Dalam menghadapi perkembangan situasi belakangan ini yang tidak
kondusif, pemerintah perlu mengambil tindakan2 penting dan cepat
dengan prioritas pada kepentingan nasional.

Saat ini tidak ada hal yang mendesak untuk membuka bursa saham dengan
segera. Bila bursa saham di buka, hanya akan memberikan kesempatan
institusi asing dan juga lokal untuk menjual portfolionya dan
kemungkinan akan mengkonversinya ke dolar. Pihak asing kemungkinan
akan menarik dana keluar dari Indonesia, pihak lokal kemungkinan akan
menaruhnya di LN yang dia anggap cukup aman. Kejadian krisis tahun
1997/98 hanya tinggal menunggu waktu saja terulang bila hal tersebut
terjadi.

Pemerintah saat ini perlu mengambil tindakan2 tegas dan cepat dalam
mengantisipasi keadaan. Jangan menunggu negara lain dulu bertindak
baru kita bertindak. Kita punya jatidiri, kita tahu apa yang menurut
kita baik untuk bangsa ini. Pemerintah perlu memegang tongkat komando
dengan erat dan percaya diri. Go to hell, IMF!

Awal September lalu, melalui milis [email protected], saya telah
berkali2 menyarankan otoritas bursa untuk segera menutup fasilitas
short sell (menjual saham tanpa memiliki saham lebih dahulu) dalam
situasi bearish (negatif) seperti sekarang. Otoritas bursa tampaknya
tidak sependapat. Sekitar 3 hari kemudian setelah saya melontarkan
pemikiran tersebut, otoritas bursa di Amerika yang justru kemudian
mengambil tindakan pelarangan short sell. Otoritas bursa kita akhirnya
baru melakukan pelarangan short sell mulai awal Oktober.

Selain bursa saham yang perlu ada tindakan antisipasi dengan segerak,
transaksi valas pun segera harus diambil tindakan2 antipasi
secepatnya. Transaksi valas harus segera diatur dan dibatasi agar
ruang gerak para spekulan rupiah bisa ditutup sama sekali. Mata uang
rupiah bukan untuk spekulasi. Mata uang rupiah digunakan untuk
transaksi di sektor riil, bukan ajang spekulasi. Thailand selama
beberapa tahun ini telah berhasil menjalankan kebijakan tersebut
dengan menerapkan dual rates, offshore rate dan onshore rate. Mereka
juga menutup ruang gerak spekulan untuk bisa melakukan transaksi valas
dalam jumlah besar. Bank asing di luar Thailand ditutup ruangnya untuk
bisa memainkan Baht Thailand.

Rekomendasi saya kali ini adalah:
1. Tutup bursa saham sampai batas waktu yang belum ditentukan dengan
alasan demi kepentingan nasional yang lebih luas.
2. Pengaturan transaksi valas dengan ketat agar rupiah tidak jadi
ajang spekulasi. Transaksi valas hanya bisa dilakukan bila ada
underlying-nya atau ada didukung transaksi sektor riil nya baik itu
ekspor ataupun impor.
3. Turunkan BI rate sampai ke level yang bisa mendorong sektor riil.
Idealnya BI rate ada di 3%.
4. Hapuskan Pajak Ekspor CPO dan lainnya menjadi 0%. Pengecualian
hanya kepada komoditi yang tidak renewable seperti batubara, emas,
nikel, timah, dll.
5. Gunakan bank-bank pemerintah sebagai ujung tombak untuk penyaluran
dana ke sektor-sektor riil. Sektor pertanian, peternakan, dan nelayan
adalah sektor2 yang harus mendapat perhatian pemerintah secara serius
karena sektor2 ini yang bisa menyerap banyak tenaga kerja dan
terbilang cukup aman dari ancaman krisis.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke