..Hehehe.. penjelasannya mantab.. pelajaran untuk kita supaya tidak Talk First 
Understand Later.. setelah ini pasti ada kata di benak atau terucap "Ooo gitu 
ya.." hehehe.. PISS

--- On Tue, 11/16/10, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [saham] LAGI LAGI KRAS
To: [email protected]
Date: Tuesday, November 16, 2010, 9:12 PM







 



  


    
      
      
      












Masalahnya, kalo IPO nya di 1150 emank ga bakalan laku ??
Tentu sama aja akan laku, dan negara dapet uang lebih banyak... Itu kali yg ada 
di benak 13 ekonom itu =)

Salam...




Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom:  greenhorn <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Wed, 17 Nov 2010 05:26:50 +0800To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: [saham] LAGI LAGI KRAS

 



    
      
      
      Mangstaff bro....

salam,
green


2010/11/17 positif01 <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      Saya pribadi sedari awal sudah memberikan 'compliment' kepada para pihak 
yang terkait dengan pelaksanaan IPO KRAS. Alih-alih mereka 
direndahkan/dicurigai, justru semua yang terlibat langsung patut diberi 'award 
of recognition'. Perhitungan valuasi saya menunjukkan dengan level harga Rp850 
pun sudah 'overvalued'. Patokan awal di Rp600 lebih 'justifiable' meskipun 
untuk pendekatan investasi yang mensyaratkan perlunya 'margin of safety' bisa 
menuntut harga di kisaran Rp450. Toh tidak terlalu keliru, animo asing secara 
riil di lapangan sebagaimana hasil 'book building' pun tidak antusias di Rp850. 
Jadi, jika ada yang mampu menjual jauh di atas 'fair value', itu sungguh suatu 
pencapaian.


Namun demikian, pantas untuk dicatat pula untuk ke depannya perlunya rilis 
informasi yang lebih berhati-hati. Tidak bisa dipungkiri kecurigaan yang timbul 
bukan hanya karena "tidak atau kurang jatah" tetapi juga karena 
ketidakmengertian. Keributan tentang "terlalu murah"-nya harga perdana KRAS 
jika ditelusuri secara kronologis semuanya berujung kepada deduksi psikologis 
sekelompok warga yang melihat dan menganggap ada kontradiksi antara rilis 
'oversubscribed' dan penentuan harga perdana di 'range' bawah dari estimasi 
harga. Jika membaca 'counter' informasi dari pihak-pihak yang berkompeten 
kemudian diketahui bahwa apa yang dipahami sebagai 'oversubscribed' tidak 
seperti yang mungkin ada di benak para pihak yang berkeberatan. Dan, bagi yang 
paham dengan valuasi, juga dengan mudah memahami bahwa persoalannya bukan murah 
karena ada di 'range' bawah kisaran estimasi harga perdana, tetapi justru 
'range' estimasi harga itu sendiri apakah sudah akurat? Kalau
 menilik valuasi saya sendiri, baik atas dasar metode konvensional yang paling 
umum sampai dengan komparasi regional peer, justru bukan "terlalu murah" tetapi 
"terlalu mahal".


Adapun mengenai semangat "nasionalisme" yang sepertinya terkandung atau coba 
dikandung oleh mereka yang berkeberatan, at first place, they are all equally 
supposed to get some respect, namun demikian dalam konteks pasar modal, tidak 
ada salahnya mengulang posisi yang saya selalu ambil viz-a-viz pendekatan 
'nasionalis' yang out-of-context sebagai berikut:


Saham itu seperti air, tidak ada nasionalisme. Kalau air jatuh mencari tempat 
yg rendah, terlepas air zamzam atau air sungai Bahorok, ya karakter air seperti 
itu. Begitu juga dana ekuitas, yang dicari ya 'yield/return', terlepas saham 
apa di mana dan dana dari mana. Apalagi konteksnya perdagangan bursa. Tidak ada 
bursa di dunia ini yang membatasi asal likuiditas. Bursa Indonesia bisa maju 
justru karena bersikap a-nasionalis. Jika konsisten dengan paham dan semangat 
nasionalis justru tidak akan maju. Why? Karena hingga detik ini yang menopang 
akselarasi bursa lokal justru dana asing. Asing tercatat menguasai saham 
sebanyak 67%. Bayangkan kalau pemilik-pemilik dana asing yang masuk ke 
Indonesia bersikap nasionalis seperti beberapa tokoh terhormat, untuk apa 
mereka (asing) ke Indonesia, 'ngendon' saja sebagai pahlawan nasionalis di 
negara-negara mereka yg notabene sudah maju.


