Om + > Selama beberapa dekade saya... Walah si om + ini pastilah senior dan suhu banget dah...
1991 gw masih bocah om.....anyway thanks for sharing your thought and experience ya om+ Sent from my iPhone®3Gs powered by Telkomsel On 20 Des 2010, at 13:23, positif01 <[email protected]> wrote: > Bursa dunia di tengah sesi pagi dimeriahkan dengan kabar insiden artileri > antara Korea Selatan dan Utara, meskipun sampai detik 'posting' ini dirilis > konfirmasi dari sejumlah news agency adalah tidak ada atau belum ada > konfirmasi apapun mengenai kebenaran insiden tersebut. Meskipun benar, saya > berpendapat sebagai berikut. > > > Pertama, insiden artileri Korea ini bukan yang pertama dalam jangka waktu > yang pendek. Jadi dari sudut bobot sentimen pemberitaan, statusnya janda/duda > bukan lagi perjaka/perawan....kesimpulannya tidak terlalu 'menarik', atau > kalaupun menarik yang sebatas tarikan singkat dan 'good luck' untuk yang > memanfaatkan sentimen tersebut dengan posisi 'long'. > > Kemudian, meski aksi pasar yang dipicu oleh berita bisa sedemikian reaktif > dan drastis, justru kondisi itu membuka peluang baik bagi banyak spekulator. > Meski satu berita bisa berbeda dengan berita lainnya, tetap ada pola yang > sama yang bisa dimanfaatkan secara situasional untuk mengambil keuntungan > melalui posisi transaksi perdagangan. Selama beberapa dekade saya mencermati > 'breaking news' yang satu ke yang lainnya, yang menggerakkan pasar dan > harga-harga saham, kesimpulannya ya sederhana saja bahwa ada psikologi > pemberitaan yang terlibat, dan 'traders' yang memahami psikologi pemberitaan > ini bisa meng-kapitalisasi keuntungan yang lumayan. > > Berita bisa menggerakkan pasar karena sederhananya berita bisa membangkitkan > sentimen, atau mempengaruhi bagaimana perasaan 'traders'. Ketika 'traders > merasa sangat baik, mereka hampir dipastikan akan banyak membeli saham, dan > ketika perasaan buruk, 'traders' sangat mungkin akan jualan. Banyak sekali > contoh sentimen berita ini yang kemudian ekses psikologisnya dieskalasi baik > sengaja maupun tidak sengaja dengan teknik pemberitaan. Kita masih ingat > ketika Perang Teluk di awal 1991 di mana ladang-ladang minyak Kuwait > dibumihanguskan oleh pasukan Irak. Sebelum pasukan sekutu di bawah pimpinan > ASA mengusir Irak dari Kuwait, pasukan Irak berupaya membakar kurang lebih > 700 ladang minyak Kuwait, yang pada puncaknya menurut liputan-liputan berita > sama dengan mengkonsumsi 6 juta barel minyak sehari, dan ini berarti sama > dengan 9% dari konsumsi minyak dunia. Luar biasa mengerikan dampaknya. > Ditambah kemudian pernyataan-pernyataan dari berbagai ahli yang diekspose > oleh meida bahwa akan butuh setidaknya 5 tahun untuk memadamkan kebakaran > ladang-ladang minyak tersebut, dan sebagian kebakaran tersebut hanya akan > padam setelah sumber minyaknya habis dalam 10 tahun! Bahkan Carl Sagan, > saintis yang terkenal itu, memprediksi akan adanya musim dingin nuklir karena > asap tebal yang meliputi bumi akan menghalagi sinar matahari. Dia bahkan > menyamakan kondisi yang akan terjadi itu dengan erupsi Gunung Tambora di > 1815!!! > > Apa yang terjadi kemudian? Harusnya tidak penasaran, kecuali Anda baru duduk > di bangku Taman Kanak-Kanak waktu itu. > > Yang terjadi hanya dalam 9 bulan api bisa dipadamkan. 'Boro-boro' musim > dingin nuklir seperti bayangannya Carl Sagan, suhu turun 1/100 celcius saja > juga tidak. Dan setelah ladang minyak luluh lantak, produksi minyak Kuwait > justru 'rebound' jauh lebih cepat dari antisipasi para ahli. Kalau mau tambah > seru lagi mengenai psikologi berita dan sentimen pasar, bisa mengikuti > insiden-insiden seperti 9/11 di New York, oil spill BP di Teluk Meksiko atau > yang dekat-dekat saja seperti ledakan bom di berbagai tempat di Indonesia. > > Jadi, teknik dagang psikologi berita itu sangat gampang. 'Sell-off' di awal > berita buruk, kemudian mulai menyadari prediksi ahli tidak akan pernah jadi > kenyataan, dan semua kekhawatiran/kekalutan yang menyelimuti 'emotional > selling' hampir dipastikan sudah berlebihan ('overdone'), dan seketika > spekulator menyergap dengan meng-kapitalisasi sentimen berita dan 'buy early' > ketika ketidakpastian masih menyelimuti karena itu adalah saat di mana > harga-harga masih di titik terendah. > > Insiden Korea ini juga akan berakhir sama. Dengan AS dan Cina di belakang, > terlalu gegabah jika mereka bersepakat untuk merusak momentum pertumbuhan > ekonomi di antara keduanya. > > '+' >
