Waduh bu, kalo setiap kritik dianggap sebagai bentuk unappreciate terhadap 
kerja pemerintah, repot juga 
...

Saya masih ingat pertanyaan pertama seputar jardiknas kami ajukan pertama kali 
pada januari 2007 
di LIPI Bandung kepada seorang representatif dinas pendidikan, jawaban yang 
keluar tentu membuat para 
guru dan pihak sekolah berbunga-bunga. Setahun berjalan, jauh panggang dari 
api. Tahun ini malah lebih 
parah. Alasan yang kami dapat adalah adanya perpindahan pengelolaan dari satu 
lembaga ke lembaga 
lain, yang kedua-duanya sesungguhnya berada di bawah tanggung jawab pemerintah. 
Lalu terjadilah saling 
lempar tanggung jawab, mulai dari daerah ke pusat.

Saya pribadi sangat antusias dengan program BSE 
ini, itulah mengapa setiap perkembangannya saya usahakan ikuti. 

Di dalam salah satu perguruan 
tinggi di Bandung, penulis pernah melihat sebuah spanduk besar berisikan ucapan 
selamat kepada 
profesor anu karena telah berhasil mendapatkan hibah 20jt rupiah untuk 
penyusunan buku mata pelajaran 
tertentu. Saya appreciate karena pemerintah sudah melibatkan akademisi untuk 
sebuah buku pelajaran, 
walau tak perlulah disyukuri berlebih dengan spanduk besar seperti itu, tokh 
itu bukan uang buat makan-
makan, tapi untuk menyusun buku.

 Ketika pemerintah akhirnya membeli hak cipta 250 buku, saya juga 
bahagia, karena setahu saya ide itu sudah lama dilontarkan oleh para pemerhati 
pendidikan. Walau kami 
tidak pernah tahu buku model apa yang dibeli pemerintah.

Ketika buku-buku itu didigitalisasi, semakin 
bahagia, karena akhirnya ada juga buku gratis untuk pendidikan.

Tapi ketika program-program itu kami 
dapati dieksekusi pemerintah seakan setengah hati, dengan banyak kelemahan 
mendasar yang menurut 
kami tidak harus terjadi, maka memori tentang kampanye jardiknas yang tidak 
sesuai dengan kenyataan 
muncul kembali, apalagi kampanye BSE ini tak kalah gencarnya dengan kampanye 
jardiknas, sampai 
muncul di televisi dan koran.

Jika dirunut ke belakang, banyak sekali program-program pemerintah yang 
setengah hati. Sebut saja Komputer buat sekolah, Internet goes to school dll, 
semuanya tinggal kenangan. 
Sementara kita juga mendapati betapa upaya-upaya dari non pemerintah untuk 
membuat karya 'bantuan' 
justru dibenturkan dengan dinding birokrasi pemerintah yang sulit ditembus. 
Sebut saja satu diantaranya, 
pengembangan radio komunitas untuk pendidikan yang sangat sulit perizinannya, 
teknologi 4G yang 
dianggap haram untuk dikelola pihak non Telkom dll.

Harus ada pula pihak yang berani bersuara keras 
sehingga didengar oleh punggawa pendidikan negeri ini, dan janganlah itu 
dianggap sebagai bentuk 'kurang 
menghargai' hasil karya orang lain.