Jangan hipokrisi, nasionalis untuk diri sendiri, tetapi berharap orang lain, 
khususnya modal asing, bersikap a-nasionalis untuk 'inflow'/masuk baik sebagai 
'porfolio' atau 'foreign direct investment' ke negara kita sendiri. Jika itu 
yang terjadi semua bangsa bisa kembali ke awal abad 18-an ketika semua orang 
sibuk jadi 'chauvinistis'. Dalam konteks IPO KRAS akan lucu bagi yg mengerti, 
kenapa? Karena asing pun dijatah hanya 35% dari 20% saham yg dicatatkan. 
Artinya asing hanya dapat akses pasar perdana pada saat 'book building' dan 
'pooling' sebanyak 7%. Lebih lucu lagi setelah tahu bahwa selesai listing hari 
pertama, asing justru ramai-ramai menjual lebih kurang 2-3% porto sehingga 
tersisa hanya 3-5% saja. Di mana letak penguasaan asing? Anehnya, yang tunjuk 
hidung asing malah mengatakan, "tuh asing dapat untung gede...mereka jual 
sekarang sahamnya". Ini jawaban datang dari paradigma aneh dan logika berpikir 
yang simpang siur ('contradictio in
 terminis'), tetapi lebih tepatnya tidak mengerti.


Kalau konsisten dengan semangat nasionalisme, justru ketika asing jual, 
disambut gegap gempita dong sembari meneriakkan yel-yel, "lihatlah, kita telah 
rebut kembali!", sembari membayangkan pidato Soekarno ketika merebut Irian 
Barat. Yang absurd dari pandangan itu adalah, asing jual, siapa yg beli? 
...Neneknya asing? Tentu bukan. Yang beli ya investor lokal juga. Jadi siapa 
yang rugi? Apa iya ada orang mau beli rugi, terlepas nantinya mungkin keputusan 
investasinya tidak tepat? ....


Pada akhirnya, semuanya hanya persoalan sederhana, 'supply and demand' dan 
ekspektasi. TIDAK ADA nasionalisme di situ. (titik)
'+'


2010/11/16 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>

















 



  


    
      
      
      Bu Anita, terima kasih telah bersedia mengkoreksinya. Bayangkan Bu, 
dampak dari kesalahan Bu Anita menulis bagi mereka yg membaca dan tidak 
memahami. Bisa2 nanti tersebar rumors/klaim bahwa asing mendapatkan 73%, 
padahal tulisan itu karena Bu Anita salah menulis. Padahal seringnya orang 
memegang informasi yg pertama.




Mengenai 73% dipegang oleh investor institusional itu perlu Bu Anita dan rekan2 
lainnya juga ketahui, bahwa dibalik investor insitusional seperti institusi 
dana pensiun maupun reksadana, adalah investor peritel juga. Begitu banyak 
investor ritel yang menanamkan investasinya di reksadana ekuiti maupun 
campuran.  Juga institusi dana pensiun.




Pada hari Senin pagi kemarin, 15 Nov 2010 , dari jam 10-12, saya sebagai salah 
satu pengurus AAEI bersama kawan2 AAEI yg dipimpin oleh Pak Haryajid (ketua 
AAEI),  Pak Budi Ruseno (Penasehat AAEI), dan 3 kawan AAEI lainnya, mendatangi 
kantor Bapepam dan diterima oleh Ketua Bapepam Bpk. Fuad beserta jajaran 
pimpinan Bapepam lainnya.  Di pertemuan tersebut saya berkesempatan 
menyampaikan keluhan2 yang ada di milis ini seputar IPO KS khususnya mengenai 
alokasi penjatahan. Kawan2 sayaKami, pihak AAEI pun juga saling memberikan 
masukan ke Bapepam selain kita juga mendapat banyak masukan dari Bapepam 
seputar IPO KS ini. 




