ulasan bang ian ditambah mr. positif bener-bener eye opener...thanks, guru
 
*four thumbs*

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
positif01
Sent: Wednesday, November 17, 2010 12:55 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [saham] LAGI LAGI KRAS




Saya pribadi sedari awal sudah memberikan 'compliment' kepada para pihak
yang terkait dengan pelaksanaan IPO KRAS. Alih-alih mereka
direndahkan/dicurigai, justru semua yang terlibat langsung patut diberi
'award of recognition'. Perhitungan valuasi saya menunjukkan dengan level
harga Rp850 pun sudah 'overvalued'. Patokan awal di Rp600 lebih
'justifiable' meskipun untuk pendekatan investasi yang mensyaratkan perlunya
'margin of safety' bisa menuntut harga di kisaran Rp450. Toh tidak terlalu
keliru, animo asing secara riil di lapangan sebagaimana hasil 'book
building' pun tidak antusias di Rp850. Jadi, jika ada yang mampu menjual
jauh di atas 'fair value', itu sungguh suatu pencapaian. 

Namun demikian, pantas untuk dicatat pula untuk ke depannya perlunya rilis
informasi yang lebih berhati-hati. Tidak bisa dipungkiri kecurigaan yang
timbul bukan hanya karena "tidak atau kurang jatah" tetapi juga karena
ketidakmengertian. Keributan tentang "terlalu murah"-nya harga perdana KRAS
jika ditelusuri secara kronologis semuanya berujung kepada deduksi
psikologis sekelompok warga yang melihat dan menganggap ada kontradiksi
antara rilis 'oversubscribed' dan penentuan harga perdana di 'range' bawah
dari estimasi harga. Jika membaca 'counter' informasi dari pihak-pihak yang
berkompeten kemudian diketahui bahwa apa yang dipahami sebagai
'oversubscribed' tidak seperti yang mungkin ada di benak para pihak yang
berkeberatan. Dan, bagi yang paham dengan valuasi, juga dengan mudah
memahami bahwa persoalannya bukan murah karena ada di 'range' bawah kisaran
estimasi harga perdana, tetapi justru 'range' estimasi harga itu sendiri
apakah sudah akurat? Kalau menilik valuasi saya sendiri, baik atas dasar
metode konvensional yang paling umum sampai dengan komparasi regional peer,
justru bukan "terlalu murah" tetapi "terlalu mahal".

Adapun mengenai semangat "nasionalisme" yang sepertinya terkandung atau coba
dikandung oleh mereka yang berkeberatan, at first place, they are all
equally supposed to get some respect, namun demikian dalam konteks pasar
modal, tidak ada salahnya mengulang posisi yang saya selalu ambil viz-a-viz
pendekatan 'nasionalis' yang out-of-context sebagai berikut:

Saham itu seperti air, tidak ada nasionalisme. Kalau air jatuh mencari
tempat yg rendah, terlepas air zamzam atau air sungai Bahorok, ya karakter
air seperti itu. Begitu juga dana ekuitas, yang dicari ya 'yield/return',
terlepas saham apa di mana dan dana dari mana. Apalagi konteksnya
perdagangan bursa. Tidak ada bursa di dunia ini yang membatasi asal
likuiditas. Bursa Indonesia bisa maju justru karena bersikap a-nasionalis.
Jika konsisten dengan paham dan semangat nasionalis justru tidak akan maju.
Why? Karena hingga detik ini yang menopang akselarasi bursa lokal justru
dana asing. Asing tercatat menguasai saham sebanyak 67%. Bayangkan kalau
pemilik-pemilik dana asing yang masuk ke Indonesia bersikap nasionalis
seperti beberapa tokoh terhormat, untuk apa mereka (asing) ke Indonesia,
'ngendon' saja sebagai pahlawan nasionalis di negara-negara mereka yg
notabene sudah maju.

