Allah Maha Menggerakkan Bersyukurlah atas apa yang kita nikmati dan miliki, maka kenikmatan pun akan bertambah
Menikah dini adalah untuk menjaga akhlak dan akidah.... Subahanallah 17 tahun bertahan..... tidak mudah akhi.. kalau tidak ada kekuatan dari ALLAH Antum bukan nekad... tapi antum diselamatkan, insya Allah... Adapun masalah2 yang dihadapi pasangan muda adalah resiko dari pilihan menikah muda. Semakin besar masalah, maka semakin besar anugerah. Cita-cita besar akan dipaketkan dengan masalah-masalah besar. Dengan demikian, alangkah ruginya kita jika memiliki masalah-masalah yang besar tapi cita-citanya masih belum besar. Jangan katakan : Wahai Allah, masalahku sangat besar Tapi Katakanlah : Wahai Masalah, Allah itu Maha Besar Salam Sinergi Kang Zen --- In [email protected], Abah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > saya termasuk pelaku pernikahan dini juga, tahun 1991 dalam usia 21,5 tahun. Kalau saya pikir-pikir sekarang sich, keputusan saya dulu itu karena saya termasuk BONEK (bONDO nEKAD) saja, bukan karena MBA (married by aqidah) atau MBA (married by akhlaq). Bagi saya terlalu gaya memaknai seperti itu..he3. eh kebetulan saya bertemu gadis yang juga Bonek, yaitu istri saya sekarang ini. Mau2nya dia dinikahi oleh "mahasiswa pengangguran" tanpa masa depan yang pasti. Mungkin kami sama2 pribadi yang cuek dan ga pedulian dengan orang. Kami juga mungkin bukan tipe orang yang terlalu memandang jauh ke depan, kurang pertimbangan tentang ini dan itu. Untungnya, kami tetap bersatu sampai dengan sekarang, 17 tahun usia pernikahan kami. > Dalam konteks kenormalan, kami termasuk orang-orang yang abnormal. Oki, sebaiknya jangan dijadikan uswah hasanah. Jika Antum masih menggunakan kaidah-kaidah berpikir normal dan rasional dalam melihat lembaga pernikahan, maka sebaiknya tidak mengikuti jejak saya. Kecuali, jika Anda dan calon pendamping Anda merasa sebagai orang yang abnormal. > > Yang Abnormal, > > Dudung Abdurrahman > --- On Thu, 7/3/08, nunuzainulfuad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: nunuzainulfuad <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [rezaervani] Re: [CATHAR] M B A (Married By ....) > To: [email protected] > Date: Thursday, July 3, 2008, 6:02 AM > > > > > > > Alhamdulillah > > Saya pun dulu menikah mudah... 20 tahun > > MBA sih.. > > Married by Aqidah... atau Maried by Akhlaq > > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, Kang Dani <fil_ardy@ .> wrote: > > > > MBA (Married By Azzam) > > Oleh Dani Ardiansyah > > > > Menikah muda? Nggak deh. Setidaknya begitu prinsip saya sejak lama > tentang pernikahan. Meskipun lagi ngetren, saya selalu tetap dengan > prinsip saya. Menikah bukanlah sebuah proses instant yang bisa > dilakukan dengan sekejap mata. Prosesnya panjang, harus saling > menganal secara lebih dalam pasangan, apapun nama prosesnya. Selain > itu, saya beranggapan, sebelum menikah kita harus menjadi kaya dulu, > mapan, dan paling tidak punya usaha. > > > > Menikah adalah salah satu resolusi hidup yang tidak pernah saya > targetkan waktunya. Meski sepenuhnya sadar, bahwa selain sunnah Rasul, > menikah juga secara naluriah menjadi hasrat yang paling manusiawi yang > terkadang bisa jadi sangat mendesak. Tapi saya benar-benar tidak > pernah menargetkannya dengan serius. Berbeda dengan Fachri (AAC), yang > serius membuat peta hidup dengan target menikah. Tentu saja banyak > pertimbangan yang mempengaruhi sikap saya tentang pernikahan tersebut. > > > > Tapi sampai kapan? Orang tua saya bukan orang yang berlebih dalam > hal materi. Jadi sudah bisa disimpulkan, bahwa saya tidak dapat > mengandalkan mereka dalam hal ini. Dari sana, muncul sebuah tekad, > bahwa suatu saat, ketika saya akan menikah, maka segala sesuatunya > harus bisa saya tanggulangi sendiri, tanpa perlu merepotkan orang tua. > Sudah cukup pengorbanan mereka dalam membesarkan saya selama ini. > Meskipun menikahkan anak adalah tugas orang tua, tapi bagi saya, cukup > ridho dari mereka saja yang saya dapatkan. Selain itu, saya harus bisa > melakukannya sendiri. Dari prinsip ini, lalu muncul kesimpulan dalam > diri bahwa saya harus giat dalam bekerja dan mengumpulkan uang > sebanyak-banyaknya. > > > > Saya seorang karyawan swasta dengan gaji yang pas-pasan, background > pendidikanpun tidak menjamin. Saya selalu berfikir, dengan gaji yang > saya terima setiap bulan dengan jumlah yang sangat minim, dan selalu > habis menutupi kebutuhan sehari-hari, akan berapa lama saya > mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan saya kelak? Dan > keraguan-keraguan itu senantiasa muncul, mengganggu pikiran saya, > bahkan menimbulkan sikap pesimis. Tapi, saya tidak pernah berhenti > berdoa, saya selalu meminta kepada Tuhan agar diberikan seorang > pendamping yang akan menerima saya apa adanya. > > > > Hingga pada suatu saat, saya mengenal seorang gadis yang mampu > mengobarkan semangat saya untuk melaksanakan