Gita Wirjawan, salah satu tokoh muda finansial Indonesia dengan segudang
pengalaman 'hands-on' atau konkret di pasar keuangan global dan dikenal luas
dalam jaringan investor institusi global, menjadi salah satu ikon investasi
penting bagi Indonesia. Setelah berkarier di berbagai lembaga keuangan dan
pernah menjabat sebagai 'country director' JP Morgan Indonesia, saat ini
dengan pos barunya sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),
Gita tampaknya bersiap betul memenuhi target yang membumbung untuk
mengundang 'foreign direct investment' hingga US$60 billion sampai 2014.

Dalam salah satu pernyataannya pada World Economic Forum di Ho Chi Minh
City, Juni lalu, Gita, yang mengetahui persis prospek bisnis Indonesia,
dengan pandangan 'bullish'-nya atas prospek investasi sektor hulu migas,
menyebutkan bahwa Indonesia selaku produsen minyak mentah terbesar di Asia
Tenggara akan segera memegang kembali tampuknya sebagai  'net exporter'
menjelang 2020. Untuk itu akselarasi dan eskalasi investasi dan eksplorasi
di industri migas harus segera direalisasikan. Gita dengan optimis
menyatakan, "In the next five to 10 years, we've got a chance." Dia juga
menekankan bahwa Indonesia sedang fokus untuk "seeing heightened exploration
activities in the near future". Pernyataan pada bulan Juni ini sudah mulai
terealisasikan pada akhir Desember dengan ditandatanganinya Peraturan
Pemerintah tentang 'cost recovery' industri migas yang menjawab banyak
ketidakjelasan resiko berinvestasi bagi para investor asing yang antusias di
sektor migas.

Lebih lanjut, Gita yang sebelumnya pernah menjabat sebagai komisaris
Pertamina menambahkan, "we have re-crafted the business plan for Pertamina
to set higher ambitions, from an upstream standpoint and also from a
downstream standpoint."

http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=newsarchive&sid=aw9euoJhjlvs

2010/12/29 positif01 <[email protected]>
 subject 2011: Eskalasi Kegiatan Hulu ('upstream') Migas Indonesia (bagian
1)
>
> Hulu ('upstream') atau biasa disebut dalam industri perminyakan sebagai E&D
> atau 'exploration & development' akan digenjot habis-habisan dan didukung
> sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia 'at all cost'. Argumen utama bukan
> karena mengejar 'windfall profit' atas proyeksi analis yang 'bullish' atas
> harga minyak mentah ke depan, tetapi antisipasi lonjakan konsumsi BBM di
> tengah ketiadaan pengembangan enerji alternatif yang memadai.
>
> Namun, ingat, sepanjang kaitannya dengan prospek 'stock pick' sektor migas
> untuk 2011/12, korelasi positif antara dorongan aktivitas hulu dan harga
> saham emiten migas tidak linear. Eksploitasi atau produksi tidak instan
> tetapi butuh waktu, dan industri migas merupakan industri mahal atau
> 'capital intensive'. Pemahaman atas potensi area kerja ('working area') yang
> masih produktif atau sudah 'depleted'/kempis, sangat menentukan laju
> optimisme kinerja E&D Companies. Oleh karena itu, cermat memanfaatkan
> peluang peningkatan aktivitas hulu dengan prospek saham emiten yang terkait
> dengan bisnis hulu. Pilihan saya, justru bukan pada E&D oil companies,
> tetapi oil companies yang menyediakan integrated services. Lapangan
> minyak/gas akan dikembangkan diproduksi dalam 7-10 tahun sejak mulai
> eksplorasi, tetapi yang mengerjakan/mendukung kegiatan eksplorasi sudah
> 'berproduksi' atau menghasilkan 'revenues' sejak minyak/gas-nya masih
> dicari, dan itu dalam sejak tahun 0. Smart?
>
> Pemerintah Indonesia sudah membuka gong awal, dukungan dan insentif
> penggalakan kegiatan hulu migas. William O'Neill dalam 'stock picking'
> menyebut istilah "follow-on effect". Kurang lebih ujarnya,
>
> "Sometimes, a major development takes place in one industry and related
> industries later reap follow-on benefits...When the price of oil rose in the
> late 1970s, oil companies began drilling like mad to supply the suddenly
> pricey commodity. As a result, a higher oil prices fueled a surge in the
> stocks of oil service companies that supplied the industry with exploration
> equipment and services."
>
> Can you see what I see?
>
> '+'
>

Kirim email ke