Jangan hipokrisi, nasionalis untuk diri sendiri, tetapi berharap orang lain,
khususnya modal asing, bersikap a-nasionalis untuk 'inflow'/masuk baik
sebagai 'porfolio' atau 'foreign direct investment' ke negara kita sendiri.
Jika itu yang terjadi semua bangsa bisa kembali ke awal abad 18-an ketika
semua orang sibuk jadi 'chauvinistis'. Dalam konteks IPO KRAS akan lucu bagi
yg mengerti, kenapa? Karena asing pun dijatah hanya 35% dari 20% saham yg
dicatatkan. Artinya asing hanya dapat akses pasar perdana pada saat 'book
building' dan 'pooling' sebanyak 7%. Lebih lucu lagi setelah tahu bahwa
selesai listing hari pertama, asing justru ramai-ramai menjual lebih kurang
2-3% porto sehingga tersisa hanya 3-5% saja. Di mana letak penguasaan asing?
Anehnya, yang tunjuk hidung asing malah mengatakan, "tuh asing dapat untung
gede...mereka jual sekarang sahamnya". Ini jawaban datang dari paradigma
aneh dan logika berpikir yang simpang siur ('contradictio in terminis'),
tetapi lebih tepatnya tidak mengerti.

Kalau konsisten dengan semangat nasionalisme, justru ketika asing jual,
disambut gegap gempita dong sembari meneriakkan yel-yel, "lihatlah, kita
telah rebut kembali!", sembari membayangkan pidato Soekarno ketika merebut
Irian Barat. Yang absurd dari pandangan itu adalah, asing jual, siapa yg
beli? ...Neneknya asing? Tentu bukan. Yang beli ya investor lokal juga. Jadi
siapa yang rugi? Apa iya ada orang mau beli rugi, terlepas nantinya mungkin
keputusan investasinya tidak tepat? ....

Pada akhirnya, semuanya hanya persoalan sederhana, 'supply and demand' dan
ekspektasi. TIDAK ADA nasionalisme di situ. (titik)

'+'

2010/11/16 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>


  

Bu Anita, terima kasih telah bersedia mengkoreksinya. Bayangkan Bu, dampak
dari kesalahan Bu Anita menulis bagi mereka yg membaca dan tidak memahami.
Bisa2 nanti tersebar rumors/klaim bahwa asing mendapatkan 73%, padahal
tulisan itu karena Bu Anita salah menulis. Padahal seringnya orang memegang
informasi yg pertama.

Mengenai 73% dipegang oleh investor institusional itu perlu Bu Anita dan
rekan2 lainnya juga ketahui, bahwa dibalik investor insitusional seperti
institusi dana pensiun maupun reksadana, adalah investor peritel juga.
Begitu banyak investor ritel yang menanamkan investasinya di reksadana
ekuiti maupun campuran.  Juga institusi dana pensiun.

Pada hari Senin pagi kemarin, 15 Nov 2010 , dari jam 10-12, saya sebagai
salah satu pengurus AAEI bersama kawan2 AAEI yg dipimpin oleh Pak Haryajid
(ketua AAEI),  Pak Budi Ruseno (Penasehat AAEI), dan 3 kawan AAEI lainnya,
mendatangi kantor Bapepam dan diterima oleh Ketua Bapepam Bpk. Fuad beserta
jajaran pimpinan Bapepam lainnya.  Di pertemuan tersebut saya berkesempatan
menyampaikan keluhan2 yang ada di milis ini seputar IPO KS khususnya
mengenai alokasi penjatahan. Kawan2 sayaKami, pihak AAEI pun juga saling
memberikan masukan ke Bapepam selain kita juga mendapat banyak masukan dari
Bapepam seputar IPO KS ini. 

Proses kedepannya memang diperlukan sosialisasi kepada masyarakat luas agar
mereka boleh memahami dan teredukasi dengan lebih baik lagi mengenai proses
IPO ini, dan pasar modal pada umumnya. Kami, pihak AAEI, pada dasarnya siap
membantu BEI maupun Bapepam dalam mensosialisasikan pasar modal kepada
masyarakat luas.

