Bang,

Terima kasih banyak atas pembelajarannya.

Rgds,
Ferry W.



----- Original Message ----
From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, July 11, 2008 8:12:14 AM
Subject: [saham] Re: BV CTRA, CTRP, CTRS


Pak Ferry,

Pada dasarnya, ketika kita membeli saham, kita membeli 
masa depan, kita membeli prospek di masa mendatang.
Data berdasarkan laporan keuangan ada data masa lalu alias
sudah terjadi. Apa yang sudah terjadi, bisa kita jadikan
dasar untuk membuat perkiraan di masa mendatang.

Selain itu, kita juga melihat prospek bidang atau
sektor industrinya.

Untuk sektor property, salah satu yg perlu diperhatikan
adalah landbank yang dimiliki atau rencana2 pembangunan
berikutnya apakah lokasinya termasuk yg menjanjikan alias
prospektif.

Semakin prospektif lahannya atau property yg sedang
dibangun, maka nilai PBV nya sewajarnya bisa semakin
tinggi. Tentunya juga harus dilihat time frame nya.
Kalau masih lama, tentunya investor juga akan mendiskon
soal waktu itu ke harga sahamnya.

Sekedar contoh Ciputra World lagi mulai dibangun
di daerah segitiga emas Jakarta. Dari sisi lokasi,
jelas sangat prospektif. Dari sisi sini harusnya sih
PBV nya bisa antara 1-2x. Hanya saja, saat ini kondisi
dan situasi ekonomi kita sedang masuk tahap hati2
dikarenakan inflasi yg tinggi bukan karena demand
push inflation tapi karena cost push inflation.
Selain juga perlu diketahui berapa tahun lagi baru
ciputra world itu bisa selesai. Kalau masih lama,
tentunya pemain saham akan mendiskon nilainya.

Saat ini BI mulai menaikkan suku bunganya. Tingkat suku bunga
pinjaman pun mulai merangkak naik. Hal inilah yg mungkin
membuat sektor property di bursa kita didiskon nilai
PBV nya oleh para pemain saham karena mungkin saja
para pemain saham itu melihat nilai aset perusahaan
yg menurun karena harga pasar propertinya juga ikut
menurun setidaknya penurunan dari sisi demand.

Tidak ada cara lain yg lebih baik untuk menilai 
harga saham perusahaan property selain dengan menghitung
ulang harga2 aset perusahaan itu hingga bisa melihat
harga wajar dari nilai bukunya. Baru setelah itu,
melihat kembali kinerja perusahaan dari sisi EPS nya.
Barulah kemudian menentukan harga wajar sahamnya
dengan memperhatikan prospeknya dimasa mendatang.
Ketika pasar property sedang bullish, maka nilai
asetnya juga akan ikut naik, karenanya PBV nya jadi
tinggi pada saat bullish. Tapi, pada saat pasar property
sedang mengalami tekanan, maka nilai asetnya pun juga
akan jadi terdiskon sehingga nilai PBV nya pun juga
akan ikut kena dampak terdiskon oleh pasar.

Satu perusahaan properti bisa punya patokan
PBV atau pun PER dengan perusahaan properti lainnya
yg tidak sama karena masing2 memiliki potensi aset
yg berbeda.

catatan:
Setiap sektor bisnis usaha bisa punya cara2 berbeda
dalam mecoba menghitung valuasinya. Cara menilai perusahaan
properti akan berbeda dengan cara menilai perusahaan
banking, beda pula dengan perusahaan tambang,
maupun perkebunan.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

--- In [EMAIL PROTECTED] com, Ferry Wachjudi <ferry_wachjudi2000 @...>
wrote:
>
> Bang,
> 
> dlm keadaan normal harga saham dibanding BV, rationya berapa untuk
perusahaan properti?
> 
> Thanks & Rgds,
> Ferry W.
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Irwan Ariston Napitupulu <irwanariston@ ...>
> To: [EMAIL PROTECTED] com
> Sent: Thursday, July 10, 2008 9:09:23 PM
> Subject: [saham] Re: BV CTRA, CTRP, CTRS
> 
> 
> BV dan EPS, keduanya sama2 penting.
> Yang tidak kalah pentingnya dari BV dan EPS adalah
> growth.
> 
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] com, Ricky Dahlan <er_dahlan@ ..> wrote:
> >
> > Terima kasih Bang IAN, lalu mana yang lebih penting BV dengan PER?
> > 
> > Thanks and Jabat Erat
> >
>

    


      

Kirim email ke