ADMF adalah salah satu market leader dari industri pembiayaan konsumen di indonesia. Bisnis ADMF adalah dia menerbitkan obligasi untuk mendapatkan dana , dan kemudian dana tersebut di salurkan kepada masyarakat untuk membeli barang - barang konsumsi (motor, mobil, elektronik, dll) dengan bunga yang lebih tinggi dari bunga obligasi yang dia terbitkan, dan dari selisih bunga itulah ADMF dan perusahaan pembiayaan lainnya mnedapatkan keuntungan. Perseroan memperoleh izin usaha sebagai perusahaan pembiayaan pada tanggal 4 Maret 1991. ruang lingkup kegiatan Perseroan dalam bidang perusahaan pembiayaan meliputi sewa guna usaha, anjak piutang, pembiayaan konsumen dan usaha kartu kredit. Pada saat ini, Perseroan terutama bergerak dalam bidang pembiayaan konsumen. Pada tahun 2012, Perseroan menambah ruang lingkup kegiatannya dengan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah. Sejak Januari 2004, PT Bank Danamon Indonesia Tbk menjadi pemegang saham pengendali Perseroan. PT Bank Danamon Indonesia Tbk merupakan anak perusahaan dari Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd., dimana pemegang saham akhir adalah Temasek Holding Pte. Ltd., sebuah perusahaan investasi yang berkedudukan di Singapura dan sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Singapura. Jadi bisa dikatakan ADMF adalah milik singapura. Saat ini 95% saham ADMF dipegang oleh Bank danamon , 0,42% dipegang oleh asuransi adirsa dan sisanya mayarakat umum. Dalam laporan keuangan ADMF Q2 2013, terlihat hutang yang diterima oleh ADMF dari pihak berelasi mencapai 2,8 T. 820 M diantaranya baru baru ini diperoleh dari BMDN sebagai induk usaha ADMF, dan sisanya 1,98 T diperoleh dari pinjaman DBS (Singapore). Melihat laporan keuangan ADMF Q2 2013, saya melihat ada bahaya , bukan saja untuk ADMF namun ini menjadi signal bahaya bagi industri pembiayaan dan mungkin menjadi signal bagi peningkatan kredit macet. Analisa Laporan Keuangan ADMF Melihat grafik di atas tertutama INCOME, terlihat bahwa Walau sales (kredit yang diberikan) ADMF mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari Q2 2010 - Q2 2013, namun net profit ADMF bisa dikatakan stagnan dari Q2 2010 - Q2 2013. Sehingga gross margin pun terus menerus mengalami penurunan. Dan kalau kit alihat lebih teliti lagi di LK Q2 2103 ADMF ada pos Penyisihan kerugian yang menglami peningkatan dari 428 M pada Q 2 2012 menjadi 624 M pada Q2 2013. artinya ada peningkatan resiko kredit macet sehingga penyisihan kerugian pun bertambah.
Selengkapnya : http://bei5000.com/2013/08/17/analisa-admf-q2-2013/ bei5000.com http://www.facebook.com/rhliembono twritter : @bei5000
