Fund manager
-----Original Message-----
From: "Onang Hendrianto" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 14 Jan 2011 13:46:41 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bedanya Amerika dan Indonesia Re: [saham] BI dan suku bunga, 
sekali lagi?

Kalau radio, FM tuh Frequency Modulation, la kalau FM disini kepanjangannya apa 
to, hohohoho ....
Salam

  ----- Original Message ----- 
  From: Irwan Ariston Napitupulu 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, January 14, 2011 1:24 PM
  Subject: Re: Bedanya Amerika dan Indonesia Re: [saham] BI dan suku bunga, 
sekali lagi?


    
  FM asing tidak bermain dengan persepsi, mereka berhitung dengan kalkulator. 
Saya sudah tunjukkan hitung2an kalkulatornya yg menunjukkan mereka tetap cuan 
lumayan di Indonesia selama nilai tukar mata uang rupiah kita bisa dijaga 
stabil oleh BI.

  Spekulanlah yg coba mengobok2 dengan menciptakan persepsi2 yg seperti anda 
tuliskan atau forwardkan. Harapannya tentu terjadi kepanikan ataupun tercipta 
persepsi seperti itu sehingga diharapkan ramai2 untuk bertindak tidak rasional 
lagi. 

  Bisa anda jelaskan mengapa Singapore suku bunganya 0,02% sementara tingkat 
inflasinya mencapai 3,8%? Mengapa Singapore tidak naikan suku bunganya mencapai 
4% supaya lebih tinggi dari inflasinya? Mengapa investasi orang tidak kabur 
dari Singapore?

  Berikut data2 negara yg inflasinya lebih tinggi dari suku bunganya.

  Inflasi di AS 1,1%, suku bunganya 0,25%.
  Inflasi di Uni Eropa, 1,9%, suku bunganya hanya 1%.
  Inflasi di Inggris/UK, 3,3%, suku bunganya hanya 0,5%
  Inflasi di Korsel 3,5%, suku bunganya hanya 2,5%
  Inflasi di India 9,7%, suku bunganya hanya 5,25%

  Mengapa investasi tidak kabur dari ngara2 yg saya sebutkan di atas? Bisa anda 
jelaskan kalau memang persepsi yg anda sebutkan itu benar adanya?

  Apakah data di atas sudah cukup untuk anda bahwa soal persepsi itu yg anda 
sebutkan itu bukanlah dasar pengambilan keputusan FM baik asing maupun lokal, 
karena mereka lebih memakai hitungan kalkulator ketimbang persepsi.

  Spekulanlah yg bermain dengan persepsi, mereka malah mencoba menciptakan 
persepsi dengan segala cara agar tercipta volatilitas, dimana mereka akan 
mengeruk keuntungan dari volatilitas yang terjadi.

  jabat erat,
  Irwan Ariston Napitupulu






  2011/1/14 positif01 <[email protected]>



    Persoalannya satu yang 'missed' dalam argumentasi Irwan, dan yang satu itu 
yang sangat penting: persepsi/sentimen pasar. Persepsi/sentimen pasar 
berimplikasi terhadap besaran premi resiko ('risk premium') suatu negara. Kita 
bisa katan, return/yield riil dengan berbagai aspek perhitungan hasilnya toh 
masih lebih baik daripada return serupa di 'developed market'. Masalahnya, 
pasar mendiskon segala sesuatu sebesar premi resiko yang mereka pandang lebih 
sesuai dengan profil negara bersangkutan.


    Dan, dalam konteks pasar saham/ekuitas Indonesia, persepsi/sentimen asing 
lebih berdampak ketimbang persepsi/sentimen lokal karena praktis asing 
menguasai sekitar 70% aset portofolio. Sekarang apa persepsi/sentimen mereka 
terhadap kondisi pasar secara keseluruhan.


    Satu hal lagi untuk 'refreshing' saja sekaligus menguji kesahihan 
'attractiveness' return investasi portofolio di Indonesia dibandingkan less 
return di developed market dari perhitungan angka belaka, coba cermati 
kondisi/kejadian pendahuluan di awal (bukan saat/puncak) krisis finansial Asia 
2007/2008, kalau perhitungannya hanya besaran angka 'return', BI rate saat itu 
perlahan tapi pasti sudah naik dari 8 ke 9 ke 10 sampai puncaknya 23%. Ekonomi 
maju berdaulat mana yang mampu menyaingi 'return' sebesar itu tidak hanya saat 
itu, tapi juga saat ini? Tidak ada toh. Kenyataannya, apakah dana asing tambah 
masuk ('inflow') atau malah tambah keluar ('outlfow')? Tentu jawabanya tambah 
keluar, kalau tambah masuk atau at least bertahan, ya 'ga jadi "krismon" dong 
waktu itu :d.