Banyak hal yg kami bahas selama 2 jam tersebut. Pada intinya, kami sama2
bersepakat untuk menjaga agar pasar modal kita tetap sehat dan tidak
kehilangan momentum hanya karena ada segelintir orang yang baik disengaja
atau tidak sengaja telah mengancam keberadaan pasar modal di Indonesia. Tapi
saya yakin, dengan informasi yg tepat dan benar, masyarakat kita akan
teredukasi dengan baik, dan tidak mudah lagi disesatkan oleh sekelompok
orang.




jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


2010/11/16 Anita Bdg <[email protected]>






Terima kasih banyak atas penjelasannya bang Ian.
sekaligus saya mengoreksi bang, 
yg 73 % itu intitusi...bang bukan asing, sisanya 27 % publik
padahal singkatan IPO kan Initial Public Offering he..he...
OK  salam sukses.

==============================================
Bela KS, Bapepam Anggap Harga IPO KS Wajar
Herdaru Purnomo - detikFinance
 
 
Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK)
menyatakan harga saham perdana dalam initial public offering (IPO) PT
Krakatau Steel Tbk (KS) sebesar Rp 850 per saham sudah wajar dan tak perlu
diributkan.

Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany mengatakan, harga IPO KS sudah sangat wajar
dan lebih bagus dari harga saham perusahaan baja asal Korea yakni Posco.

"Harga di situ tuh harga yang wajar bahkan lebih bagus dari harga Posco di
Korea kemarin. Sebelumnya Sky Tower Bersama yang IPO juga naik 49%. KS itu
kan sama segitu naiknya 48%. Terus Bank Jabar Banten itu naiknya sampai 50%
lebih gede lagi, wajar itu dari market. Kan beda pasar perdana dengan
sekunder di market," ujar Fuad ketika ditemui di sela acara Infobank Outlook
2011 di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (16/11/2010).

Fuad menyatakan proses IPO KS sudah positif dan tak perlu diributkan lagi
karena bisa mempengaruhi kepercayaan investor terhadap kondisi investasi di
Indonesia.

"Sebaiknya kita positif saja lebih konstruktif walaupun ada kritik nggak
apa, tapi jangan ada informasi-informasi yang menyesatkan yang mempengaruhi
iklim investasi, kita nggak perlu khawatirlah sekarang, semua
indikator-indikator ekonomi kita bagus. Sekarang kalau ada perubahan indeks
turun lebih banyak itu global tren saja. Domestiknya itu bagus," papar Fuad.


Dikatakan Fuad dirinya sudah mendapatkan laporan alokasi tentang saham KS.
Dari laporan tersebut dikatakan kepemilikan saham publik KS sebesar 27%
dipegang investor ritel dan 73% dimiliki investor institusional.

Investor ritel domestik yang memiliki saham KS jumlahnya 16 ribu orang di
luar reksa dana. Menurutnya soal permasalahan banyaknya investor yang tak
kebagian jatah saham KS tak perlu diributkan. 

"Kita harus ambil hikmah dari KS ini dan mudah-mudahan ke depan ada
perbaikan. Kita harus lebih transparan dan sosialisasi," cetus Fuad.

(dnl/dro)
http://www.detikfinance.com/read/2010/11/16/123840/1495390/6/bela-ks-bapepam
-anggap-harga-ipo-ks-wajar?f9911013


--- Pada Sel, 16/11/10, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
menulis:



Dari: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Judul: Re: [saham] LAGI LAGI KRAS
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 16 November, 2010, 2:13 PM 


  

Merespon keluhan Bu Anita, saya coba buatkan garis besarnya saja. Saya
percaya, ketidaktahuan dan kekurangan informasi kepada pelaku pasar akan
melahirkan kecurigaan yang sebenarnya tidak perlu sampai terjadi.

