Menyaksikan kenaikan harga komoditas sejak kuartal 3-2010, dalam mayoritas
pikiran investor mengendap bayangan ledakan harga komoditas seperti 2008.
Naiknya harga minyak mentah ('crude oil') di penghujung 2010 menimbulkan
pertanyaan yang menggoda, apakah kenaikan akan berlanjut dengan 'magnitude'
yang sama seperti 2008 dan menjadi lokomotif kenaikan komoditas
lainnya?...Alternatif pandangan yang coba melihat dari berbagai perspektif
akan di-'share' lain waktu segera.Sementara itu, melanjutkan beberapa 'posting' jelang akhir tahun tentang eskalasi dan akselarasi kegiatan hulu migas dalam rangka mencari tambahan sumur-sumur minyak bumi baru, International Energy Agency (IEA) baru-baru ini mengeluarkan prediksi-nya tentang kenaikan permintaan global atas minyak mentah sebesar 1,4% menjadi 88,2 juta barel/hari selama 2011. IEA mencatat bahwa kenaikan permintaan yang signifikan akan datang dari 'fast-growing emerging markets', di antaranya Indonesia. Menyikapi kondisi ini, tidak salah jika sejak pertengahan tahun 2010, Pemerintah RI memulai mengambil langkah-langkah konkret komprehensif meliputi aspek regulasi maupun kebijakan teknis untuk mendorong iklim dan kegiatan usaha hulu migas. Menjelang tutup tahun, Pemerintah RI diberitakan mengajukan penawaran lelang 50 are kerja migas untuk 2011 ( http://www.reuters.com/article/idUSJKB00418720101231). Terlepas apakah harga minyak selama 2011, akan melampaui US$100 atau kembali ke 'comfort zone' OPEC di US$70 atau bahkan merosot ke US$50, peningkatan kebutuhan minyak mentah untuk menopang akselarasi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan surut, dan harus sudah diantisipasi. Kondisi ini memberikan prospek cerah bagi sejumlah emiten yang berhubungan langsung dengan pengelolaan/pengembangan kegiatan usaha hulu. Dan, satu-satunya emiten BEI yang menyediakan jasa penunjang terintegrasi yang cukup komprehensif untuk kegiatan eksplorasi dan ekspolitasi migas, mulai dari seismik, pengeboran hingga 'oilfield services' adalah ELSA. Manajemen ELSA harus dapat memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya dengan ekspansi agresif dan mengambil setiap kesempatan yang ada. Pefindo cukup beralasan untuk masih memasang peringkat korporasi "idA" dengan 'outlook' stabil pada kuartal 4-2010 lalu. Mengutip Pefindo, "The rating reflects the Company’s strong presence in oil and gas (O&G) service business, diversified business segment, and strong liquidity." Fakta, ELSA masih tercatat sebagai emiten anggota LQ45, dan pergerakan harga yang masih belum 'over-extended' atau 'naik terlalu jauh' sebagaimana banyak saham komoditas, serta top institutional buyer yang tidak mengurangi porto ELSA tetapi menambah sepanjang 2010, akan memberikan prospek 'upside' yang besar untuk ELSA di 2011. Recommend ELSA for 'intermediate investment' buying in 2011. '+'