Proses kedepannya memang diperlukan sosialisasi kepada masyarakat luas agar 
mereka boleh memahami dan teredukasi dengan lebih baik lagi mengenai proses IPO 
ini, dan pasar modal pada umumnya. Kami, pihak AAEI, pada dasarnya siap 
membantu BEI maupun Bapepam dalam mensosialisasikan pasar modal kepada 
masyarakat luas.




Banyak hal yg kami bahas selama 2 jam tersebut. Pada intinya, kami sama2 
bersepakat untuk menjaga agar pasar modal kita tetap sehat dan tidak kehilangan 
momentum hanya karena ada segelintir orang yang baik disengaja atau tidak 
sengaja telah mengancam keberadaan pasar modal di Indonesia. Tapi saya yakin, 
dengan informasi yg tepat dan benar, masyarakat kita akan teredukasi dengan 
baik, dan tidak mudah lagi disesatkan oleh sekelompok orang.





jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

2010/11/16 Anita Bdg <[email protected]>










        



















Terima kasih banyak atas penjelasannya bang Ian.
sekaligus saya mengoreksi bang, 


yg 73 % itu intitusi...bang bukan asing, sisanya 27 % publik
padahal singkatan IPO kan Initial Public Offering he..he...
OK  salam sukses.

==============================================
Bela KS, Bapepam Anggap Harga IPO KS 
Wajar
Herdaru Purnomo - detikFinance
 
 
Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga 
Keuangan (Bapepam LK) menyatakan harga saham perdana dalam initial public 
offering (IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KS) sebesar Rp 850 per saham sudah wajar 
dan tak perlu diributkan.

Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany mengatakan, harga 
IPO KS sudah sangat wajar dan lebih bagus dari harga saham perusahaan baja asal 
Korea yakni Posco.

"Harga di situ tuh harga yang wajar bahkan lebih bagus 
dari harga Posco di Korea kemarin. Sebelumnya Sky Tower Bersama yang IPO juga 
naik 49%. KS itu kan sama segitu naiknya 48%. Terus Bank Jabar Banten itu 
naiknya sampai 50% lebih gede lagi, wajar itu dari market. Kan beda pasar 
perdana dengan sekunder di market," ujar Fuad ketika ditemui di sela acara 
Infobank Outlook 2011 di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa 
(16/11/2010).

Fuad menyatakan proses IPO KS sudah positif dan tak perlu 
diributkan lagi karena bisa mempengaruhi kepercayaan investor terhadap kondisi 
investasi di Indonesia.

"Sebaiknya kita positif saja lebih konstruktif 
walaupun ada kritik nggak apa, tapi jangan ada informasi-informasi yang 
menyesatkan yang mempengaruhi iklim investasi, kita nggak perlu khawatirlah 
sekarang, semua indikator-indikator ekonomi kita bagus. Sekarang kalau ada 
perubahan indeks turun lebih banyak itu global tren saja. Domestiknya itu 
bagus," papar Fuad. 

Dikatakan Fuad dirinya sudah mendapatkan laporan 
alokasi tentang saham KS. Dari laporan tersebut dikatakan kepemilikan saham 
publik KS sebesar 27% dipegang investor ritel dan 73% dimiliki investor 
institusional.

Investor ritel domestik yang memiliki saham KS jumlahnya 
16 ribu orang di luar reksa dana. Menurutnya soal permasalahan banyaknya 
investor yang tak kebagian jatah saham KS tak perlu diributkan. 

"Kita 
harus ambil hikmah dari KS ini dan mudah-mudahan ke depan ada perbaikan. Kita 
harus lebih transparan dan sosialisasi," cetus 
Fuad.

(dnl/dro)
http://www.detikfinance.com/read/2010/11/16/123840/1495390/6/bela-ks-bapepam-anggap-harga-ipo-ks-wajar?f9911013




--- Pada Sel, 16/11/10, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> 
menulis:




Dari: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Judul: Re: [saham] LAGI LAGI KRAS
Kepada: [email protected]



Tanggal: Selasa, 16 November, 2010, 2:13 PM







 



    
      
      
      Merespon keluhan Bu Anita, saya coba buatkan garis besarnya saja. Saya 
percaya, ketidaktahuan dan kekurangan informasi kepada pelaku pasar akan 
melahirkan kecurigaan yang sebenarnya tidak perlu sampai terjadi.




