Kalau saya secara pribadi lebih mengaitkan PE dengan potensi pertumbuhan usaha emiten dibanding inflasi.
Bagaimana dengan ilustrasi ini: Si Trebor di Amerika sana punya modal US$ 10,000. Pada saat itu USDIDR ada di 10,000 USD/IDR. Kemudian si Trebor beli saham di IDX dengan semua uangnya yaitu IDR 100,000,000. Enam bulan kemudian Si Trebor jual semua sahamnya di IDX karena sudah untung 10% (dalam IDR) dan sekanrag di punya uang tunai IDR 110,000,000. Kemudian dia menarik semua uangnya yang ada di IDX untuk dibelikan saham C di NYSE. Pada saat itu posisi USDIDR ada di 9,000, jadi dia punya aung tunai US$ 12,222 (berasal dari 110,000,000/9,000). Dari ilustrasi ini dan dengan mengabaikan semua fee jual/beli dan remittance, Si Trebor sudah untung 22,22% [berasal dari (12,222-10,000)/10,000*100%]. Keuntungan ini adalah dalam mata uang US$. Nah, tergantung domisili investor (dimana dia akan menggunakan uangnya untuk kebutuhan riil dan situasi/harapan terhadap ekonomi global saat itu, mungkin forex lebih menentukan dibanding kondisi inflasi. 2010/8/23 Radi P. <[email protected]> > > > Thanks Pak Fabianto infonya, > Soalnya beberapa kali saya membaca berita ekonomi di beberapa media > elektronik turut merekomendasikan buy utk emiten2 di bei dgn alasan PER BEI > jauh lebih rendah dari Singapura, US, dll. > > > ------------------------------ > From: Fabianto Wangsamulya <[email protected]> > Sent: Monday, 23 August 2010 4:37 PM > To: [email protected] > Subject: Re: Bls: [saham] ihsg > > > > Menurut saya PER BEI tidak begitu saja bisa dibandingkan dengan bursa > luar karena inflasi tiap negara beda2. Suku bunga di Indonesia 6.5%, > sedangkan di USA hanya 0.25% dan di Eropa 1%. Perbedaan suku bunga ini > mengakibatkan perbedaan premium sehingga misalnya ekspektasi gain 10% di BEI > tergolong kecil (selisih 3.5% dengan suku bunga penjaminan atau beda 53.85%) > tetapi ekspektasi gain 10% di NYSE tergolong besar (selisihnya 9.75% dengan > suku bunga Fed atau beda 3900%). > > --- > Fabianto > > --- On *Sat, 8/21/10, [email protected] < > [email protected]>* wrote: > > > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: Re: Bls: [saham] ihsg > To: [email protected] > Date: Saturday, August 21, 2010, 7:30 PM > > > > Wah klo itu jujur saya juga kurang tahu. Mgkn akan lebih baik dijawab para > Suhu yg lbh mengetahui/sdh ambil CFA. > > Tapi klo mengambil rata2 sampai 20tahun ke belakang bukannya terlalu > panjang pak? Mnurut saya inflasi kita 5-10 tahun ke blkang cukup terkendali > dan dlm kondisi pengelolaan yg baik. Lagipula sebagian besar perusahaan > justru diuntungkan dengan inflasi yg cukup tinggi yg berarti peningkatan > pendapatan. GJTL, INDF, UNVR, ASII, JSMR, SMGR dll adalah contohnya. Dr > kacamata ini berarti peningkatan pendapatan perusahaan di Indonesia lebih > baik drpd di eropa/AS. > > Outlook kedepannya, kondisi ekonomi Indonesia masih baik apalagi Ratio > Utang Indonesia dibandingkan GDP juga trus turun. Makanya lembaga rating dlm > wktu yg tdk lama lagi sy rasa akan memasukan Indonesia ke dalam investment > grade. > > Semoga membantu > > Sent from BlackBerry® on 3 > ------------------------------ > *From: *Radi P. <[email protected]> > *Sender: *[email protected] > *Date: *Sat, 21 Aug 2010 17:49:59 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: *[email protected] > *Subject: *RE: Bls: [saham] ihsg > > > > Pak Rahmat, > > Apakah jika rata2 PER BEI 15X bisa kita asumsikan secara langsung lebih > murah jika dibanding PER rata2 bursa katakanlah di Eropa 20X? Jika dimana > dalam kondisi misalkan 20 tahun terakhir, inflasi di indonesia 10X lebih > tinggi dari rata2 inflasi eropa. > Mohon pencerahannya. > > Salam. > Rp. > > > >