Kira2 garis besarnya proses IPO itu seperti berikut:

Untuk penentuan range harga IPO, ditentukan berdasarkan faktor fundamental
dari perusahaan dan juga mempertimbangkan kira2 minat dari investor ada saat
road show.
Berdasarkan keterangan Dirut KS di MetroTV, saat ini menggunakan pembanding
pabrik baja dari Korea dan India. 
Tidak menggunakan pembanding dari China, karena growth di China sangat
tinggi, sementara di Indonesia pabrik baja sampai tahun 2006 pertumbuhannya
sangat lambat. Baru belakangan mulai terlihat ada pertumbuhan.

Dari perhitungan fundamental tersebut, keluarlah angka 800-1150 untuk harga
book building.

Pada masa bookbuilding, berdasarkan keterangan Pak Fuad di Metro TV yg saya
dengar:
oversubscribe dengan pemesanan di harga 850 adalah 1,8x
oversubscribe dengan pemesanan di harga 900 adalah 1,3x (atau sekitar itu)
oversubscribe dengan pemesanan di harga 950 adalah 1x (atau sekitar itu).

Dari kebiasaan dan pengalaman, underwritter akan memilih harga yg aman untuk
dia jualan yg biasanya pada harga sekitar oversubscribe 2x. Tujuannya adalah
agar pada masa pembayaran yg 10 hari setelah penentuan harga IPO, dalam
kasus ini batas tanggal tsb adalah 4 Nov 2010, jumlah saham yg ditawarkan
habis terbeli alias dilunasi.

Apakah ada kemungkinan tidak dilunasi walau sudah dipesan? 
Ya, ada kemungkinan itu. Bisa saja investor yg sudah pesan beli, lalu pada
masa 10 hari itu katakanlah tiba2 pasar berbalik arah  jadi bearish karena
pasar global berubah arah jadi bearish, maka resiko investor hengkang dan
membatalkan pembelian jadi meningkat. Itu sebabnya, dipilih angka harga
dimana oversubscibe nya sekitar 2x.  Kejadian hengkangnya pembeli itu
terjadi pada kasus BBNI dulu, dimana ada sejumlah investor sebesar 1 Triliun
yg hengkang tidak jadi beli karena pasar berubah bearish. Akibatnya bisa
kita bagaimana dulu underwritter dan pemerintah kerepotan dengan kasus BBNI.

Pada dasarnya underwritter itu bekerja untuk menjual habis barang
dagangannya karena mereka mendapatkan keuntungan dari komisi penjualan yg
didapat. Peraturan bapepam juga melarang adanya pemesanan dari investor yg
memiliki konflik atau afiliasi dengan underwritter (seperti dengan
direksinya). Hal ini dilakukan demi menjaga keadilan dalam penjatahan.
Inilah yg akan diaudit oleh Bapepam sesuai kebiasaan IPO, dimana audit
dilakukan oleh akuntan publik untuk memeriksa bahwa tidak ada pelanggaran yg
terjadi dalam proses pemesanan IPO.

Pertanyaan berikutnya yg mungkin muncul di benak rekan2 adalah mengapa
penjatahan bookbuilding IPO KS koq parah sekali? Mengapa Bapepam tidak
campur tangan akan hal tersebut?

Jawabannya, berdasarkan peraturan, Bapepam tidak boleh mencampuri urusan
penjatahan maupun penentuan harga IPO setelah proses bookbuilding.
Underwritter lah yang memiliki hak tersebut. Tentunya underwritter telah
bekerjasama dengan emiten dalam hal ini pemegang saham dari KS.

Underwritter dalam proses penjatahan akan mendahulukan prime customer
mereka. Ini adalah hal yg wajar dalam dunia bisnis underwritter dimana
mereka akan mendahulukan nasabah mereka dulu khususnya yang prime customer.
Karena dari prime customer inilah bisnis mereka bisa lebih berkelanjutan di
masa2 mendatang.

Mengenai pernyataan Ibu Anita yg mengatakan asing dapat 73%, silakan
ditunjukan dan dibawa saja buktinya Bu. Bila benar Ibu Anita bisa tunjukan
bahwa asing mendapat penjatahan sampai 73%, maka underwritter bisa
diperkarakan. Karena ketentuan yg disepakati di awal adalah dari 20% saham
yg ditawarkan ke publik, lokal dapat jatah 65% (alias 13% dari 20%), asing
dapat jatah 35% (alias hanya 7% dari 20% yg ditawarkan). Tapi kalau Bu Anita
hanya mendengar dari orang dengan berdasarkan katanya...katanya....dan
katanya, sebaiknya abaikan saja Bu. Saat ini banyak yg mencoba mempolitisir
kasus KS ini. Bahkan saya bisa buktikan dimana para ekonom yg muncul di
televisi itu banyak memberikan informasi yg menyesatkan. Saya terkadang
miris juga, kasihan juga rakyat mendapatkan informasi yg menyesatkan
sehingga masyarakat jadi kehilangan hak mendapatkan informasi yang benar.

Tapi itulah kondisinya. Kalau tidak kontroversial, kurang laku dijual ke
publik. Kalau kontroversial, baru menarik. Tapi saya percaya pihak TV dan
media sebenarnya punya kesamaan visi untuk memberikan informasi yg berimbang
kepada masyarakat, sayangnya mungkin mereka kekurangan informasi terhadap
para narasumber yang mana yg mungkin bisa diandalkan untuk memberikan
informasi penyeimbang.

catatam:
Pada hari Rabu pagi, tanggal 9 Nov 2010, saya sempat dihubungi oleh salah
satu televisi swasta nasional untuk diminta memberikan semacam pelatihan
atau briefing kepada sekitar 30 jurnalisnya dari jam 10-12 pagi hari itu
juga dan diharapkan saya menyampaikan seputar IPO KS agar para jurnalis
televisi itu mendapatkan pengetahuan yg cukup sehingga ketika ingin meliput
hal ini bisa memberikan informasi yg baik kepada pemirsanya. Saya sangat
salut dengan upaya televisi ini untuk mendidik pemirsanya dengan informasi
yg berimbang. Sayang saja waktu itu saya berhalangan karena saya ingin
konsentrasi trading berhubung pasarnya lagi ramai. Saya katakan kalau
setelah jam trading, saya siap. Sayangnya, waktu tidak cocok, karena untuk
bisa mengumpulkan sekitar 30 jurnalis di jam yg sama itu sudah sulit dan
jarang bisa dilakukan. Mudah2an di lain waktu ada kesempatan lagi untuk hal
yg mungkin berbeda.

Kira2 itu gambaran singkat dari saya walaupun masih banyak hal yg bisa saya
sampaikan untuk mengcounter pernyataan2 miring dari beberapa ekonom yg saya
perhatikan banyak yg menyesatkan masyarakat.

catatan keterbukaan:
Saya tidak memesan saham KS pada saat book building KS maupun IPO KS. Saya
tidak memiliki saham KS.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu




2010/11/16 Anita Bdg <[email protected]
<http://mc/[email protected]> >





Kalo pejabat pemerintah mentalnya modelnya kek begini. 
wajar aja negara selalu dirugikan dan selalu bangkrut.
Investor Asing dan lokal tentu terbahak2 mentertawakan proses IPO KS,
jelas2 oversubribed koq diambil harga bawah.......
anak tamatan SD juga tahu itu ga bener, 
gak usah pake underwriter segala yg dibayar mahal2.
kalo yg kebagian satu lot mah jangan diitung investor.
saya warga negara indonesia dgn nasionalisme yang mau beli dan berani dgn
harga diatas 1000 rp. pun ngga kebagian, 
tp asing bisa dapet 73 persen dgn harga obral....obralllll....obraaaalll
=============================================================
http://www.detikfinance.com/read/2010/11/16/131742/1495431/6/tanggapi-class-
action-ipo-ks-bapepam-nilai-pengamat-asal-ngomong?f9911013
===========================================================
Tanggapi Class Action IPO KS, 
Bapepam Nilai Pengamat Asal Ngomong
Herdaru Purnomo - detikFinance 