Demikian bu suara kami, rakyat pendidikan 
Indonesia

Salam,
Reza Ervani

--- In [email protected], helmi purwanti 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya baru baca email hari ini, begitu baca emailnya mas reza, saya jadi 
sedih... kok begini cara seorang intelektual menanggapi hasil karya 
seseorang/lembaga, kenapa saya 
sedih?? karena orang indonesia tidak pernah memberikan reward terhadap hasil 
kerja seseorang, saya 
menilai postif hasil kerja pemerintah dengan pengadaan buku ini, saya tahu 
sulitnya memilih beribu2 buku 
untuk dinilai dan distandard kan, saya pribadi kena dampak dari kerja keras 
pemerintah ini, karena 
Technical Assistant saya bekerja membantu untuk proyek ini, sehingga banyak 
pekerjaan yang 
seharusnya selesai dengan cepat jadi terbengkalai, dan acara workshop Forum 
Perpust Perg Tinggi jadi 
agak amburadul, saya tahu mereka bekerja berhari-hari sampai kurang tidur, 
meninggalkan keluarga, yaa 
kalau hasilnya masih jauh dari sempurna wajar saja, karena ini yang pertama 
kali dilakukan, untuk kedepan 
mudah-mudahan akan lebih baik. Hari ini tgl 30 Juni 2008, Koran Nasional Kompas 
membahas
>  masalah 
Buku Sekolah Elektronik ini.
> Sebetulnya ini harapan saya sejak pemerintah menstandarkan kan nilai 
ujian akhir (UAN), kalau nilai UAN sudah distandardkan, seharusnya buku-buku 
pelajaran sekolah juga ada 
standard nya, jadi tidak setiap sekolah mengadakan buku sendiri dengan penerbit 
yang berbeda-beda.
> 
Thanx
> Helmi Purwanti Maolani
> 
> --- On Sat, 6/28/08, endah sriredjeki <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
From: endah sriredjeki <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Bls: [rezaervani] [CATHAR] BSE, Proyek Setengah 
Hati Mendiknas Menjelang Pemilu 2009
> To: [email protected]
> Date: Saturday, June 
28, 2008, 5:30 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
>  
> 
Sejak kapan ya Reza menjadi pemarah tidak berbaik sangka ?  Semua program 
insyaAllah telah 
direncanakan dan diupayakan untuk dipenuhi semaksimal mungkin sehingga tercapai 
tujuan dan 
sasaran, apalagi ini program nasional.  Tentu saja ada tahapan pencapaiannya.  
E-learning di tingkat 
perguruan tinggi aja belum sepenuhnya bisa diterapkan, namun bukan berarti 
tidak bisa.  Semua ada 
tahapannya dan upaya perbaikan terus-menerus.
>  
> Bagus dong kalo Mendiknas menyadari untuk  
penerapan e-learning berarti guru dan siswa harus dilengkapi dg laptop.  
Artinya sarana tersebut harus 
disediakan untuk kelancaran e-learning yg mungkin baru bisa diterapkan di bbrp 
sekolah yg sudah siap.  So, 
jalan masih panjang..... ..!!!  Sebagai anggota masyarakat kita memang harus 
mengkritisi dan ikut 
mengawasi program2 nasional serta mengambil peran positif.  Bukan provokasi . 
>  
> 
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
>  
> Tukang meneliti tanaman
> Indah SR
> 
endah.sriredjeki@ yahoo.co. uk
> 
>  
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Reza Ervani <[EMAIL PROTECTED] 
com>
> Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> Terkirim: Sabtu, 28 Juni, 2008 07:22:52
> Topik: 
[rezaervani] [CATHAR] BSE, Proyek Setengah Hati Mendiknas Menjelang Pemilu 2009
> 
> 
> 
> 
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
> Udah pernah denger BSE, Buku Sekolah Elektronik 
?
> Udah liat kampanyenya di tipi ?
> Udah pernah nyoba download ?
> Udah pernah ngecek koleksinya 
?
> 
> Saya jadi mikir, apa scanner-nya butut kayak di Rumah Ilmu Indonesia ya
> ? Apa komputernya 
AMD kayak di Rumah Ilmu Indonesia, yang kalo panas
> langsung tewas, harus nunggu 3 hari baru nyala 
lagi ... hiks ...
> 
> Tiga hari terakhir penulis bener-bener mangkel ama jajaran birokrasi
> pendidikan kita. 
Apalagi dengar komentar Mendiknas yang
> bilang,"e-learning baru jalan kalo tiap guru dan siswa punya 
laptop".
> 
> Hwaradalah pak ... pak ..., lantas apa gunanya Jardiknas buat anak
> kampung ...
> 
> 
Sakit hati ? Iya jelas !!!
> 
> Orang awam seperti penulis dengan cepat mikir buruk sangka, kalau apa
> 
yang dilakukan ini semata-mata karena taon depan PEMILU. Jadi sebenarnya
> apa tujuan pesta-pesta 
demokrasi seperti ini ? Ngabisin duit ? Apa dana
> kampanye dan pilkada nggak lebih manfaat kalau 
dibikinin sekolah ....
> 
> Kalau sangkaan ini bener .... Hanya Allah Yang Tahu apa ganjarannya ...
> 
> 
Masya Allah ... masya Allah ...
> 
> Astaghfirullahaladz im .... ternyata rakyat seperti penulis cuma 
bisa
> marah-marah di milis ... hiks
> 
> Salam,
> Reza Ervani
> 
> 
> 
> 
> Dapatkan alamat Email 
baru Anda!
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
>


Kirim email ke