    So, apa 'morale of the story'-nya? Bahwa ada elemen lain yaitu 
persepsi/sentimen pasar selain hitungan angka di atas kertas yang perlu dan 
harus dikelola dengan baik oleh otoritas berwenang di negara manapun. Jangan 
sampai terlambat menyikapi sentimen pasar karena akan susah membaliknya 
('reverse') jika sentimen sudah begitu meluas. Btw, 1997/1998 apa benar 
fundamental ekonomi saat itu demikian buruknya?


    Jika ingin lain sendiri, apalagi kemudian itu diamini dengan pasar yang 
bergerak sejalan. Jika tidak, ya tidak perlu dipaksakan. Yang paling bisa 
memaksakan kehendaknya saat ini dan bisa mendikte pasar, adalah Cina, dan apa 
yang sudah mereka lakukan?


    “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, the 
coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy bonds 
with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the adjustment 
to control the inflation rate and also convince investors that the central bank 
is doing the right thing in terms of monetary policy.” 


    “Don’t forget higher inflation means higher growth,” he said. “I still 
believe economic growth this year could be more than 6.5 percent, driven by 
consumption and investments.” (Bloomberg)


    '+'


    2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>


        
      BI Rate 6,5% itu sudah ketinggian. Analis asing menginginkan suku bunga 
di Indonesia dinaikan agar mereka bisa dapat bunga lebih besar. Ngga perlu 
dinaikan. 

      Amerika saat ini hanya 0-0,25%, Jepang 0,1%, Swiss 0,25%, Inggris 0,5%, 
Uni Eropa 1%, Canada 1%, China 2,75%, Australia 4,5%.

      Biarkan saja duit lari ke LN, memang mau lari kemana yg bisa dapat bunga 
6,5%?  Mau ke Zimbabwe?

      Apa pemilik dana disini mau pindahin ke Singapore yg kasih bunga 0,02% 
sementara tingkat inflasi disana 3,8%?

      Sebenarnya investasi di obligasi/deposito/tabungan itu ngga ada kaitannya 
dengan tingkat inflasi dalam artian tidak otomatis berarti bila suku bunga di 
suatu negara lebih rendah dari tingkat inflasi di negara tersebut, maka 
investasi itu buruk. Investasi itu dilihat dari berapa bunga bersih yg didapat, 
lalu diadjust dengan perbedaan nilai tukarnya dengan mata uang yg menjadi based 
kita.

      Sekedar contoh kita punya uang 100 ribu, katakan saja dulu bunga di 
Indonesia 6,5% (pajak saya abaikan saja dulu supaya ngga repot, karena bunga di 
negara lain juga umumnya kena pajak). Jadi, setahun dapat 6500. Katakan saja 
inflasi 7%. Terlihat seolah2 merugi investasinya secara riil.

      Alternatif investasi di negara lain, katakan negara A. Suku bunganya 3%, 
inflasi 1%, perbedaan nilai tukar mata uangnya dengan rupiah di awal tahun 1 
dolar A = Rp1000, dan di akhir tahun 1 dolar A= Rp990. 
      Maka, investasi awal Rp100 ribu harus ditukar menjadi mata uang lokal, 
mendapat 100 dolar A. Selama setahun, dapat bunga 3%, maka 100 dolar A 
investasi kita berubah di akhir tahun menjadi 103 dolar A. Lalu kita 
konversikan balik ke rupiah menjadi 103x990 = Rp101.970.  Alias investasinya 
kalau dihitung balik ke rupiah hanya dapat cuan 1.970 atau secara prosentase 
hanya 1,97% saja.

      Contoh di atas kalau diasumsikan yg menjadi investor adalah orang 
Indonesia. Sekarang kita ambil contoh yg menjadi investor adalah orang di 
negara A. Sama seperti di atas asumsinya, yaitu modal investasi awal 100 dolar 
A. Kurs awal tahun sama seperti di atas, sehingga rupiahnya menjadi Rp100 ribu. 
Di Indonesia investasi Rp100 ribu menjadi Rp106.500 di akhir tahun yg bila 
dikonversi balik ke mata uangnya sama dengan 107,57 dolar negara A alias dia 
dapat untung 7,57 dolar A atau 7,57%.

      Sebaliknya bila dia invest di negaranya sendiri, uang 100 dolar A, 
diakhir tahun menjadi 103 dolar A atau untung 3 dolar A alias 3%.

      Semoga sekarang bisa dilihat, bahwa tingkat inflasi ngga ngaruh dalam 
kondisi seperti di atas. Mau tingkat inflasi di Indonesia 10% pun, selama nilai 
mata uangnya stabil, maka tidak akan pengaruh pada perhitungan di atas.


      Tingka inflasi baru berpengaruh atau terasa kepada perhitungan daya beli. 
Misalkan saya punya Rp100 ribu, dapat bunga hanya 6,5% per tahun, tapi tingkat 
inflasi 7%, maka saya yg tinggal dan hidup di Indonesia, akan merasakan daya 
beli uang saya menurun walau dapat tambahan dari bunga. Karenanya, investasi 
tersebut jadi investasi yang merugi. Saya akan mencari cara untuk mendapatkan 
keuntungan dari modal saya lebih dari tingkat inflasi agar daya beli uang saya 
tidak menurun. Apalagi bila investasi saya tersebut untuk tujuan tabungan di 
hari tua nanti.

      Dengan begitu, maka saya akan berusaha mencari alternatif investasi lain 
yg bisa memberikan hasil lebih dari 7% setahun. Di majalah Investor edisi April 
2010, sudah pernah saya tuliskan artikel yang berkaitan dengan itu. Dimana di 
artikel tersebut saya coba kasih contoh saham sebagai alternatif investasi. 
Saya berikan tabel kinerja saham 5 tahun, dari awal 2005 sampai akhir 2009 
dimana tingkat return saham rata2 di atas 20% per tahun sudah bebas pajak, dan 
sudah termasuk kena crash tahun 2008. Maksudnya investasi disini adalah beli 
dan simpan saja, tidak ditradingkan alias hanya didiamkan saja.

      Cara lain adalah dengan masuk ke sektor riil yg bisa memberikan 
keuntungan setahun lebih besar dari tingkat inflasi.

      Maka, dengan BI menjaga suku bunga tetap rendah, akan sangat membantu 
sektor riil berkembang. Bahkan, menurut saya BI rate harusnya berada disekitar 
3% saja bila kita mau sektor riil kita berkembang pesat dan pengangguran bisa 
cepat dikurangi.

      Jadi, masalah suku bunga rendah itu tidak memiliki pengaruh kuat asing 
jadi tidak tertarik masuk ke sektor riil. Justru asing malah lebih tertarik 
bila suku bunga di satu negara murah. Kalau investasi di instrumen pasar uang, 
barulah suku bunga rendah itu daya tariknya bisa berkurang. Tapi, hari gini, 
ngapain juga sih kasih makan duit asing. Kasihan selama ini rakyat Indonesia 
kasih makan investasi asing di SUN maupun SBI. Sudah saatnya kita tidak 
memperkaya mereka lagi.



      jabat erat,
      Irwan Ariston Napitupulu



      2011/1/14 positif01 <[email protected]>




        Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi 
BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia 
Tenggara, hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas dasar 
argumentasi 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' (food and 
fuel).


        Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini 
adalah Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline inflation'. 
Tapi ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di Bloomberg, sekaligus 
membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak punya alasan serupa. Karena 
komponen 'headline inflation', food and fuel itu menyumbang 30-40% dari total 
pendapatan ('income') per kapita penduduk AS. Bandingkan di 'emerging market' 
apalagi negara berkembang/dunia ke-3, makanan dan bbm bisa menyumbang 
>70%....termasuk di antaranya Indonesia.


        Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang 
merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena tendensi 
negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut mereka. Jika argumennya 
kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, kenyataannya Cina dan 
India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan ekonominya sudah beberapa kali 
menaikkan suku bunga tahun lalu selain menaikkan GWM. Dan, sebagaimana 
disebutkan oleh Reuters bahwa 'decoupling' atau disparitas/perbedaan antara 
'headline' dan 'core' inflation itu secara historis tidak akan pernah lama. 
Kurang lebih kalau pelaku pasar yang lebih pragmatis mengatakan, "Apa perlu 
menunggu dampak sampingan yang lebih serius?"


        '+'


        On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL 
<[email protected]> wrote:

            
          Diskusi bang ian..

          Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk 
naikin suku bunga pinjaman..
          Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit..


          Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR 
ini..


          Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini seharusnya 
bukan dari sisi moneter yang digenjot..
          Kutip dari Positive:
          1.  the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent
          2.  consumer price inflation – driven by food – continued to 
accelerate to 7 per cent
          3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money.  


          Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya








          On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu 
<[email protected]> wrote:
              
            Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu 
sendiri dalam kasus Indonesia.

            Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku 
pelajaran adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu rendah, baru 
8%, untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat GWM nya 18,5%. 
Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya 2,75% dan tingkat 
suku bunga pinjaman di China 5,81%.

            Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar.
            Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke 
ekonomi, silakan baca2 di:

            http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement

            jabat erat,
            Irwan Ariston Napitupulu






            On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]> 
wrote:




              Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in 
Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation. 

              "I think some foreign investors were not too comfortable with the 
central bank's not raising interest rates despite high inflation," he said. 
(Reuters)


              BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent 
for the 17th month in a row rests on two assumptions: that food price inflation 
won’t spill into core inflation, and that interest-rate increases would attract 
damaging short-term capital flows. Both are dubious. First, it is true that the 
core inflation rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 
per cent, while headline consumer price inflation – driven by food, which 
accounts for about a third of the CPI basket – continued to accelerate to 7 per 
cent, well outside the target zone of 4 to 6. But headline and core never 
decouple for long. Consumer surveys and rising 10-year bond yields suggest that 
inflation expectations are taking root. Second, rate rises need not attract 
inordinate amounts of hot money if capital controls are effective, and everyone 
else is tightening too. (Financial Times).



























  

Kirim email ke