Kira2 garis besarnya proses IPO itu seperti berikut:



Untuk penentuan range harga IPO, ditentukan berdasarkan faktor fundamental dari 
perusahaan dan juga mempertimbangkan kira2 minat dari investor ada saat road 
show.
Berdasarkan keterangan Dirut KS di MetroTV, saat ini menggunakan pembanding 
pabrik baja dari Korea dan India. 





Tidak menggunakan pembanding dari China, karena growth di China sangat tinggi, 
sementara di Indonesia pabrik baja sampai tahun 2006 pertumbuhannya sangat 
lambat. Baru belakangan mulai terlihat ada pertumbuhan.

Dari perhitungan fundamental tersebut, keluarlah angka 800-1150 untuk harga 
book building.






Pada masa bookbuilding, berdasarkan keterangan Pak Fuad di Metro TV yg saya 
dengar:
oversubscribe dengan pemesanan di harga 850 adalah 1,8x
oversubscribe dengan pemesanan di harga 900 adalah 1,3x (atau sekitar itu)





oversubscribe dengan pemesanan di harga 950 adalah 1x (atau sekitar itu).

Dari kebiasaan dan pengalaman, underwritter akan memilih harga yg aman untuk 
dia jualan yg biasanya pada harga sekitar oversubscribe 2x. Tujuannya adalah 
agar pada masa pembayaran yg 10 hari setelah penentuan harga IPO, dalam kasus 
ini batas tanggal tsb adalah 4 Nov 2010, jumlah saham yg ditawarkan habis 
terbeli alias dilunasi.






Apakah ada kemungkinan tidak dilunasi walau sudah dipesan? 
Ya, ada kemungkinan itu. Bisa saja investor yg sudah pesan beli, lalu pada masa 
10 hari itu katakanlah tiba2 pasar berbalik arah  jadi bearish karena pasar 
global berubah arah jadi bearish, maka resiko investor hengkang dan membatalkan 
pembelian jadi meningkat. Itu sebabnya, dipilih angka harga dimana oversubscibe 
nya sekitar 2x.  Kejadian hengkangnya pembeli itu terjadi pada kasus BBNI dulu, 
dimana ada sejumlah investor sebesar 1 Triliun yg hengkang tidak jadi beli 
karena pasar berubah bearish. Akibatnya bisa kita bagaimana dulu underwritter 
dan pemerintah kerepotan dengan kasus BBNI.






Pada dasarnya underwritter itu bekerja untuk menjual habis barang dagangannya 
karena mereka mendapatkan keuntungan dari komisi penjualan yg didapat. 
Peraturan bapepam juga melarang adanya pemesanan dari investor yg memiliki 
konflik atau afiliasi dengan underwritter (seperti dengan direksinya). Hal ini 
dilakukan demi menjaga keadilan dalam penjatahan. Inilah yg akan diaudit oleh 
Bapepam sesuai kebiasaan IPO, dimana audit dilakukan oleh akuntan publik untuk 
memeriksa bahwa tidak ada pelanggaran yg terjadi dalam proses pemesanan IPO.






Pertanyaan berikutnya yg mungkin muncul di benak rekan2 adalah mengapa 
penjatahan bookbuilding IPO KS koq parah sekali? Mengapa Bapepam tidak campur 
tangan akan hal tersebut?

Jawabannya, berdasarkan peraturan, Bapepam tidak boleh mencampuri urusan 
penjatahan maupun penentuan harga IPO setelah proses bookbuilding. Underwritter 
lah yang memiliki hak tersebut. Tentunya underwritter telah bekerjasama dengan 
emiten dalam hal ini pemegang saham dari KS.






Underwritter dalam proses penjatahan akan mendahulukan prime customer mereka. 
Ini adalah hal yg wajar dalam dunia bisnis underwritter dimana mereka akan 
mendahulukan nasabah mereka dulu khususnya yang prime customer. Karena dari 
prime customer inilah bisnis mereka bisa lebih berkelanjutan di masa2 mendatang.






