Pak Irwan,
 
Sanyat sangat setuju dengan Pendapat Pak Irwan 10000000000%
Tidak bisa dikatakan dengan kata-kata,
Apalagi mereka juga punya anak, istri yang bergantung hidup ke ayahnya ... 
KASIHAN
Gaji cuma berapa tapi resiko kesehatan bagi mereka sangat tinggi
Dan untuk meminimalkan BUKAN menghilangkan racun harus ada susu
 
Dan harus ada dokter yang survey dan cek fisik para pekerja pom bensin,
Jadi rekomendasi yang keluar dari dokter ...
 
Sebaiknya email ini dikirim ke Pertamina dan Ikatan Dokter Indonesia 

--- On Wed, 10/22/08, Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [saham] OOT: Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin
To: [email protected]
Date: Wednesday, October 22, 2008, 3:03 AM






Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin

Ketika mengisi bensin, saya sering kali ngobrol dengan petugas pom bensinnya. 
Kebiasaan saya memang suka mengobrol dengan siapa saja. Sering kalinya saya 
hanya ingin menambah wawasan saja dari hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan 
oleh saya sebelumnya.

Kembali ke soal perbincangan saya dengan beberapa petugas pom bensin. Hal yang 
beberapa bulan ini saya tanyakan ke mereka di berbagai tempat pom bensin adalah 
apakah mereka tidak pusing mencium bau bensin setiap hari dan kenapa mereka 
tidak memakai masker penutup hidung agar mengurangi uap bensin yang terhirup.

Hal tersebut saya tanyakan, karena saya saja yang berdiri sebentar sambil 
ngobrol, sudah langsung pusing karena menghirup bau bensin tersebut.

Mereka, kurang lebih sepuluh orang, yang saya tanyakan semuanya menjawab bahwa 
sebenarnya mereka juga pusing. Mereka merasakan dada yang sesak. Dan makin 
parah lagi kalau pas mereka sedang sakit, katakan saja flu, perasaan sakit di 
dada semakin menjadi.

Ketika saya tanyakan kenapa mereka tidak memakai masker, jawaban mereka 
semuanya sama yaitu karena kebijakan perusahaan. Perusahaan melarang mereka 
memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk 
tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Mereka bilang, kalau mereka pakai 
masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke nasabah dan itu 
akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan.

Hazrah kazrah!

Saya terkaget mendengar jawaban mereka. Jawaban mereka semuanya seragam. 
Jawaban mereka pun semakin diperkuat dengan iklan Pertamina di televisi yang 
mengutamakan senyum petugasnya ketika melayani pelanggan.

Ironisnya, dibalik senyum yang mereka berikan, ada derita yang harus mereka 
tanggung dengan mencium uap bensin setiap hari yang dapat memberikan gangguan 
yang serius kepada kesehatan mereka, khususnya paru-paru dan otak mereka.

Saya sebagai pelanggan lebih senang melihat mereka memakai masker penutup 
hidung, ketimbang mereka melayani dengan senyum tapi saya tahu dibalik 
senyumnya, mereka menanggung derita yang tidak ringan.

Melalui tulisan ini, saya mengajak kita yang peduli terhadap nasib para pekerja 
pom bensin untuk menyerukan kepedulian kesehatan petugas pom bensin agar 
pertamina dan pemilik pom bensin melengkapi petugas pom bensin dengan masker 
penutup hidung. 

Saya sebagai pelanggan pom bensin lebih peduli kesehatan petugas pom bensin 
ketimbang senyuman mereka ketika mereka mengisikan bensin ke kendaraan saya. 
Saya sudah mulai merasa tidak nyaman karena tahu dibalik senyuman petugas pom 
bensin ada derita yang harus mereka tanggung akibat menghirup uap bensin.

Semoga melalui tulisan ini, nasib kesehatan petugas pom bensin bisa diperbaiki 
dimulai dengan memakai masker penutup hidung.

catatan:
Sekedar tambahan catatan, untuk pom bensin yang buka 24 jam, diterapkan tiga 
shift kerja. Kurang lebih mereka bekerja seharinya sekitar 8-9 jam. Jumlah jam 
yang cukup lama untuk menghirup uap bensin terus menerus.

Silahkan di forward tulisan ini, khususnya ke mereka yang anda pikir dapat 
mempengaruhi untuk merubah kebijakan agar para petugas pom bensin dibolehkan 
memakai masker penutup hidung.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
 














      

Kirim email ke