MPPA sepertinya menjadi salah satu saham yang paling atraktif untuk dipantau
oleh para 'traders' hari ini. Dengan posisi penutupan harga di Rp1.600 yang
dikonfirmasi vwap di Rp1.609,45, harga MPPA sudah terdiskon 12,56% dari
penutupan perdagangan minggu lalu di Rp1.830 dan vwap di Rp1.849,25.
'Pull-back' harga MPPA sendiri sudah diantisipasi mayoritas pasar mengingat
pola pergerakan pasca 'cum date' dividen pasar reguler/nego selama 2010.
Namun demikian, yang menarik sejauh ini, 'pull-back' selama sesi 1 belum
mampu mendorong peningkatan volume yang signifikan dan penurunan harga yang
lebih dalam. Selain faktor masih adanya periode 'cum date' dividen di pasar
tunai hingga 29 Desember, faktor penyelesaian divestasi, baik aset atau
ekuitas, MPPA yang akan segera tuntas pada minggu pertama Januari, juga
menjadi pertimbangan pasar untuk awas dan berjaga atas potensi 'rebound'
harga MPPA, hari ini atau beberapa hari ke depan.

Menarik untuk mengulas sedikit, potensi/prospek positif MPPA menjelang
pengumuman divestasi yang difasilitasi oleh Merril Lynch (Singapore), Pte.
Ltd. kepada salah satu penawar prospektif yang masing-masing merupakan
peritel global: Lotte Shopping, Co., Ltd., Wal-Mart Stores, Inc. atau Casion
Guichard-Perrachon, S.A.

1. Prospek divestasi. Tenggat waktu penyelesaian divestasi aset/ekuitas MPPA
semakin dekat. Pihak MPPA sendiri sebagaimana pernyataan Direktur Komunikasi
Korporat-nya, Danny Kojongian, Kamis lalu memberikan indikasi tuntasnya
proses penawaran pada minggu pertama Januari 2011 (
http://www.bloomberg.com/news/2010-12-23/matahari-says-suitors-may-complete-due-diligence-in-january.html).
Hal ini sejalan dengan indikasi rilis pernyataan lanjutan oleh Lotte
Shopping Co., Ltd. yang merupakan perusahaan terbuka di Korea Selatan dan
Inggris, yang akan disampaikan paling lambat 09 Januari 2011 (
http://www.londonstockexchange.com/exchange/news/market-news/market-news-detail.html?announcementId=10736609).
Dalam dunia riil bisnis, komunikasi publik yang digunakan kurang lebih sama
dengan bahasa diplomasi. "Ya" berarti "mungkin tidak", "Mungkin" berarti
"ya/tidak" tergantung konteks dan tujuan jangka pendek, dan "tidak" berarti
"mungkin iya". Oleh karena itu, dengan 'sense business', deal Lotte atas
MPPA sepertinya sudah 'selesai' dan tinggal menunggu waktu pengumuman yang
tepat. Tentu jika pernyataannya, "pasti selesai" masuk kategori 'insider
information' yang mengarah kepada tindak pidana 'insider trading'. :d.

2. Optimisme Lotte. Lotte sebagai salah satu peritel global sekaligus
terbesar kedua di Korea Selatan tentu akan bertindak sebagaimana pemain
global besar lainnya dalam melakukan penetrasi pasar. Tidak ada pilihan
ketika pemain global sesuai bidangnya masing-masing masuk ke dalam pasar di
luar negara induk, untuk mengambil 'lion share' atau pangsa mayoritas pasar
tujuan. Jika tidak, tentu lebih baik membesarkan pangsa pasar di negara
induk. Tindakan agresif Lotte untuk meminang MPPA tidak hanya dilakukan di
Indonesia, tetapi juga sebelumnya di Cina, Rusia dan Asia Timur lainnya.
Faktor utama yang mendesak adalah menajamnya kompetisi sesama ritel di Korea
Selatan. Selain itu, fakta bahwa Lotte telah menancapkan kukunya di pasar
ritel Indonesia melalui akuisisi Makro yang mengelola 21 'outlets' pada 2008
lalu, semakin menjustifikasi kebutuhan dan strategi ekspansi non-organik
yang mutlak harus dilakukan oleh Lotte. Penyelesaian akuisisi MPPA sendiri
akan menjadikan Lotte sebagai peritel global nomor 1 di Asia Tenggara
menggeser Carrefour. Prospek bisnis ritel di Indonesia di mata investor
strategis asing tidak hanya cemerlang karena tumbuhnya dan meningkatnya
pendapatan kelas menengah, tetapi dari realitas bisnis tercermin dari
pilihan Carrefour untuk bertahan di Indonesia dan tidak keluar sebagaimana
yang dilakukannya di Thailand.

3.  Potensi harga saham MPPA. Beberapa investor/trader ritel saham,
menunjukkan kekhawatiran atas meningkatnya rasio P/E MPPA pasca-divestasi
aset LPPF (Matahari Department Store). Kondisi peningkatan rasio P/E ini
dilihat dari proses 'deal' divestasi MPPA justru menjustifikasi rencana
divestasi tersebut oleh Group Lippo. Yang perlu diperhatikan oleh
investor/trader ritel adalah bagaimana dengan investor institusi lainnya di
luar pemegang saham pengendali yang bertahan di MPPA?

  *Holder*

* **Shares Held*

* **% of Shares Held*

Dimensional Fund Advisors, Inc.

57.92m

1.04%

Acadian Asset Management LLC

24.54m

0.44%

Grantham, Mayo, Van Otterloo Co. LLC

12.38m

0.22%

PensionDanmark

10.69m

0.19%

Lægernes Pensionskasse

9.47m

0.17%

Jika data volume kepemilikan oleh investor institusi di atas dibandingkan
dengan volume perdagangan harian yang tipis dibandingkan jumlah saham MPPA
yang dapat diperdagangkan ('tradable') maupun rata-rata volume transaksi
selama 2010, belum menunjukkan adanya 'outflow' dari investor institusi.
Fakta lainnya, adalah posisi asing yang masih 'net buy' hingga hari ini
untuk perdagangan MPPA selama 2010. Posisi diam/investasi yang diambil oleh
sebagian investor khususnya institusi cukup beralasan jika menimbang argumen
prospek bisnis ritel MPPA ke depan, terlebih di bawah pengelola baru yang
memiliki pengalaman 'hands-on' ritel yang mumpuni (
http://www.inilah.com/read/detail/590911/prospek-saham-mppa-usai-lepas-lppf/
).

Secara praktikal, dengan antusiasme Lotte atas MPPA yang sepertinya akan
ditempuh 'at all cost' dan 'pull-back' harga MPPA pasca-cum date dividen
pasar reguler/nego, potensi rebound dan kenaikan saham MPPA jauh di atas
'fair value'-nya dalam kondisi pasar jelang akhir tahun menjadikan 'risk'
MPPA lebih kecil dari 'reward'-nya. Jika ada yang mampu memberikan potensial
belasan/puluhan persen dalam waktu dekat dengan sentimen yang konkret, jelas
dan diantisipasi dalam waktu yang sangat dekat, mengapa harus bertaruh satu,
dua, tiga poin atas spekulasi komoditas yang sentimennya bergerak sangat
linear dan begitu umum, terlebih faktor cuaca yang menjadi pendorong
spekulasi komoditas diramalkan tidak akan lama usai memasuki tahun baru
(kompas hari ini halaman 17):

"Di pasar Eropa, Jumat lalu, perdagangan minyak mentah jenis Brent untuk
penyerahan Februari ditutup seharga 93,46 dollar AS per barrel. Sesaat
sebelumnya mencapai posisi 94,74 dollar AS per barrel, harga tertinggi dalam
26 bulan terakhir.
Di kalangan negara Arab produsen minyak (OAPEC) dalam pertemuan akhir pekan
lalu di Kairo, Mesir, juga meyakini perekonomian global masih bisa tegak
dengan harga minyak mentah 100 dollar AS per barrel.
Atas dasar itu, mereka berpendapat belum saatnya menambah produksi dan
pasokan ke pasar minyak internasional. Stok minyak mentah dinilai masih
cukup dan lonjakan harga sampai 90-an dollar AS per barrel hanya bersifat
sementara, yang dipicu kondisi cuaca dingin di Eropa."

NB: Ingat selalu, 'risk/money management' dalam setiap transaksi Anda. Tidak
terlalu penting, berapa sering Anda benar atau salah dengan perhitungan Anda
(TA, FA dan lainnya), tetapi yang lebih penting apa tindakan Anda ketika
Anda benar atau salah. 'Let your profit run, cut your losses short':
Maksimalkan laba, potong segera rugi.

'+'

Kirim email ke