Saya sangat setuju dengan pendapat Pak IAN
   
  Pasti ada beberapa orang yang merasa terusik karena keuntungan yang milyaran 
dolarnya bisa hilang dengan waktu yang begitu cepat .... (tidka sampai 3 thn)
   
  Siapapun juga orang nya yang sudah mendapat milyaran dolar per tahun tidak 
akan mau kehilangan pendapatannya tersebut ... SIAPA YG MAU ?
   
  Bayangkan dengan duit milyaran dolar pasti bisa dipakai degan tujuan apapun:
  1. membuat opini tentang keawetan mesin
  2. menggagalkan / mensabotase 
  3. dibuat membeli orang tersebut dengan nilai 100 miliar agar tidak 
meneruskan usahanya .. kalau seperti ini siapa yang tidak mau ???
  4. langkah terakhir seperti Stanley Mayer yang akhirnya mati 

   
  
Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya belum tahu, yang Pak Joko punya itu yang seperti apa. Tapi
berdasarkan informasi yang saya dapatkan, katanya air lautnya itu
diolah dulu jadi bahan bakar sebelum dimasukan ke dalam mobil. 

Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya dari penemuan Pak Joko ini,
apakah memang benaran bisa diproduksi massal dengan biaya murah
ataukah tidak. 

Kalau mengikuti berita di Jawa Pos, katanya April ini untuk wilayah
Jakarta, sudah bisa mulai menikmati bahan bakar hasil olahan air laut
dengan harga Rp3000/liter nya. Jauh lebih murah dari harga bensin
sekarang.

Yang jelas, akan banyak pihak2 yg merasa dirugikan atau tidak
diuntungkan bila penemuan Pak Joko ini benar2 bisa dibuat dan
diproduksi untuk massal. Akan banyak yang tidak suka kalau teknologi
ini benar-benar bisa terbukti.

Jadi, bersiaplah untuk tidak berharap terlalu banyak karena yang
seperti ini ujung-ujungnya nanti kepentingan tertentu yang menguasai
rupiah jumlah besar pula yang akan menentukan apakah hal ini akan
dilanjutkan atau disimpulkan tidak layak diteruskan.

Bersiaplah untuk mengelus dada dan menerimanya menjadi kenangan
sesaat. Kecuali bila ternyata apa yg dibuat Pak Joko ini benar2
terbukti dan kita memiliki orang2 idealis yang tidak memikirkan
kepentingan2 pribadi/kelompok, dan terus dengan nekat membuat
teknologi ini berkembang menjadi hal yang memang bisa dibuat untuk massal.

Ingatlah, bisnis minyak itu bisnis triliunan dollar. Jumlah yang
sangat besar yang mana orang tidak akan rela bisnisnya jadi terganggu.
Mereka akan rela mengeluarkan jutaan dolar untuk menggagalkan
teknologi ini. Boleh percaya boleh tidak. Tapi setidaknya, orang
Amerika, Stanley Meyer, harus kehilangan nyawanya karena mencoba
membuat teknologi energi/bahan bakar dari air.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

--- In [email protected], Otto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bang Irwan..
> punya tulisan lebih mendalam engga tetang blue energy ini... 
> di forum sebelah ada yg bilang blue energy ini merupakan generasi
kedua dari
> Biodiesel. Dimana untuk membuat biodiesel ini ada tahap sumber karbon
> (minyak nabati/jarak) dicampur dengan methanol. Sedangkan pada "blue
energy"
> sumber karbon (minyak nabati/jarak) dicampur dengan hidrogen yang memang
> berasal dari air setelah melalui proses elektrolisa. Untuk proses
pemisahan
> hidrogen dan oksigen membutuhkan energi listrik. Dan hal ini yang
menjadi
> kontroversi di barat sana... karena energi listrik yang dibutuhkan
sangat2
> besar. Pada artikel ..Pak Joko juga bilang syaratnya.. butuh listrik
yang
> murah ... sementara setau saya.. listrik PLN juga subsidi... 
> 
> yg ingin saya tanyakan.. apakah blue energy pak joko ini berbeda
dengan blue
> energy yg telah ada (telah diteliti) selama ini?
> kalau berbeda.. engga usah worried lah masalah patent..
> 
> Sejujurnya saya salut pada Pak joko... satu dari sedikit orang yang
lebih
> ingin mencari solusi daripada komplain tidak jelas sehubungan
kenaikan harga
> minyak dunia..
> 

>



                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke