Wkwkwkw iya cih tp pasti kalo invest skrg cnth XXXX 10 lot hrg 50=250.000 2010 
entr jualnya 2030 kira2 jadi apa ya maybe hrgnya jadi 50.000 jadi duit kita 
250.000.000
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: "RonaLd. W e-Mail®" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 23 Sep 2010 11:03:08 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Investor Tulen

Kalo itu tahun yang bagus buat investasi 90an
Ekonomi dunia sedang stabil. Semua negara sedang lepas landas...menuju 
kemakmuran.

Gak tau zaman sekarang. Terlalu banyak "noise"
Dan chaos.

Gak tau deh ..besok2. Hehehe... Zaman cepat berubah.
Apalagi dunia semakin tua.
Cepat kena penyakit dan uzur. hehhehe...



Sent from my BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Budiono Kurniawan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 23 Sep 2010 18:52:30 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Investor Tulen

sabar subur...tunggu 20 tahun ( seperti asuransi aja tunggunya )
ternyata invest saham ngak perlu modal gede ya....
tapi kalau main saham kok perlu modal besar

--- On Thu, 9/23/10, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [saham] Investor Tulen
To: [email protected]
Date: Thursday, September 23, 2010, 4:49 AM







 



  


    
      
      
      












Go kil ceritanya mantaps jadi setiap tahun dapat 725 itu uda termsk divided gk 
ya?Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphoneFrom:  D0N Qicot 
<[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Thu, 23 Sep 2010 03:26:24 -0700 (PDT)To: 
<[email protected]>ReplyTo:  [email protected]
Cc: <[email protected]>Subject: [saham] Investor Tulen

 



    
      
      
      
Kisah Eddy 'Menyulap' Saham AQUA ala Warren Buffet


                          Indro Bagus - detikFinance
        



              
                

                

                
                                        

        

                        
<a
 
href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a3db6179&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE'
 target='_blank'><img 
src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=31&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3db6179'
 border='0' alt='' /></a>


        

        


        Jakarta -
        Eddy Rustanto mungkin bukan seorang investor kakap bermodal miliaran 
rupiah. Namanya boleh jadi tidak dikenal publik. Namun tidak mustahil 
jika dirinya akan

menjadi sosok impian setiap investor saham.



Jika
 Warren Buffet dikatakan pernah menyulap saham Coca-Cola seharga US$ 1 
per saham menjadi US$ 1.000 per saham, mungkin kisah yang 'hampir' sama 
akan dialami

Eddy.



Pada tahun 1990, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1990, PT Aqua Golden Mississippi

menggelar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Dengan

mencatatkan saham sebanyak 6.000.000 saham. Harga pelaksanaan IPO perusahaan

yang menyandang kode AQUA ini sebesar Rp 7.500 per saham dengan nilai nominal Rp

1.000 per saham.



Eddy Rustanto, merupakan salah seorang investor yang berpartisipasi dalam IPO

itu.
 Tak banyak yang ia beli, jumlahnya tidak sampai 1 lot. Sebagai catatan,
 untuk masa itu, investor dimungkinkan membeli saham berjumlah di bawah 
500 lembar (1 lot) atau yang dikenal dengan istilah Odd Lot (lot 
ganjil).



"Waktu itu saya beli cuma 100 lembar saham pada harga 
IPO. Tujuannya ya investasi, iseng-iseng beli, siapa tahu bisa untung di
 kemudian hari," ujar Eddy kepada detikFinance, Senin (20/9/2010) malam.



Itu berarti, modal yang dikeluarkan Eddy untuk berpartisipasi dalam IPO AQUA

hanya sebesar Rp 750.000. Pada tahun 1994, AQUA membagikan saham bonus dengan

rasio 2:1 atau setiap pemegang 2 saham akan memperoleh 1 saham baru.



Pada tahun 1995, AQUA kembali menggelar aksi pembagian saham bonus dengan rasio

10:3 atau setiap pemegang 10 saham akan memperoleh 3 saham baru. Kemudian pada

tahun 1997, AQUA membagikan dividen saham dengan rasio 8:1 atau setiap pemegang

8 saham akan memperoleh 1 saham baru.



Demikianlah sejak 1997 total saham AQUA dalam modal disetor dan ditempatkan

penuh sebanyak 13.162.473 saham, jumlah yang sama hingga hari ini.



Bersamaan dengan serangkaian aksi itulah, tanpa menambah modal apa pun jumlah

saham Eddy kini berlipat 2,19 kali menjadi 219 lembar saham. "Jumlah saham saya

saat ini segitu, 219 lembar," ujarnya.



Pada
 akhir 2001, AQUA menggalang rencana go private alias mengubah statusnya
 menjadi perusahaan tertutup. Untuk keperluan itu, AQUA menawarkan harga
 tender offer sebesar Rp 35.000 per saham. Sayangnya rencana itu tidak 
disetujui pemegang saham lantaran harga saham AQUA merambat naik hingga 
menyentuh level yang sama dengan harga tender.



Pada akhir Agustus 2001, harga AQUA masih di level Rp 15.000-an. Pada Desember

2001, harganya telah menyentuh level Rp 35.000 per saham.



"Waktu
 itu memang pemegang saham minoritas meminta harga lebih tinggi, karena 
harga tender sama dengan harga di pasar. Makanya waktu itu rencana go 
private akhirnya gagal karena tidak dapat restu pemegang saham," tutur 
Eddy.



Lama berselang, AQUA kembali menggelar rencana go private 
pada akhir 2005. Ketika itu harga AQUA di pasar reguler berkisar di 
level Rp 50.000 per saham, sedangkan harga tender yang ditawarkan AQUA 
sebesar Rp 100.000 per saham.



Pada RUPS 14 November 2005, jumlah investor independen yang hadir hanya 52,74%,

jauh dibawah ketentuan Bapepam-LK minimal sebanyak 75%. RUPS ke 2 digelar pada 2

Desember 2005. Namun yang hadir hanya 39,27% saja. Dan pada RUPS ke 3, batasan

kuorum tetap tidak dapat dipenuhi.



Oleh sebab itu, otomatis rencana go private ini kembali gagal. Pertanyaannya

kemudian, mengapa investor-investor memutuskan tidak hadir?



Menurut
 Eddy, saat itu memang ada pihak-pihak yang membisikkan pemegang saham 
minoritas untuk menjegal go private AQUA dengan alasan harga tender yang
 ditawarkan terlalu murah.



"Saat itu saya termasuk yang setuju dengan rencana go private. Tetapi ada

beberapa investor minoritas yang punya saham cukup banyak, mendesak manajemen

menaikkan harga tender. Padahal saat itu, banyak sekali pemegang saham minoritas

yang setuju dengan harga yang ditawarkan," ungkap Eddy.



Hal senada diungkapkan oleh Yuli, ibu dari Ardhian Indrayana yang diberi surat

kuasa atas kepemilikan 6.163 lembar saham AQUA milik Ardhian.



"Memang sangat disayangkan kalau dari kemarin-kemarin gagal terus karena ada

investor besar yang meminta harga terlalu tinggi. Padahal, kita yang hanya punya

sedikit ingin menjualnya sejak lama. Masak karena yang besar-besar itu, kita 
yang kecil-kecil jadi rugi?" keluh Yuli.



Meski gagal pada tahun 2005, AQUA belum menyerah. Pada tahun 2010 ini, manajemen

AQUA kembali mencanangkan skema go private. Harga yang ditawarkan pun naik

drastis menjadi Rp 500.000 per saham.



Sebagai catatan, harga saham AQUA di pasar reguler sebesar Rp 244.800 per saham,

sedangkan di pasar negosiasi (NG) dan pasar tunai (TN) sebesar Rp 350.000 per

saham.



