Sedikit sharing aja nih. SIN itu salah satu tujuannya hanya penyederhanaan data base aja di KSEI koq, supaya kalo nasabah punya lebih dari satu rekening account cukup tercatat dengan satu nomer saja di KSEI, sehingga lebih mudah mengawasinya, baik kepentingan pajak, money loundry dsbnya.
Sedangkan utk transaksi di bursa penggunaan SIN ga begitu prinsip, jadi menurut hemat saya dgn identitas broker saja spt saat ini ga masalah koq, anggap saja si investor nitip uang di broker lalu minta tolong beliin/jualin sahamnya dan sekaligus tolong simpenin di KSEI utk keamanan saham2nya. ga penting siapa yang jual dan beli yang penting tercatat rapih dan ada uangnya, kecuali pihak otoritas pajak, kepolisian bapepam dll yg berhak tahu siapa orangnya sehubungan dengan jabatannya melalui pemeriksaan catatan brokernya. Jadi kita ga perlu tahu nama individu, even kode (jaga privacy juga). Sebetulnya awal diskusi ini kan transparansi book building suatu saham yg IPO. Saat ini menurut saya tetep kurang transparan, contohnya kita ga tahu koq bener ga oversubcribed 2,3,4 x dsbnya. Seandainya dibuka pasar non transaksional khusus book building computerized, asing, lokal, retail, institusi semua sama perlakuannya tanpa diskriminasi, equality by the law kata orang hukum. Sehingga harga IPO terbentuk oleh supply demand di market yg transparan dan bertanggung jawab, bukan ditetapkan berdasarkan analisis. sejago2nya analisis tetap pasarlah yg benar. Disini ga diperlukan penjamin emisi... Sekedar Usulan saja nih Semua Investor yg mau ikut IPO setor duit dulu ke broker masing2 sebelum mengajukan penawaran beli. lelang book building dibuka misalnya selama seminggu non stop, ngga perlu office hour. Disediakan sekian juta lembar saham yg mau di IPO kan sesuai dengan prospektus misalnya.(pasang di Offerr) semuanya kan sahamnya emitten. Tetapkan harga awal yang sangat minimum, agar ada yg mau nawar . Investor silahkan tawar sampai habis offernya. (ini blm transaksi lho walau done) setelah habis offernya akan tercatat pada transaction table harga2 penawaran dan jumlah lot yg sudah diminati. investor baru bisa menawar yang lebih tinggi sekiligus mengeliminasi investor penawar harga terendah. hasil tawaran investor baru yg lbh tinggi akan mengupdate transaction table begitu seterusnya setiap investor penawar tertinggi akan mengeliminasi investor penawar terendah sebelumnya. semua tercatat real time 24 hours a day, khusus book building. book building akan di stop pada jam tertentu. tapi bisa saja distop kapan saja oleh otoritas bursa. Setelah pasar book building closed baru penyelesaian pencatatan tarnsaksi sampai beres. setelah itu kira2 seminggu kemudian baru masuk secondary market. sayapikir cara ini akan lbh transparan, adil dan ga ada yg menghindar dari kewajiban. Semua metode pasti ada kekurangan dan kelebihan mari kita perbaiki semua kekurangannya as maximum as possible. Jangan pernah malas berfikir utk merubah sesuatu. Sekian terima kasih --- Pada Kam, 18/11/10, Oguds <[email protected]> menulis: Dari: Oguds <[email protected]> Judul: Re[6]: [saham] Single Identity Number (was LAGI LAGI KRAS...) Kepada: "Irwan Ariston Napitupulu" <[email protected]> Tanggal: Kamis, 18 November, 2010, 6:28 PM Thursday, November 18, 2010, 10:13:17 AM, you wrote: IAN> mungkin yg anda maksud itu adalah "Single Identity Number" (SIN). Betul, yg saya maksud SIN itu. Ada media yg pakai istilah CIN. Mekanisme persisnya saya kurang tahu, hanya menduga, transaksi yg done itu buyer dan seller-nya berupa kode 6 angka (saat ini hanya kode sekuritas). Nantinya (saya menduga/berharap) KSEI menyediakan fasilitas untuk menerjemahkan kode 6 angka menjadi identitas seperlunya (semacam whois di domain name). Menyangkut kerahasiaan nasabah, ya peraturannya perlu disesuaikan. Bukan hal tabu merevisi peraturan. Namun saya juga memaklumi bila 6 angka SIN tadi tidak bisa dikuak lebih dalam. Setidaknya ini lebih baik, lebih spesifik, daripada 2 digit kode sekuritas. Btw, CMIIW. -- Tertanda, Oguds [960000031]