Jakarta - Sebanyak 13 ekonom akan melakukan gugatan class action kepada
pemerintah terkait dengan pelaksanaan penawaran umum perdana (initial public
offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KS). Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (Bapepam LK) menganggap 13 ekonom ini asal ngomong.

Hal ini dilontarkan oleh Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany saat ditemui di sela
acara Infobank Outlook 2011 di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa
(16/11/2010).

"Dia tuh mau mewakili siapa class action? Ngarang itu. Dia wakili siapa?
Siapa investor yang dirugikan yang diwakili? Class action itu jangan asal
omong, class action itu mewakili siapa? Class action itu harusnya sekumpulan
orang-orang yang drugikan. Lah ini siapa yang dirugikan, ayo siapa?" tutur
Fuad.

Seperti diketahui, 13 ekonom yang mengajukan gugatan class action adalah
Adler Manurung, Sri Edi Swasono, Kwik Kian Gie, Hendri Saparini, Sumarno M,
Rushadi, A. Razak, Ichsanudin Noorsy, William Tobing, Erwin Ramedhan, Adhie
Massardi, dan Fahmi Radi.

Fuad mengatakan, dalam IPO KS semua pihak merasa senang dan tak ada yang
dirugikan. Jadi menurutnya tak perlu ada yang diributkan lagi oleh semua
pihak.

"Sebenarnya semuanya happy di sini. Tugas saya kan melindungi investor.
Investornya happy kenapa saya harus ribut-ributin KS? Investornya saja
happy. Yang nggak happy itu yang mau beli nggak dapat. Normal lah itu biasa.
Pasti ada yang nggak dapat kan, ya semua itu keuntungan dari underwriter,"
tukas Fuad.

Seperti diketahui IPO KS menjadi buah bibir di kalangan masyarakat,
khususnya investor di pasar modal. Apalagi setelah pemerintah menetapkan
harga perdana saham KS Rp 850 atau mendekati batas bawah dari kisaran Rp
750-1.150 per saham.

Pihak-pihak yang tidak sepakat pun memprotes harga saham BUMN baja tersebut,
karena dianggap terlalu murah hingga terjadi tudingan adanya perampokan uang
negara. Mereka pun mendesak Bapepam-LK untuk membatalkan IPO Krakatau Steel.

Setidaknya ada 3 alasan pengajuan gugatan tersebut. Pertama, karena KS
bergerak dalam industri strategis yang sahamnya harus dikuasai penuh oleh
negara. Kedua, para penggugat menilai dalam pelaksanaan IPO tersebut negara
dirugikan lebih dari Rp 1 triliun. Lalu alasan terakhir adalah adanya dugaan
penyalahgunaan wewenang oleh oknum pejabat yang ikut berperan dalam proses
IPO tersebut.

Polemik semakin runcing usai KS listing di BEI pada Rabu (10/11/2010) lalu.
Saham KS langsung melesat hingga menyentuh batas atas auto rejection
sebesar Rp 420 (49,41%) ke level Rp 1.270 per saham. Namun, investor asing
ternyata langsung menjual 316.129.500 saham dengan total nilai Rp 378,693
miliar. Setelah aksi jual massif ini, kepemilikan asing tersisa 788.120.500
saham atau setara dengan 5% dari total saham KS.
 
Salah satu ekonom yaitu Adler, menduga pelepasan saham Krakatau Steel oleh
investor asing sebagai sebuah persengkongkolan. Selama ini pemerintah selalu
mendukung kepentingan investor asing dan mengabaikan investor dalam negeri.

(dnl/dro) 















Kirim email ke