saya termasuk pelaku pernikahan dini juga, tahun 1991 dalam usia 21,5 tahun. 
Kalau saya pikir-pikir sekarang sich, keputusan saya dulu itu karena saya 
termasuk BONEK (bONDO nEKAD) saja, bukan karena MBA (married by aqidah) atau 
MBA (married by akhlaq). Bagi saya terlalu gaya memaknai seperti itu..he3. eh 
kebetulan saya bertemu gadis yang juga Bonek, yaitu istri saya sekarang ini. 
Mau2nya dia dinikahi oleh "mahasiswa pengangguran" tanpa masa depan yang pasti. 
Mungkin kami sama2 pribadi yang cuek dan ga pedulian dengan orang. Kami juga 
mungkin bukan tipe orang yang terlalu memandang jauh ke depan, kurang 
pertimbangan tentang ini dan itu. Untungnya, kami tetap bersatu sampai dengan 
sekarang, 17 tahun usia pernikahan kami.
Dalam konteks kenormalan, kami termasuk orang-orang yang abnormal. Oki, 
sebaiknya jangan dijadikan uswah hasanah. Jika Antum masih menggunakan 
kaidah-kaidah berpikir normal dan rasional dalam melihat lembaga pernikahan, 
maka sebaiknya tidak mengikuti jejak saya. Kecuali, jika Anda dan calon 
pendamping Anda merasa sebagai orang yang abnormal.
 
Yang Abnormal,
 
Dudung Abdurrahman
--- On Thu, 7/3/08, nunuzainulfuad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: nunuzainulfuad <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [rezaervani] Re: [CATHAR] M B A (Married By ....)
To: [email protected]
Date: Thursday, July 3, 2008, 6:02 AM






Alhamdulillah

Saya pun dulu menikah mudah... 20 tahun

MBA sih..

Married by Aqidah... atau Maried by Akhlaq

--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, Kang Dani <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
>
> MBA (Married By Azzam)
> Oleh Dani Ardiansyah
>
> Menikah muda? Nggak deh. Setidaknya begitu prinsip saya sejak lama
tentang pernikahan. Meskipun lagi ngetren, saya selalu tetap dengan
prinsip saya. Menikah bukanlah sebuah proses instant yang bisa
dilakukan dengan sekejap mata. Prosesnya panjang, harus saling
menganal secara lebih dalam pasangan, apapun nama prosesnya. Selain
itu, saya beranggapan, sebelum menikah kita harus menjadi kaya dulu,
mapan, dan paling tidak punya usaha.
>
> Menikah adalah salah satu resolusi hidup yang tidak pernah saya
targetkan waktunya. Meski sepenuhnya sadar, bahwa selain sunnah Rasul,
menikah juga secara naluriah menjadi hasrat yang paling manusiawi yang
terkadang bisa jadi sangat mendesak. Tapi saya benar-benar tidak
pernah menargetkannya dengan serius. Berbeda dengan Fachri (AAC), yang
serius membuat peta hidup dengan target menikah. Tentu saja banyak
pertimbangan yang mempengaruhi sikap saya tentang pernikahan tersebut.
>
> Tapi sampai kapan? Orang tua saya bukan orang yang berlebih dalam
hal materi. Jadi sudah bisa disimpulkan, bahwa saya tidak dapat
mengandalkan mereka dalam hal ini. Dari sana, muncul sebuah tekad,
bahwa suatu saat, ketika saya akan menikah, maka segala sesuatunya
harus bisa saya tanggulangi sendiri, tanpa perlu merepotkan orang tua.
Sudah cukup pengorbanan mereka dalam membesarkan saya selama ini.
Meskipun menikahkan anak adalah tugas orang tua, tapi bagi saya, cukup
ridho dari mereka saja yang saya dapatkan. Selain itu, saya harus bisa
melakukannya sendiri. Dari prinsip ini, lalu muncul kesimpulan dalam
diri bahwa saya harus giat dalam bekerja dan mengumpulkan uang
sebanyak-banyaknya.
>
> Saya seorang karyawan swasta dengan gaji yang pas-pasan, background
pendidikanpun tidak menjamin. Saya selalu berfikir, dengan gaji yang
saya terima setiap bulan dengan jumlah yang sangat minim, dan selalu
habis menutupi kebutuhan sehari-hari, akan berapa lama saya
mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan saya kelak? Dan
keraguan-keraguan itu senantiasa muncul, mengganggu pikiran saya,
bahkan menimbulkan sikap pesimis. Tapi, saya tidak pernah berhenti
berdoa, saya selalu meminta kepada Tuhan agar diberikan seorang
pendamping yang akan menerima saya apa adanya.
>
> Hingga pada suatu saat, saya mengenal seorang gadis yang mampu
mengobarkan semangat saya untuk melaksanakan janji yang setara dengan
perjanjian Allah dengan bani israil: Mistaqhon ghalizon; pernikahan.
Keputusan untuk menikah tiba-tiba saja datang tanpa banyak
pertimbangan. Dan sikap saya, tentu saja berbaur, antara rasa percaya
diri dan minder, antara berani dan takut, antara ksatria dan
pecundang. Yah, semuanya menjadi satu. Dan saya merasa harus melakukan
sesuatu dengan perasaan itu. Saya harus mensublimasi semuanya hingga
ada hasil akhir dari perang rasa itu menjadi sebuah sikap: Lahaula
walaquwwata illa billah. Tentunya dengan segala prasangka baik pada
Allah swt, bahwa saya akan menjadi ¡kaya¢ setelah menikah. Dan
segenggam azzam yang tancapkan dalam hati.
>
> Tentu saja ada tahap-tahap dimana saya sebagai seorang laki-laki,
yang siap meminang seorang gadis. Saya harus memenuhi segala
persyaratan yang akan diajukan oleh calon pendamping, seberat apapun.
Dengan tetap berkeyakinan, bahwa Allah akan memberikan calon
pendamping yang tepat, dan mengerti keadaan saya, seperti yang selalu
saya minta dalam doa.
>
> Untuk mempermudah pemetaan kebutuhan pernikahan, saya harus membuat
tabel kebutuhan untuk proses tersebut. Itu yang selalu terpikirkan
oleh saya. Tentu saja dengan segala pertimbangan dan harapan, bahawa
biaya pernikahan saya tidak akan melebihi kemampuan saya.
>
> Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tentu saja saya harus bekerja
keras, saya harus bisa mencari uang tambahan agar semuanya bisa
terpenuhi dengan baik. Tidak banyak waktu yang saya miliki untuk itu.
Karena sejak komitmen itu datang, saya harus segera membuat keputusan.
Karena ini bukan sebuah proses yang biasa dilakukan oleh kebaanyakan
orang, ini adalah proses menuju sebuah mahligai suci. Jika saja saya
menunda-nundanya, berarti saya membiarkan kesempatan yang telah
dijanjikan, bahwa akan sempurnanya separuh agama saya.
>
> Selain itu, saya juga khawatir, setelah komitmen yang saya tegaskan
dalam proses ta'aruf, akan menimbulkan riak-riak cinta yang berlebihan
pada calon istri saya, bukankah hal itu harus dijaga? Agar hati ini
terbebas dari rasa yang tidak seharusnya. Dan, jika pernikahan itu
saya tunda, maka besar kemungkinananya saya akan merasakan hal tersebut.
>
> 18 hari adalah sisa waktu yang saya punya setelah proses khitbah
saya lakukan. Dan itu bukan sebuah waktu yang cukup leluasa untuk
sebuah persiapan pernikahan. Dan lucunya dalam kondisi "tertekan"
seperti itu, kadang-kadang kita sulit berfikir secara jernih.
Alih-alih mencari dan mendapatkan solusi, saya malah merasakan
kebuntuan. Dan disinilah sepertinya kita harus berbagi, mengungkapkan
persoalan yang tengah kita hadapi kepada orang-orang yang kita anggap
mampu memberikan solusi. Atau palung tidak, dengan bercerita kita
telah meringankan beban pikiran kita dengan berbagi, meskipun tidak
ada solusi yang berarti.
>
> walaupun sedikit terlambat, saat itu saya bercerita kepada seorang
teman tentang apa yang sedang saya hadapi saat itu. Dan darinya saya
mendapatkan ide untuk mengatasi masalah keungan yang tengah saya
hadapi. Dia menganjurkan agar saya menjual buku yang pernah saya
tulis, secara online di internet dengan menyertakan alasan saya
menjual buku tersebut, dengan harapan calon pembeli yang membaca
keterangan tersebut, akan menaruh simpati dan memutuskan membeli buku
yang saya jual. Ironis memang. Tapi saya pikir tidak ada salahnya itu
dicoba.
>
> Alhamdulillah, memang Allah maha pemurah, setelah ide itu saya
jalankan, diluar dugaan saya, banyak sekali respon positif atas hal
tersebut. Bukan hanya dari orang-orang yang berniat membeli buku saya,
tapi banyak juga sahabat-sahabat dari dunia maya yang manaruh simpati
pada saya dan membantu mengirimkan uang secara cuma-cuma untuk
membantu biaya pernikahan saya. Dan itu benar-benar membuat saya menangis.
>
> kekhawatiran akan minimnya dana persiapan pernikahan agak mereda.
Saya terhibur oleh kebaikan orang-orang itu. Banyak diantara mereka
yang tidak saya kenal langsung, tapi benar-benar tulus membantu saya.
saya benar-benar membuktikan janji Allah. Bahwa niat yang baik akan
mendaptkan banyak kemudahan yang tidak diduga-duga.
>
> Satu pelajaran benar-benar saya dapatkan. Ketika kita berada dalam
sebuah posisi sulit dan terpojok, jangan pernah enggan berbagi cerita,
mintalah pendapat orang-orang yang dekat dengan kita, karena
terkadang, jawaban doa kita pada sang pencipta, dijawab-Nya melalui
orang-orang yang terkadang tidak kita sangka. Allah menjawab dengan
berbagai cara yang mengejutkan. Jangan pernah berhenti berdoa, dan
jangan pernah berhenti berusaha.
>
>
> Dani Ardiansyah
> I-Moov Mobile Solution
> Jl. Radio Dalam Raya No. 5H
> Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140
> |Phone +6221 722 8968|Fax +6221 727 97214 |
> HP : 085694771764
>
















      

Kirim email ke