Mengenai pernyataan Ibu Anita yg mengatakan asing dapat 73%, silakan ditunjukan 
dan dibawa saja buktinya Bu. Bila benar Ibu Anita bisa tunjukan bahwa asing 
mendapat penjatahan sampai 73%, maka underwritter bisa diperkarakan. Karena 
ketentuan yg disepakati di awal adalah dari 20% saham yg ditawarkan ke publik, 
lokal dapat jatah 65% (alias 13% dari 20%), asing dapat jatah 35% (alias hanya 
7% dari 20% yg ditawarkan). Tapi kalau Bu Anita hanya mendengar dari orang 
dengan berdasarkan katanya...katanya....dan katanya, sebaiknya abaikan saja Bu. 
Saat ini banyak yg mencoba mempolitisir kasus KS ini. Bahkan saya bisa buktikan 
dimana para ekonom yg muncul di televisi itu banyak memberikan informasi yg 
menyesatkan. Saya terkadang miris juga, kasihan juga rakyat mendapatkan 
informasi yg menyesatkan sehingga masyarakat jadi kehilangan hak mendapatkan 
informasi yang benar.






Tapi itulah kondisinya. Kalau tidak kontroversial, kurang laku dijual ke 
publik. Kalau kontroversial, baru menarik. Tapi saya percaya pihak TV dan media 
sebenarnya punya kesamaan visi untuk memberikan informasi yg berimbang kepada 
masyarakat, sayangnya mungkin mereka kekurangan informasi terhadap para 
narasumber yang mana yg mungkin bisa diandalkan untuk memberikan informasi 
penyeimbang.






catatam:
Pada hari Rabu pagi, tanggal 9 Nov 2010, saya sempat dihubungi oleh salah satu 
televisi swasta nasional untuk diminta memberikan semacam pelatihan atau 
briefing kepada sekitar 30 jurnalisnya dari jam 10-12 pagi hari itu juga dan 
diharapkan saya menyampaikan seputar IPO KS agar para jurnalis televisi itu 
mendapatkan pengetahuan yg cukup sehingga ketika ingin meliput hal ini bisa 
memberikan informasi yg baik kepada pemirsanya. Saya sangat salut dengan upaya 
televisi ini untuk mendidik pemirsanya dengan informasi yg berimbang. Sayang 
saja waktu itu saya berhalangan karena saya ingin konsentrasi trading berhubung 
pasarnya lagi ramai. Saya katakan kalau setelah jam trading, saya siap. 
Sayangnya, waktu tidak cocok, karena untuk bisa mengumpulkan sekitar 30 
jurnalis di jam yg sama itu sudah sulit dan jarang bisa dilakukan. Mudah2an di 
lain waktu ada kesempatan lagi untuk hal yg mungkin berbeda.






Kira2 itu gambaran singkat dari saya walaupun masih banyak hal yg bisa saya 
sampaikan untuk mengcounter pernyataan2 miring dari beberapa ekonom yg saya 
perhatikan banyak yg menyesatkan masyarakat.

catatan keterbukaan:





Saya tidak memesan saham KS pada saat book building KS maupun IPO KS. Saya 
tidak memiliki saham KS.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


2010/11/16 Anita Bdg <[email protected]>












        




















 


Kalo pejabat pemerintah mentalnya modelnya kek begini. 
wajar aja negara selalu dirugikan dan selalu bangkrut.
Investor Asing dan lokal tentu terbahak2 mentertawakan proses IPO KS,





jelas2 oversubribed koq diambil harga bawah.......
anak tamatan SD juga tahu itu ga bener, 
gak usah pake underwriter segala yg dibayar mahal2.
kalo yg kebagian satu lot mah jangan diitung investor.
saya warga negara indonesia dgn nasionalisme yang mau beli dan berani dgn harga 
diatas 1000 rp. pun ngga kebagian, 





tp asing bisa dapet 73 persen dgn harga obral....obralllll....obraaaalll
=============================================================
http://www.detikfinance.com/read/2010/11/16/131742/1495431/6/tanggapi-class-action-ipo-ks-bapepam-nilai-pengamat-asal-ngomong?f9911013





===========================================================
Tanggapi Class Action IPO KS, 
Bapepam Nilai Pengamat Asal Ngomong

                          Herdaru Purnomo - detikFinance
        

Jakarta -
        Sebanyak 13 ekonom akan melakukan gugatan class action kepada 
pemerintah terkait dengan pelaksanaan penawaran umum perdana (initial 
public offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KS). Badan Pengawas Pasar 
Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) menganggap 13 ekonom ini asal 
ngomong.