"Harga tender offer dari PT Tirta Investama sebagai pemegang saham kendali,"

ujar Direktur Utama AQUA, Parmaningsih Adinegoro.



Komposisi pemegang saham AQUA adalah PT Tirta Investama 12.419.090 saham

(94,35%) dan publik 743.383 saham (5,65%). Dengan harga sebesar Rp 500 ribu per

saham, maka total dana yang harus dirogoh Tirta Investama sebesar Rp 371,691

miliar.



Untuk
 keperluan ini, AQUA akan menggelar RUPS pada 22 September 2010 dalam 
rangka meminta persetujuan pemegang saham minoritas. RUPS kali ini 
sedikit berbeda. Manajemen AQUA telah mewanti-wanti kepada pemegang 
saham kalau penawaran kali ini merupakan kesempatan terakhir pemegang 
saham untuk menjual sahamnya di harga tinggi.



"Ini sudah 
merupakan penawaran terbaik. Kalau perseroan tetap jadi perusahaan 
publik, maka harga saham akan tergantung mekanisme pasar dan pemegang 
saham,

terutama yang memegang saham odd lot (jumlah saham di bawah 500 lembar saham)

dimana banyak pemegang saham perseroan yang seperti ini, akan kehilangan

kesempatan untuk menjual pada harga seperti yang ditawarkan pada tender offer.

Artinya kesempatan emas akan hilang," jelas Parmaningsih.



Parmaningsih mengakui, ancaman penolakan masih mungkin terjadi pada RUPS kali

ini. Namun ia bersama manajemen AQUA memastikan kalau penawaran kali ini

merupakan penawaran terakhir yang akan diberikan AQUA. Jika gagal, maka tidak

akan ada lagi skema go private.



"Kalau tetap ada penolakan, maka tidak akan ada lagi aksi korporasi. Ini upaya

terakhir dan maksimal yang bisa ditawarkan kepada pemegang saham," tegas

Parmaningsih.



Meski demikian, Parmaningsih optimistis kalau pemegang saham minoritas akan

menyetujui skema go private pada kesempatan kali ini. Sebab, banyak pemegang

saham minoritas yang telah menyampaikan konfirmasi atas kesiapannya mendukung

rencana tersebut.



"selama ini banyak pemegang saham yang sudah menghubungi perseroan menyatakan

keinginan untuk menjual sahamnya," ujar Parmaningsih.



Yuli pun menyatakannya kesiapannya mendukung rencana ini. Ia mengaku tidak

melihat alasan untuk menolak rencana ini. 



"Buat
 apa repot-repot minta harga tinggi kalau ujung-ujungnya malah nggak 
dapat apa-apa. Manajemen kan sudah bilang kalau ini penawaran terakhir, 
jadi saya pikir sebaiknya semua pemegang saham minoritas setuju saja 
lah, supaya sama-sama enak, semuanya untung," ujarnya.



Hal itu pun diakui oleh Eddy. Ia pun mengaku siap mendukung rencana go private

AQUA dalam RUPS 22 September 2010.



"Kalau saya sih melihatnya, harga yang ditawarkan sudah sangat bagus. Kapan lagi

bisa jual pada harga segini. Kalau jual di market sulit, tidak ada posisi.

Lagipula ini kesempatan terakhir kan, kalau tidak jual sekarang, kapan lagi?"

ujar Eddy.



Bagaimana tidak, dengan modal membeli 100 lembar saham sebesar Rp 750.000, Eddy

bakal memperoleh dana sebesar Rp 109,5 juta dari penjualan 219 lembar sahamnya

di harga Rp 500.000 per saham. Itu berarti, selisih keuntungan (gain) yang

diperoleh Eddy dari penantian selama 20 tahun sejak IPO AQUA mencapai 14.500%!!


                      (dro/qom)
                 





PS : Ada ngak saham calon pengganti AQUA...?











regards,


DonQicot
Astra never lies, Bakrie always lies









      

    
     

    










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke