Saham AS Berakhir 'Mixed'

Saham-saham AS berakhir 'mixed' dengan penurunan volume, dan saham teknologi
bertahan atas tekanan.

Indeks komposit NYSE turun 0,2%, S&P 500 -0,1%. Namun, komposit Nasdaq
berhasil naik tipis 0,2% ditunjang oleh lonjakan indeks semikonduktor
Philadelphia sebesar 1%. Semua indeks utama mampu bertahan dari gusuran
penurunan yang lebih tajam pada awal perdagangan. Volume perdagangan menuru
di kedua bursa NYSE dan Nasdaq.

Alcoa telah memulai rilis laporan keuangan kuartal 4 dengan mengalahkan
('beating') estimasi laba.

Data ekonomi yang akan dirilis Selasa: ICSC-Goldman chain-store sales,
Redbook Research store sales dan Commerce Department's report on wholesale
trade for November.

Sementara bursa saham Indonesia bergerak liar di luar perkiraan banyak
pelaku pasar atas profit-taking dan pull-back sektor finansial, khususnya
perbankan, dan komoditas yang telah diantisipasi. Sentimen negatif terhadap
inflasi & potensi kenaikan BBM/TDL tampak telah keluar dari proporsi yang
pantas dan membawa sub-sub-sektor yang tidak seharusnya terpengaruh menjadi
terseret sentimen.

Adapun data dan informasi mengenai sumber sentimen sendiri, seperti inflasi
telah jauh-jauh hari diindikasikan oleh pihak yang berkompeten, dan tidak
hanya itu, bahkan lebih baik dari Bank Sentral AS, BI telah menyampaikan
secara terbuka target inflasi yang hendak dicapai. Kejadian pada Senin
kemarin mengingatkan kepada 'flash crash' 06 Mei 2010 yang dialami oleh
bursa AS dan tercatat sebagai penurunan terdalam dalam sejarah bursa saham
AS dengan turun hampir 1.000 poin pada hari itu, yang diawali dengan
bergolaknya di luar proporsi kekhawatiran atas utang Yunani. Kondisi bursa
Indonesia kemarin mungkin tidak dikualifikasikan sebagai 'flash' tapi reaksi
yang sama tidak rasional-nya pada akhirnya akan mendorong pelaku pasar
bergerak sebagai kerumunan yang rentan terhadap 'kerusuhan' yang berujung
kepada 'crash'.

Sebagaimana 'flash crash' AS Mei lalu terjadi, kekhawatiran temporer yang
tidak terbukti, bahkan fakta yang dikhawatirkan bergerak lebih buruk,
ternyata indeks-indeks utama bergerak jauh lebih baik dan menutup akhir
tahun 2010 di atas level sebelum krisis finansial global. Demikian pula,
diperkirakan bursa Indonesia yang merupakan bagian dari negara anggota G-20
dengan prospek peningkatan peringkat utang dan 'outlook' investasi menjadi
'investment grade' akan mampu melalui salah satu 'swing' terdalam pada awal
tahun perdagangan baru 2011.

Humphrey Neil menjelaskan mengapa kerumunan ('crowd') dapat bergerak
irasional:
1) A crowd is subject to instincts that individuals acting independently
would never do;
2) People involuntarily follow the impulses of the crowd;
3) Contagion and imitation of the minority make individuals susceptible to
suggestion, commands, customs, and emotional appeals;
4) When gathered as a group or crowd, people rarely reason or question but
follow blindly and emotionally to what is suggested or asserted.

Dalam situasi yang irasional, sulit untuk menentukan, apakah dana asing yang
mempengaruhi investor lokal untuk bereaksi panik, atau justru reaksi di luar
proporsi investor lokal yang menyebabkan asing ikut sebagai bagian dari
'crowd'. Apapun itu, total nilai transaksi lokal justru lebih besar daripada
asing kemarin.

US market outlook: 'Market in Confirmed Uptrend'
Indonesia market outlook: 'Market Uptrend under Pressure'

'+'

Kirim email ke