Hal ini dilontarkan oleh Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany 
saat ditemui di sela acara Infobank Outlook 2011 di Graha Niaga, Jalan 
Sudirman, Jakarta, Selasa (16/11/2010).

"Dia tuh mau mewakili siapa class action? Ngarang itu. Dia wakili siapa? Siapa 
investor yang dirugikan yang diwakili? Class action itu jangan asal omong, 
class action itu mewakili siapa? Class action itu harusnya sekumpulan 
orang-orang yang drugikan. Lah ini siapa yang dirugikan, ayo siapa?" tutur Fuad.






Seperti diketahui, 13 ekonom yang mengajukan gugatan class action
 adalah Adler Manurung, Sri Edi Swasono, Kwik Kian Gie, Hendri Saparini,
 Sumarno M, Rushadi, A. Razak, Ichsanudin Noorsy, William Tobing, Erwin 
Ramedhan, Adhie Massardi, dan Fahmi Radi.

Fuad mengatakan, dalam 
IPO KS semua pihak merasa senang dan tak ada yang dirugikan. Jadi 
menurutnya tak perlu ada yang diributkan lagi oleh semua pihak.

"Sebenarnya
 semuanya happy di sini. Tugas saya kan melindungi investor. Investornya
 happy kenapa saya harus ribut-ributin KS? Investornya saja happy. Yang 
nggak happy itu yang mau beli nggak dapat. Normal lah itu biasa. Pasti 
ada yang nggak dapat kan, ya semua itu keuntungan dari underwriter," 
tukas Fuad.

Seperti diketahui IPO KS menjadi buah bibir di 
kalangan masyarakat, khususnya investor di pasar modal. Apalagi setelah 
pemerintah menetapkan harga perdana saham KS Rp 850 atau mendekati batas
 bawah dari kisaran Rp 750-1.150 per saham.

Pihak-pihak yang 
tidak sepakat pun memprotes harga saham BUMN baja tersebut, karena 
dianggap terlalu murah hingga terjadi tudingan adanya perampokan uang 
negara. Mereka pun mendesak Bapepam-LK untuk membatalkan IPO Krakatau 
Steel.

Setidaknya ada 3 alasan pengajuan gugatan tersebut. 
Pertama, karena KS bergerak dalam industri strategis yang sahamnya harus
 dikuasai penuh oleh negara. Kedua, para penggugat menilai dalam 
pelaksanaan IPO tersebut negara dirugikan lebih dari Rp 1 triliun. Lalu 
alasan terakhir adalah adanya dugaan penyalahgunaan wewenang oleh oknum 
pejabat yang ikut berperan dalam proses IPO tersebut.

Polemik 
semakin runcing usai KS listing di BEI pada Rabu (10/11/2010) lalu. 
Saham KS langsung melesat hingga menyentuh batas atas auto rejection  
sebesar Rp 420 (49,41%) ke level Rp 1.270 per saham. Namun, investor 
asing ternyata langsung menjual 316.129.500 saham dengan total nilai Rp 
378,693 miliar. Setelah aksi jual massif ini, kepemilikan asing tersisa 
788.120.500 saham atau setara dengan 5% dari total saham KS.
 
Salah
 satu ekonom yaitu Adler, menduga pelepasan saham Krakatau Steel oleh 
investor asing sebagai sebuah persengkongkolan. Selama ini pemerintah 
selalu mendukung kepentingan investor asing dan mengabaikan investor 
dalam negeri.


                      (dnl/dro)
                









    
    














    
     



 












    
    














    
     

    
    






  










    
     

    
    






  










    
     

    










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke