Jakarta – Inflasi di China pada Agustus 2010 tampaknya akan terus 
meningkat. Hal ini karena kenaikan biaya makanan dan pertumbuhan 
industri yang terlalu cepat.  
Harga konsumen naik 3,5% pada Agustus dibandingkan periode tahun 
sebelumnya, tingkat tertinggi selama 22 bulan terakhir dan naik tipis di
 atas 3,3% pada Juli. Demikian menurut Biro statistik nasional Sabtu 
(11/9) ini. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga pangan yang naik 
7,5%, menyusul badai musim panas dan banjir yang merusak tanaman dan 
pengiriman.
Harga-harga dalam perekonomian Cina yang tumbuh pesat, bahkan telah 
melampaui ekonomi terbesar, AS, yang hanya naik 1,2% selama 12 bulan 
yang berakhir pada Juli. Ini menunjukkan ekonomi global telah menjadi 
semakin tergantung pada ekspansi cepat Cina, sebagai mesin pertumbuhan. 
Sementara Indeks Harga Konsumen delapan bulan ini meningkat 2,8% YoY 
dan pemerintah China telah menetapkan target inflasi 3% pada 2010.   
“Ada banyak faktor pemicu kenaikan harga dan saya pikir ada faktor untuk
 menurunkan harga,” ujar Juru Bicara NBS Sheng Laiyun.
Peningkatan konsumsi pada Agustus juga dipicu penjualan mobil yang 
lebih baik dari estimasi. Penjualan eceran barang konsumsi mencatatkan 
nilai US$185 juta, naik 18,4%. Investasi pada pabrik meningkat mencapai 
US$2,1 miliar, naik 24,8%.
Analis memperkirakan, inflasi akan tetap menjadi sorotan. Diharapkan 
lonjakan harga pangan hanya efek sementara. Secara keseluruhan, China 
akan terus menunjukkan perlambatan pertumbuhan industri hingga akhir 
tahun.
Robert Brusca FAO Ekonomi mengatakan, China harus berhati-hati karena
 tujuan utama mereka adalah stabilitas dalam negeri, dan hal ini 
memerlukan kerja,"Tapi mereka tidak bisa membiarkan inflasi lolos dari 
mereka. Jadi mereka masih bisa mengendalikan inflasi." [ast]
Rita



      

Kirim email ke