Bursa dunia di tengah sesi pagi dimeriahkan dengan kabar insiden artileri
antara Korea Selatan dan Utara, meskipun sampai detik 'posting' ini dirilis
konfirmasi dari sejumlah news agency adalah tidak ada atau belum ada
konfirmasi apapun mengenai kebenaran insiden tersebut. Meskipun benar, saya
berpendapat sebagai berikut.
Pertama, insiden artileri Korea ini bukan yang pertama dalam jangka waktu
yang pendek. Jadi dari sudut bobot sentimen pemberitaan, statusnya
janda/duda bukan lagi perjaka/perawan....kesimpulannya tidak terlalu
'menarik', atau kalaupun menarik yang sebatas tarikan singkat dan 'good
luck' untuk yang memanfaatkan sentimen tersebut dengan posisi 'long'.
Kemudian, meski aksi pasar yang dipicu oleh berita bisa sedemikian reaktif
dan drastis, justru kondisi itu membuka peluang baik bagi banyak spekulator.
Meski satu berita bisa berbeda dengan berita lainnya, tetap ada pola yang
sama yang bisa dimanfaatkan secara situasional untuk mengambil keuntungan
melalui posisi transaksi perdagangan. Selama beberapa dekade saya mencermati
'breaking news' yang satu ke yang lainnya, yang menggerakkan pasar dan
harga-harga saham, kesimpulannya ya sederhana saja bahwa ada psikologi
pemberitaan yang terlibat, dan 'traders' yang memahami psikologi pemberitaan
ini bisa meng-kapitalisasi keuntungan yang lumayan.
Berita bisa menggerakkan pasar karena sederhananya berita bisa membangkitkan
sentimen, atau mempengaruhi bagaimana perasaan 'traders'. Ketika 'traders
merasa sangat baik, mereka hampir dipastikan akan banyak membeli saham, dan
ketika perasaan buruk, 'traders' sangat mungkin akan jualan. Banyak sekali
contoh sentimen berita ini yang kemudian ekses psikologisnya dieskalasi baik
sengaja maupun tidak sengaja dengan teknik pemberitaan. Kita masih ingat
ketika Perang Teluk di awal 1991 di mana ladang-ladang minyak Kuwait
dibumihanguskan oleh pasukan Irak. Sebelum pasukan sekutu di bawah pimpinan
ASA mengusir Irak dari Kuwait, pasukan Irak berupaya membakar kurang lebih
700 ladang minyak Kuwait, yang pada puncaknya menurut liputan-liputan berita
sama dengan mengkonsumsi 6 juta barel minyak sehari, dan ini berarti sama
dengan 9% dari konsumsi minyak dunia. Luar biasa mengerikan dampaknya.
Ditambah kemudian pernyataan-pernyataan dari berbagai ahli yang diekspose
oleh meida bahwa akan butuh setidaknya 5 tahun untuk memadamkan kebakaran
ladang-ladang minyak tersebut, dan sebagian kebakaran tersebut hanya akan
padam setelah sumber minyaknya habis dalam 10 tahun! Bahkan Carl Sagan,
saintis yang terkenal itu, memprediksi akan adanya musim dingin nuklir
karena asap tebal yang meliputi bumi akan menghalagi sinar matahari. Dia
bahkan menyamakan kondisi yang akan terjadi itu dengan erupsi Gunung Tambora
di 1815!!!
Apa yang terjadi kemudian? Harusnya tidak penasaran, kecuali Anda baru duduk
di bangku Taman Kanak-Kanak waktu itu.
Yang terjadi hanya dalam 9 bulan api bisa dipadamkan. 'Boro-boro' musim
dingin nuklir seperti bayangannya Carl Sagan, suhu turun 1/100 celcius saja
juga tidak. Dan setelah ladang minyak luluh lantak, produksi minyak Kuwait
justru 'rebound' jauh lebih cepat dari antisipasi para ahli. Kalau mau
tambah seru lagi mengenai psikologi berita dan sentimen pasar, bisa
mengikuti insiden-insiden seperti 9/11 di New York, oil spill BP di Teluk
Meksiko atau yang dekat-dekat saja seperti ledakan bom di berbagai tempat di
Indonesia.
Jadi, teknik dagang psikologi berita itu sangat gampang. 'Sell-off' di awal
berita buruk, kemudian mulai menyadari prediksi ahli tidak akan pernah jadi
kenyataan, dan semua kekhawatiran/kekalutan yang menyelimuti 'emotional
selling' hampir dipastikan sudah berlebihan ('overdone'), dan seketika
spekulator menyergap dengan meng-kapitalisasi sentimen berita dan 'buy
early' ketika ketidakpastian masih menyelimuti karena itu adalah saat di
mana harga-harga masih di titik terendah.
Insiden Korea ini juga akan berakhir sama. Dengan AS dan Cina di belakang,
terlalu gegabah jika mereka bersepakat untuk merusak momentum pertumbuhan
ekonomi di antara keduanya.
'+'