Kelemahan tips ini - menurut saya - adalah tidak adanya penegasan yang
jelas antara pembelajaran anak dan pembelajaran orang dewasa.
(Pedagogy vs Andragogy)

Tips ini mungkin berlaku bagi seorang trainer yang audiensnya adalah
orang yang telah berusia setidaknya seumuran seorang mahasiswa. Itupun
menjadi ambigu, karena relatif sangat bergantung pada bidang apa
mahasiswa yang dimaksud. Mengajar "Metode Numerik" kepada seorang
Mahasiswa Fisika tentu beda dengan saat mengajar "Filsafat Umum" di
kelas Psikologi.

Semakin kabur pengertiannya ketika muncul kalimat "hypnoteaching".
Secara pribadi saya tidak pernah menemukan istilah ini di buku-buku
Pedagogy dan Andragogy bahkan di buku Learning Psychology sekalipun.

Tantangan seorang guru jauuuuuuuhhhhh lebih sulit daripada seorang
trainer. Penguasaan materi harus dibarengi penguasaan metode didik,
karena hubungan guru dan siswa bukanlah hanya di kelas publik, seperti
seorang trainer. Ia bertanggung jawab pada banyak hal. Apatah lagi
jika ia adalah seorang guru anak. Ranah psikologi seperti Kognitif,
Motorik, Afektif juga harus bisa mereka penuhi seoptimal mungkin saat
memberikan ilmu dan mengayom para siswanya.

