak tenaga medis yang baik dan mempunyai hati nurani tidak seperti 
yang kita alami, amin
--- In [email protected], "Didi Mardiyanto" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> JADILAH DOKTER YANG TIDAK KIKIR ILMU
> 
> Assalamu'alaikum Wr.Wb
> 
> Setelah beberapa waktu mengikuti milis ini, akhirnya tergerak juga 
untuk menulis sesuatu.  Tulisan perdana ini diilhami dari kejadian 
yang menimpa istri saya yang kebetulan beberapa hari lalu di rawat di 
Rumah Sakit Islam di bilangan Cempaka Putih Jakarta Pusat.
> 
> Istri saya yang kebetulan tengah mengandung usia 4 bulan, pada 
beberapa waktu lalu harus dirawat di rumah sakit karena memiliki 
masalah pada kandung kemihnya.  Istri saya kesulitan melakukan Hajat 
Buang Air kecil, sehingga harus dirawat dan dipasang kateter untuk 
melancarkan proses buang air kecil.
> 
> Kejadian yang membuat saya ingin menulis ini terjadi pada saat 
istri saya dikunjungi oleh dokter yang melakukan perawatan.  
Kebetulan dokter yang merawat adalah Dokter Rauf.  Pada saat dokter 
melakukan kunjungan ke ruang rawat, istri saya memanfaatkan kunjungan 
dokter untuk bertanya kepada dokter mengenai hal ihwal penyakit yang 
dideritanya.  Ketika istri saya bertanya " Dokter apa yang 
menyebabkan penyakit saya ? "  Sang Dokter hanya menjawab " penyakit 
ibu karena kondisi ibu yang sedang mengandung ".  Mendapat penjelasan 
dokter yang singkat tersebut, tentu saja istri saya ingin bertanya 
lebih jauh lagi, mengingat kehamilan istri saya adalah kehamilan yang 
ketiga dan dua kehamilan yang terdahulu tidak mengalami masalah 
seperti saat ini.
> 
> Istri saya kemudian kembali mengajukan pertanyaan " Bagaimana 
Dok .. koq karena kehamilan bisa menyebabkan saya harus dipasang 
kateter seperti ini ? "  Mendengar pertanyaan lanjutan dari istri 
saya, nampaknya sang dokter merasa tidak senang dan malas memberikan 
jawaban.  Sebenarnya istri saya sejak awal sudah menduga bahwa Dokter 
Rauf yang merawatnya adalah tipe dokter yang enggan memberikan 
penjelasan kepada pasien. Namun ternyata dugaan istri saya jauh dari 
yang ia duga, karena ternyata Dokter Rauf memberikan jawaban yang di 
dalamnya tersirat sikap dokter yang menganggap pasien yang 
dihadapinya adalah orang bodoh.
> 
> Dokter Rauf menjawab pertanyaan istri saya dengan gaya ketus 
seperti ini : " Ibu ! apakah selama ini ibu pernah memikirkan 
bagaimana mata dapat bekerja ? Apakah Ibu pernah memikirkan bagaimana 
jantung bekerja ? ... Tidak Pernah khan ! karena memang bukan ilmu 
yang mudah untuk mempelajarinya.  Ibu tidak perlu mikir yang macam-
macam dan yang sulit-sulit yang Ibu tidak akan faham.  Pokoknya 
penyakit ibu ini disebabkan oleh kehamilan !! "
> 
> Astagfirullah .... istri saya bergumam dalam hati.  Istri saya 
sangat kecewa dengan pernyataan yang diberikan oleh Dokter Rauf.  
Mengharapkan mendapat jawaban yang mampu menjelaskan penyakitnya, 
yang didapatkan malah pernyataan yang meremehkan yang diberikan oleh 
sang dokter.
> 
> Istri saya yang bekerja di bidang farmasi dan cukup mengerti 
tentang hal yang berkaitan dengan fungsi dan cara kerja organ tubuh, 
lebih memilih diam dan tidak melanjutkan pertanyaan kepada Dokter 
Rauf.  Jika mau, istri saya bisa saja memberikan komentar bahwa ia 
mengetahui tentang bagaimana mata bekerja dan bagaimana jantung 
bekerja.  Tapi itu tidak dilakukan oleh istri saya, karena menganggap 
percuma menanggapi seorang dokter yang terlalu bangga dengan 
profesinya, dan terlalu meremehkan orang lain, serta menganggap bahwa 
hanya orang pintar, jenius, dan yang terpilih saja yang mampu 
bergelar dokter.
> 
> Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf adalah kenyataan di lapangan, 
bahwa ada dokter yang tidak memiliki kemampuan untuk berperan sebagai 
dokter yang tidak hanya menyembuhkan.   Peran Dokter pada saat 
seseorang sakit adalah tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit 
tersebut, tetapi juga harus mampu memberikan penjelasan kepada pasien 
tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk menghindari penyakit yang 
dideritanya.  Memberikan penjelasan kepada pasien tentang penyebab 
penyakit dan cara pencegahannya, tidak harus serumit menjelaskan 
bagaimana mata bekerja dan bagaimana jantung bekerja.  Siapapun 
pasien yang dihadapinya, harusnya seorang dokter mau memberikan 
penjelasan yang diminta oleh sang pasien.
> 
> Untuk kasus Dokter Rauf, memberikan penjelasan kepada pasien yang 
nyata-nyata telah "membayarnya" saja tidak mau ia lakukan, apalagi 
jika yang bertanya kepada Dokter Rauf adalah pasien gratisan.
> 
> Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf barangkali jangan dicontoh oleh 
rekan-rekan Dokter yang lain.  Jangan Kikir Ilmu kepada orang yang 
meminta kita menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan.  Ilmu yang dimiliki 
oleh Dokter Rauf pasti tidak akan menjadi berkurang ketika diberikan 
kepada seorang pasien yang membutuhkan penjelasan atas sesuatu hal 
yang secara keilmuan dimiliki oleh seorang Dokter. Sosok seorang 
Dokter sudah tertanam dibenak masyarakat adalah sosok yang sudah 
pasti cerdas, pintar dan berilmu.  Tidak perlu meremehkan orang untuk 
mengingatkan bahwa "Belajar jadi Dokter itu susah".
> 
> Atas kejadian yang menimpanya, istri saya langsung mencoret Nama 
Dokter Rauf dari List Dokter yang harus dikunjunginya ketika sakit.  
Sosok Dokter Rauf harus dihindarinya, karena ketika sakit, istri saya 
berharap memperoleh kesembuhan dari Allah SWT melalui perantaraan 
seorang Dokter yang merawatnya, sekaligus mendapatkan ilmu tentang 
penyakitnya dari dokter yang merawatnya, dan itu tidak ia dapatkan 
dari Dokter Rauf.
> 
> Istri saya yakin bahwa Fenomena Dokter Rauf yang kikir ilmu adalah 
nyata.  Namun ia masih memiliki keyakinan bahwa masih banyak sosok 
Dokter yang TIDAK KIKIR ILMU.
> 
> Wassalamu'alaikum Wr.Wb
>


Kirim email ke