Berita ini terlalu dibesar-besarkan Terlalu mengada-ada. Sebab buktinya Chart Index Kospi dengan cepat kembali bullish. Sampai sessi penutupan hari ini. Minus point hanya sedikit saja.
Sent from my -BlackBerry Phone- -----Original Message----- From: positif01 <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 20 Dec 2010 13:23:08 Reply-To: [email protected] Subject: [saham] Kata saya tentang Korea Bursa dunia di tengah sesi pagi dimeriahkan dengan kabar insiden artileri antara Korea Selatan dan Utara, meskipun sampai detik 'posting' ini dirilis konfirmasi dari sejumlah news agency adalah tidak ada atau belum ada konfirmasi apapun mengenai kebenaran insiden tersebut. Meskipun benar, saya berpendapat sebagai berikut. Pertama, insiden artileri Korea ini bukan yang pertama dalam jangka waktu yang pendek. Jadi dari sudut bobot sentimen pemberitaan, statusnya janda/duda bukan lagi perjaka/perawan....kesimpulannya tidak terlalu 'menarik', atau kalaupun menarik yang sebatas tarikan singkat dan 'good luck' untuk yang memanfaatkan sentimen tersebut dengan posisi 'long'. Kemudian, meski aksi pasar yang dipicu oleh berita bisa sedemikian reaktif dan drastis, justru kondisi itu membuka peluang baik bagi banyak spekulator. Meski satu berita bisa berbeda dengan berita lainnya, tetap ada pola yang sama yang bisa dimanfaatkan secara situasional untuk mengambil keuntungan melalui posisi transaksi perdagangan. Selama beberapa dekade saya mencermati 'breaking news' yang satu ke yang lainnya, yang menggerakkan pasar dan harga-harga saham, kesimpulannya ya sederhana saja bahwa ada psikologi pemberitaan yang terlibat, dan 'traders' yang memahami psikologi pemberitaan ini bisa meng-kapitalisasi keuntungan yang lumayan. Berita bisa menggerakkan pasar karena sederhananya berita bisa membangkitkan sentimen, atau mempengaruhi bagaimana perasaan 'traders'. Ketika 'traders merasa sangat baik, mereka hampir dipastikan akan banyak membeli saham, dan ketika perasaan buruk, 'traders' sangat mungkin akan jualan. Banyak sekali contoh sentimen berita ini yang kemudian ekses psikologisnya dieskalasi baik sengaja maupun tidak sengaja dengan teknik pemberitaan. Kita masih ingat ketika Perang Teluk di awal 1991 di mana ladang-ladang minyak Kuwait dibumihanguskan oleh pasukan Irak. Sebelum pasukan sekutu di bawah pimpinan ASA mengusir Irak dari Kuwait, pasukan Irak berupaya membakar kurang lebih 700 ladang minyak Kuwait, yang pada puncaknya menurut liputan-liputan berita sama dengan mengkonsumsi 6 juta barel minyak sehari, dan ini berarti sama dengan 9% dari konsumsi minyak dunia. Luar biasa mengerikan dampaknya. Ditambah kemudian pernyataan-pernyataan dari berbagai ahli yang diekspose oleh meida bahwa akan butuh setidaknya 5 tahun untuk memadamkan kebakaran ladang-ladang minyak tersebut, dan sebagian kebakaran tersebut hanya akan padam setelah sumber minyaknya habis dalam 10 tahun! Bahkan Carl Sagan, saintis yang terkenal itu, memprediksi akan adanya musim dingin nuklir karena asap tebal yang meliputi bumi akan menghalagi sinar matahari. Dia bahkan menyamakan kondisi yang akan terjadi itu dengan erupsi Gunung Tambora di 1815!!! Apa yang terjadi kemudian? Harusnya tidak penasaran, kecuali Anda baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak waktu itu. Yang terjadi hanya dalam 9 bulan api bisa dipadamkan. 'Boro-boro' musim dingin nuklir seperti bayangannya Carl Sagan, suhu turun 1/100 celcius saja juga tidak. Dan setelah ladang minyak luluh lantak, produksi minyak Kuwait justru 'rebound' jauh lebih cepat dari antisipasi para ahli. Kalau mau tambah seru lagi mengenai psikologi berita dan sentimen pasar, bisa mengikuti insiden-insiden seperti 9/11 di New York, oil spill BP di Teluk Meksiko atau yang dekat-dekat saja seperti ledakan bom di berbagai tempat di Indonesia. Jadi, teknik dagang psikologi berita itu sangat gampang. 'Sell-off' di awal berita buruk, kemudian mulai menyadari prediksi ahli tidak akan pernah jadi kenyataan, dan semua kekhawatiran/kekalutan yang menyelimuti 'emotional selling' hampir dipastikan sudah berlebihan ('overdone'), dan seketika spekulator menyergap dengan meng-kapitalisasi sentimen berita dan 'buy early' ketika ketidakpastian masih menyelimuti karena itu adalah saat di mana harga-harga masih di titik terendah. Insiden Korea ini juga akan berakhir sama. Dengan AS dan Cina di belakang, terlalu gegabah jika mereka bersepakat untuk merusak momentum pertumbuhan ekonomi di antara keduanya. '+'