Demikian sebagai tambahan,

Semoga bermanfaat,

Salam,
Reza Ervani

--- In [email protected], "rahmad nurdin" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Assalamu'alaikum
>
> Pak Farry terima kasih atas advisenya....
>
> 2008/6/12 Farry Yudi Sutami <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> >   Lebih lengkapnya
> > Ikuti mata kuliah
> > Teori Belajar dan Mengajar
> >
> > Sorry
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: rahmad nurdin <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [email protected]
> > Sent: Thursday, June 12, 2008 10:36:04
> > Subject: [rezaervani] [TIPS] TIPS untuk GURU
> >
> >  *Tips bagi seorang Guru, Dosen atau Trainer*
> >
> > Anda seorang guru, dosen atau pelatih? Mungkin, beberapa tips
berikut akan
> > bermanfaat bagi Anda. Mari kita lihat!
> >
> > *Tips #1: Kuasai Materi Secara Komprehensif*
> > Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas
mengajar
> > dengan baik dan menarik. Pasalnya kenapa? Ketika suatu ketika saya
diminta
> > berbicara tentang Training Needs Assessment oleh suatu lembaga,
jujur saya
> > tidak PeDe, walaupun mengetahui tentang training needs assessment.
Tapi
> > ketika saya mengajar mahasiswa tentang pengantar teknologi pendidikan,
> > katakanlah. Kepercayaan diri tinggi, karena memang menguasai betul
tentang
> > hal tersebut. Jika kita menguasai secara komprehensif, tentu akan
mampu
> > memberikan contoh, analogi, ilustrasi yang beragam dan sesuai
dengan konteks
> > serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens.Coba kalau
kita tidak
> > benar-benar menguasai, wauah bakal keringet dingin. Betul, gak? Kunci
> > pertama, menguasai materi..
> >
> > *Tips #2: Libatkan Peserta Secara Aktif*
> > Ketika saya diminta untuk menjadi pembicara dalam suatu pelatihan,
atau
> > mengajar untuk suatu mata kuliah tertentu, hal pertama yang saya
pikirkan
> > adalah "Pengalaman belajar (aktifitas belajar) seperti apa saja
yang harus
> > saya siapkan agar peserta terlibat aktif." Memikirkan strategi
pembelajaran
> > aktif seperti ini bukan perkara mudah, tapi secara kreatif mutlak kita
> > lakukan atau. Pembelajaran tanpa melibatkan peserta belajar secara
aktif,
> > ibarat menabur garam di laut. Bahkan seorang orator ulungpun pada
dasarnya
> > telah berusaha mengaktifkan otak audiensya dengan berbagai cara
sehingga
> > terpukau (hypnoteaching) . Ada ungkapan mengatakan bahwa, "We can
teach
> > fast, but they can forget it much more faster!". Jadi, upayakan
janga selalu
> > terpaku pada ceramah atau mencekoki informasi saja.
> >
> > *Tips #3: Upayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan Peserta*
> > Kadang-kadang guyon, atau berbincang di sela-sela istirahat atau
sebelum
> > memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. Dan tidak
hanya itu,
> > akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan peserta dalam
pembelajaran.
> > Jangan sampai, sudah datang terlambat, langsung bicara, "Baik
Bapak dan ibu
> > sekalian, sesi ini kita akan ,……………". Basa-basi, kalau perlu
dengan guyon
> > terutama diawal-awal memulai pembicaraan biasanya sangat ampuh.
Saya biasa
> > menyiapkan "ice breaker" yang lucu sebelum memulai pelatihan atau
> > perkuliahan.
> >
> > T*ips #4: Beri Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas
> > Belajarnya*
> > Peserta akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk
menentukan
> > sendiri cara belajarnya. Saya, biasanya membangun komitmen atau aturan
> > bersama sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan. Dalam
membangun komitmen
> > atau aturan bersama ini, dibahas bebagai hal yang harus dilakukan
dan apa
> > yang tidak harus dilakukan, dimana keputusannya diambil bersama.
Misalnya,
> > bentuk tugas akhir mau seperti apa, apakah temanya bebas, atau
tertentu dan
> > lain-lain. Atau selama perkuliahan HandPhone harus seperti apa, dan
> > lain-lain. Ternyata teknik seperti ini walaupun tidak ada hukuman,
tapi
> > karena disepakati bersama dan menjadi komitmen bersama akan sangat
membantu,
> > dengan catatan konsisten dilaksanakan bersama. Tentu saja ini
adalah salah
> > satu contoh upaya memberikan kewenangan kendali belajar kepada mereka.
> >
> > *Tips #5: Yakini Bahwa Manusi Belajar dengan Cara yang Berbeda
Satu Sama
> > lain*
> > Dengan demikian, jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang
sama.
> > Implikasinya adalah laksanakan tips 2 dan 4 di atas.
> >
> > *Tips #6: Yakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu*
> > Mempersepsi sejak awal bahwa semua peserta atau mahasiswa kita adalah
> > mampu, dan meyakinkan bahwa mereka mampu akan meningkatkan efektifitas
> > pembelajaran. Motivasi belajar akan menurun ketika mereka merasa tidak
> > mampu. Oleh karena itu, tips ke 5 di atas bisa diterapkan disini.
dalam
> > artian, jangan sampai memberikan kegiatan belajar yang tidak
mungkin mampu
> > mereka capai. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa
> > dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya.
> >
> > *Tips #7: Beri Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu
Secara
> > Kolaboratif atau Kooperatif*
> > Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran
> > karena ada sedikit kompetisi, apalagi kalau mereka diberi
kesempatan untuk
> > saling berbagi ide, pengalaman, argumen secara bebas tanpa harus
saling
> > menjatuhkan satu sama lain.
> >
> > *Tips #8: Upayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual*
> > Guru atau dosen harus pandai pandai mengaitkan materi yang
diajarkan dengan
> > pengetahuan awal audiens atau peserta. Untuk orang dewasa, seperti
dalam
> > pelatihan, materi yang tidak relevan atau tidak ada kaitannya dengan
> > kehidupan atau pekerjaan sehari-hari yang ia lakoni maka walaupun
harus
> > berbusa-busa kita bicara, tidak akan ada manfaatnya.
> >
> > *Tips #9: Berikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif*
> > Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan
> > pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan,
keterampilan atau
> > sikap tertentu.
> >
> > *Tips #10: Tingkatkan Jam Terbang*
> > Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa
> > mengalahkan pengalaman. Sembilan tips di atas akan sempurna dengan
senjata
> > pamungkas nomor sepuluh ini.
> >
> > Semoga bermanfaat
> > (Sumber sebagian diambil dari "Principle of Effective Teaching and
> > Learning, University of Toronto, 1990).
> >
> >  Life for Success
> > Regards,
> > *HENDRY RISJAWAN*
> > - Training & Development Dept.
> > PT A.J. Central Asia Raya (CAR)
> >
> >
> >
> >
> > Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo..com
> >
> >
> >
>


Kirim email ke