janji yang setara dengan > perjanjian Allah dengan bani israil: Mistaqhon ghalizon; pernikahan. > Keputusan untuk menikah tiba-tiba saja datang tanpa banyak > pertimbangan. Dan sikap saya, tentu saja berbaur, antara rasa percaya > diri dan minder, antara berani dan takut, antara ksatria dan > pecundang. Yah, semuanya menjadi satu. Dan saya merasa harus melakukan > sesuatu dengan perasaan itu. Saya harus mensublimasi semuanya hingga > ada hasil akhir dari perang rasa itu menjadi sebuah sikap: Lahaula > walaquwwata illa billah. Tentunya dengan segala prasangka baik pada > Allah swt, bahwa saya akan menjadi ¡kaya¢ setelah menikah. Dan > segenggam azzam yang tancapkan dalam hati. > > > > Tentu saja ada tahap-tahap dimana saya sebagai seorang laki-laki, > yang siap meminang seorang gadis. Saya harus memenuhi segala > persyaratan yang akan diajukan oleh calon pendamping, seberat apapun. > Dengan tetap berkeyakinan, bahwa Allah akan memberikan calon > pendamping yang tepat, dan mengerti keadaan saya, seperti yang selalu > saya minta dalam doa. > > > > Untuk mempermudah pemetaan kebutuhan pernikahan, saya harus membuat > tabel kebutuhan untuk proses tersebut. Itu yang selalu terpikirkan > oleh saya. Tentu saja dengan segala pertimbangan dan harapan, bahawa > biaya pernikahan saya tidak akan melebihi kemampuan saya. > > > > Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tentu saja saya harus bekerja > keras, saya harus bisa mencari uang tambahan agar semuanya bisa > terpenuhi dengan baik. Tidak banyak waktu yang saya miliki untuk itu. > Karena sejak komitmen itu datang, saya harus segera membuat keputusan. > Karena ini bukan sebuah proses yang biasa dilakukan oleh kebaanyakan > orang, ini adalah proses menuju sebuah mahligai suci. Jika saja saya > menunda-nundanya, berarti saya membiarkan kesempatan yang telah > dijanjikan, bahwa akan sempurnanya separuh agama saya. > > > > Selain itu, saya juga khawatir, setelah komitmen yang saya tegaskan > dalam proses ta'aruf, akan menimbulkan riak-riak cinta yang berlebihan > pada calon istri saya, bukankah hal itu harus dijaga? Agar hati ini > terbebas dari rasa yang tidak seharusnya. Dan, jika pernikahan itu > saya tunda, maka besar kemungkinananya saya akan merasakan hal tersebut. > > > > 18 hari adalah sisa waktu yang saya punya setelah proses khitbah > saya lakukan. Dan itu bukan sebuah waktu yang cukup leluasa untuk > sebuah persiapan pernikahan. Dan lucunya dalam kondisi "tertekan" > seperti itu, kadang-kadang kita sulit berfikir secara jernih. > Alih-alih mencari dan mendapatkan solusi, saya malah merasakan > kebuntuan. Dan disinilah sepertinya kita harus berbagi, mengungkapkan > persoalan yang tengah kita hadapi kepada orang-orang yang kita anggap > mampu memberikan solusi. Atau palung tidak, dengan bercerita kita > telah meringankan beban pikiran kita dengan berbagi, meskipun tidak > ada solusi yang berarti. > > > > walaupun sedikit terlambat, saat itu saya bercerita kepada seorang > teman tentang apa yang sedang saya hadapi saat itu. Dan darinya saya > mendapatkan ide untuk mengatasi masalah keungan yang tengah saya > hadapi. Dia menganjurkan agar saya menjual buku yang pernah saya > tulis, secara online di internet dengan menyertakan alasan saya > menjual buku tersebut, dengan harapan calon pembeli yang membaca > keterangan tersebut, akan menaruh simpati dan memutuskan membeli buku > yang saya jual. Ironis memang. Tapi saya pikir tidak ada salahnya itu > dicoba. > > > > Alhamdulillah, memang Allah maha pemurah, setelah ide itu saya > jalankan, diluar dugaan saya, banyak sekali respon positif atas hal > tersebut. Bukan hanya dari orang-orang yang berniat membeli buku saya, > tapi banyak juga sahabat-sahabat dari dunia maya yang manaruh simpati > pada saya dan membantu mengirimkan uang secara cuma-cuma untuk > membantu biaya pernikahan saya. Dan itu benar-benar membuat saya menangis. > > > > kekhawatiran akan minimnya dana persiapan pernikahan agak mereda. > Saya terhibur oleh kebaikan orang-orang itu. Banyak diantara mereka > yang tidak saya kenal langsung, tapi benar-benar tulus membantu saya. > saya benar-benar membuktikan janji Allah. Bahwa niat yang baik akan > mendaptkan banyak kemudahan yang tidak diduga-duga. > > > > Satu pelajaran benar-benar saya dapatkan. Ketika kita berada dalam > sebuah posisi sulit dan terpojok, jangan pernah enggan berbagi cerita, > mintalah pendapat orang-orang yang dekat dengan kita, karena > terkadang, jawaban doa kita pada sang pencipta, dijawab-Nya melalui > orang-orang yang terkadang tidak kita sangka. Allah menjawab dengan > berbagai cara yang mengejutkan. Jangan pernah berhenti berdoa, dan > jangan pernah berhenti berusaha. > > > > > > Dani Ardiansyah > > I-Moov Mobile Solution > > Jl. Radio Dalam Raya No. 5H > > Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140 > > |Phone +6221 722 8968|Fax +6221 727 97214 | > > HP : 085694771764 > > >
