kondisinya berbeda, 
tahun 1998 dikarenakan masalah moneter (valas), sosial politik, inflasi yang
tidak terkendali dan banyak kredit yang macet
tahun 2005 (atau 2006, saya lupa), kenaikan BBM, inflasi kita YoY sekitar
17% dan index mengalami penurunan 
sekarang, inflasi kita masih dibawah itu tapi index turun lebih dalam,
sosial politik cukup stabil, inflasi dan kredit masih terkendali
 
saya cumen tau dan yakin bahwa di dunia ini ada yang namanya TABUR dan TUAI,

tahun 1997-1998, terutama dari US (George Soros) yang mengunjang ganjingkan
pasar di asia, sehingga banyak bank-bank asia yang collapse, sekarang, tahun
2008, banyak bank-bank dan lembaga keuangan di US yang collapse
 
semua ada waktunya, orang lain boleh bersenang-senang diatas penderitaan
orang lain, tapi nanti ada waktunya mereka akan tuai kembali apa yang telah
mereka lakukan, believe it or not, that is ur choice
 
God bless us all,
Sudeswanto

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Steven Pribadi
Sent: 10 Oktober 2008 9:17
To: [email protected]
Subject: Balasan: [saham] Kepentingan Nasional Haruslah Didahulukan



BETUL SEKALI PAK
JANGAN SAMPAI KRISIS 1998 TERULANG KEMBALI
SUNGGUH MENAKUTKAN AKIBATNYA
SBY HARUS SEGERA MENGELUARKAN PERPU UNTUK ITU
JANGAN PEDULIKAN KEPENTINGAN PRIBADI/KELOMPOK
DAHULUKAN KEPENTINGAN BANGSA
INGAT PARA PEJABAT-JANGAN SEKALI KALI ADA PIKIRAN KOTOR UNTUK BER-KKN.

SALAM

Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


Dalam menghadapi perkembangan situasi belakangan ini yang tidak
kondusif, pemerintah perlu mengambil tindakan2 penting dan cepat
dengan prioritas pada kepentingan nasional.

Saat ini tidak ada hal yang mendesak untuk membuka bursa saham dengan
segera. Bila bursa saham di buka, hanya akan memberikan kesempatan
institusi asing dan juga lokal untuk menjual portfolionya dan
kemungkinan akan mengkonversinya ke dolar. Pihak asing kemungkinan
akan menarik dana keluar dari Indonesia, pihak lokal kemungkinan akan
menaruhnya di LN yang dia anggap cukup aman. Kejadian krisis tahun
1997/98 hanya tinggal menunggu waktu saja terulang bila hal tersebut
terjadi.

Pemerintah saat ini perlu mengambil tindakan2 tegas dan cepat dalam
mengantisipasi keadaan. Jangan menunggu negara lain dulu bertindak
baru kita bertindak. Kita punya jatidiri, kita tahu apa yang menurut
kita baik untuk bangsa ini. Pemerintah perlu memegang tongkat komando
dengan erat dan percaya diri. Go to hell, IMF!

Awal September lalu, melalui milis [EMAIL PROTECTED]
<mailto:saham%40yahoogroups.com> com, saya telah
berkali2 menyarankan otoritas bursa untuk segera menutup fasilitas
short sell (menjual saham tanpa memiliki saham lebih dahulu) dalam
situasi bearish (negatif) seperti sekarang. Otoritas bursa tampaknya
tidak sependapat. Sekitar 3 hari kemudian setelah saya melontarkan
pemikiran tersebut, otoritas bursa di Amerika yang justru kemudian
mengambil tindakan pelarangan short sell. Otoritas bursa kita akhirnya
baru melakukan pelarangan short sell mulai awal Oktober.

Selain bursa saham yang perlu ada tindakan antisipasi dengan segerak,
transaksi valas pun segera harus diambil tindakan2 antipasi
secepatnya. Transaksi valas harus segera diatur dan dibatasi agar
ruang gerak para spekulan rupiah bisa ditutup sama sekali. Mata uang
rupiah bukan untuk spekulasi. Mata uang rupiah digunakan untuk
transaksi di sektor riil, bukan ajang spekulasi. Thailand selama
beberapa tahun ini telah berhasil menjalankan kebijakan tersebut
dengan menerapkan dual rates, offshore rate dan onshore rate. Mereka
juga menutup ruang gerak spekulan untuk bisa melakukan transaksi valas
dalam jumlah besar. Bank asing di luar Thailand ditutup ruangnya untuk
bisa memainkan Baht Thailand.

Rekomendasi saya kali ini adalah:
1. Tutup bursa saham sampai batas waktu yang belum ditentukan dengan
alasan demi kepentingan nasional yang lebih luas.
2. Pengaturan transaksi valas dengan ketat agar rupiah tidak jadi
ajang spekulasi. Transaksi valas hanya bisa dilakukan bila ada
underlying-nya atau ada didukung transaksi sektor riil nya baik itu
ekspor ataupun impor.
3. Turunkan BI rate sampai ke level yang bisa mendorong sektor riil.
Idealnya BI rate ada di 3%.
4. Hapuskan Pajak Ekspor CPO dan lainnya menjadi 0%. Pengecualian
hanya kepada komoditi yang tidak renewable seperti batubara, emas,
nikel, timah, dll.
5. Gunakan bank-bank pemerintah sebagai ujung tombak untuk penyaluran
dana ke sektor-sektor riil. Sektor pertanian, peternakan, dan nelayan
adalah sektor2 yang harus mendapat perhatian pemerintah secara serius
karena sektor2 ini yang bisa menyerap banyak tenaga kerja dan
terbilang cukup aman dari ancaman krisis.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu




  _____  

Dapatkan
<http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.pro
motions.yahoo.com/newdomains/id/> nama yang Anda sukai! 
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com. 

 

Kirim email ke