Wah penyakit sering terlambatnya GIA masih belum sembuh. Dulu sy pernah  naik 
garuda dari jkt-sin jam 17.00 sampai Singapore jam 02.00  tengah malam  karena 
delay, yang  tdk tanggung2 lebih dari 4 jam Mudah-mudahan penyakit terlambatnya 
garuda bisa sembuh setelah IPO 

http://www.facebook.com/hakie1
http://www.tviexpress.com/andyelia1
  ----- Original Message ----- 
  From: Onang Hendrianto 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, January 12, 2011 7:26 PM
  Subject: Re: [saham] Kenapa MBTO tidak akan seperti EMDE


    

  740, Mas Cu, hohohoho .... Hari ini Garuda jadi public expose ga? Tadi 
rencana jam 2 tapi diundur ke jam 4. Luar biasa trade mark "delay" tetap 
nempel, hohohoho .....
  Salam.


    ----- Original Message ----- 
    From: [email protected] 
    To: [email protected] 
    Sent: Wednesday, January 12, 2011 3:26 PM
    Subject: Re: [saham] Kenapa MBTO tidak akan seperti EMDE


      
    Berapa ya harga MBTO besok? Tx :) 

    Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


----------------------------------------------------------------------------

    From: positif01 <[email protected]> 
    Sender: [email protected] 
    Date: Wed, 12 Jan 2011 15:06:50 +0700
    ReplyTo: [email protected] 
    Subject: [saham] Kenapa MBTO tidak akan seperti EMDE


      

    Diberitakan 85% pembeli IPO EMDE atau (PT Metropolitan Development, Tbk.) 
adalah investor ritel. Malang nian, seandainya para ritel bisa lebih baik 
membaca kondisi dan prospek ekonomi ke depan. Menjawab sejumlah pertanyaan "ada 
apa dengan EMDE di hari listing-nya saat ini?" Harga bukan melesat melampaui 
IPO tetapi malah 'nyungsep dalam. Apa kira-kira penyebabnya? Dan apakah ini 
kesempatan "bottom-fishing'?

    Penyebabnya tidak perlu fancy theory atau teori ekonomi rumit. Cukup 
kemampuan membaca pasar yang sederhana. 
    1) Situasi moneter global/regional dan lokal berada pada 'inflationary 
environment';
    2) Hindarkan investasi pada saham-saham yang rentan terhadap inflasi atau 
"deflationary-sensitive'. Maksudnya jika deflasi mereka sensitif untuk 
berprestasi, tetapi ketika inflasi akan rentan terhadap koreksi 
dalam/'reversal'.
    3) Harga komoditas naik, suku bunga bank naik/akan naik, perusahaan pinjam 
uang ke bank untuk usaha maka bunga pinjaman ('cost of fund') naik, dan 
perusahaan yang penghasilannya digantungkan kepada pembelian konsumer yang juga 
mengandalkan pinjaman bank termasuk di antaranya yang akan terkena dampak. 
Kenapa? Karena bunga pinjaman konsumer ya juga naik. Akhirnya, belanja 
modal/rutin naik, sementara penjualan turun.
    4) Cari tahu apa subsektor/jenis usaha emiten. Membaca profil EMDE jelas 
meski masuk sektor Konstruksi tetapi lebih tepatnya pada property golongan real 
estate. Pangsa pasarnya adalah ritel yang mengandalkan pinjaman bank, bukan 
corporate. Bandingkan dengan misalnya DGIK, WIKA atau ADHI. 

    Jelas, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi makro maupun mikro 
ekonomi, masuk ke EMDE bukan 'bottom-fishing' tapi "fishing bottom" mungkin 
lebih tepat. Dengan 'inflationary environment', investor akan fokus pada saham 
yang sensitif terhadap inflasi, dan EMDE bukan kategori itu.

    Sebaliknya IPO besok MBTO (Martina Berto) berbeda diametral dengan EMDE. 
Dengan sektor konsumer yang dikenal sebagai kategori 'defensive stocks' dan 
masuk subsektor personal goods, prospek IPO besok sepertinya akan melaju dengan 
baik. Saham-saham defensive adalah salah satu yang direkomendasikan dalam fase 
'inflationary environment'. Dengan likuiditas yang terbatas karena jumlah yang 
ditawarkan tidak banyak, jika ingin memanfaatkan kesempatan untuk berspekulasi, 
MRAT sebagai rekan sejawat ('peer') mungkin akan cukup menjanjikan besok, tentu 
jangan terlambat besok dan hindari 'stock chasing'.

    '+'



  

Kirim email ke