Kalu menurut saya turun secara perlahan, Memang harus nya demikian pak . turun secara bertahap / lebih mudah untuk beradaptasi .
sedangkan kalau drastis . dapat menimbulkan kepanikan . Salam Lukman 2011/1/14 <[email protected]> > > > Kalo IHSG 3 % apa kabar dengan sektor perbankan indonesia?bunga deposito, > perhitungan capital at risk,hedging dan perhitungan lainnya karena banking > book (kalau dilihat dr risk management bank) semua sangat bergantung dengan > suku bungan,,, > > Kalu menurut saya turun secara perlahan,,(CMIIW) > > Regards, > > > Ian > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * lkm jkt <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Fri, 14 Jan 2011 14:29:40 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: Bedanya Amerika dan Indonesia Re: [saham] BI dan suku > bunga, sekali lagi? > > > > BI Rate harusnya berada di 3%, demi kemajuan sektor riil dan pengentasan > kemiskinan serta mengurangi pengangguran. > > > Secara nga langsung , biar yg punya uang di putar di sektor riil -- untuk > mempercepat putaraan ekonomi . > > dan mengurangi pengangguran . > > saya setuju 100 % pak IAN. > > > > > Salam > > Lukman > > > > > > > > > > 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > >> >> >> Coba anda tanyakan ke Elvyn Masassya, kalau BI tidak mau naikan suku >> bunganya, dia mau pindahkan investasinya kemana? >> >> Namanya pemodal, maunya dapat keuntungan lebih banyak. Itu wajar saja. >> Namanya juga usaha. Tapi kalau dikasih pilihan, berani ngga dia pindahin >> investasinya dari SUN dan SBI katakan ke Malaysia, misalkan. >> >> Sekedar informasi saja tentan Malaysia: >> Tingkat inflasi 2%, tingkat suku bunga 2,75%. >> >> Nah, anda sebagai FM, mau invest di instrumen investasi dengan bunga 2,75% >> dalam ringgit atau 6,5 dalam rupiah? Mana yg lebih menguntungkan dalam >> setahun kalau asumsikan nilai tukar rupiah dengan ringgit malaysia cenderung >> stabil. >> >> Apakah FM sekelas Elvyn Masassya akan pindahkan investasinya ke instrumen >> investasi di Malaysia hanya karena suku bunganya lebih tinggi dari tingkat >> inflasi disana? 99% saya yakin beliau tidak akan berani mengambil tindakan >> itu. >> >> Saya pun sebagai pemodal, menginginkan suku bunga naik, kalau perlu sampai >> 10%, lumayan khan dapat cuan lebih. Tapi buat apa hal itu saya sarankan ke >> BI kalau pada akhirnya hanya malah merusak ekonomi, membuat inflasi makin >> tinggi, dan terlebih lagi makin menyusahkan rakyat kecil. Poin terakhir ini >> yg menjadi concern utama saya melebihi dari keuntungan yg mungkin saya >> terima sebagai pemodal dari kenaikan suku bunga. Bagi saya, cuan bisa dicari >> dengan cara lain, tapi rakyat kecil yg makin menderita karena kebijakan suku >> bunga tinggi, itu yg membuat saya bisa gelisah dan susah tidur. >> >> BI Rate harusnya berada di 3%, demi kemajuan sektor riil dan pengentasan >> kemiskinan serta mengurangi pengangguran. >> >> >> jabat erat, >> Irwan Ariston Napitupulu >> >> 2011/1/14 positif01 <[email protected]> >> >>> >>> >>> Wah, referensinya jelas loh, sumbernya dari media resmi. Misalnya tadi >>> dikutip dari Elvyn Masassya, itu Direktur Investasi Jamsostek, tidak ada >>> hubungannya dengan asing atau aseng sama sekali. Itu barus satu contoh: >>> >>> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, >>> the coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy >>> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the >>> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that >>> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.” ( >>> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-14/indonesia-s-state-pension-fund-to-purchase-more-bonds-as-stock-gains-slow.html >>> ) >>> >>> Atau pandangan dari luar tapi tidak perlu jauh-jauh: >>> >>> Indonesian yields may rise further relative to Malaysia’s because of the >>> country’s lower credit rating, according to Kuala Lumpur-based AmInvestment >>> Management Sdn. Malaysia is rated A3 by Moody’s, five levels higher than >>> Indonesia. >>> >>> “Even if Indonesia is upgraded to the lowest level of investment grade, >>> the bonds are still expensive,” Mohd Farid Kamarudin, who helps manage 1.3 >>> billion ringgit ($425 million) of Islamic assets at AmInvestment, a unit of >>> last year’s fourth- biggest sukuk underwriter, said in an interview >>> yesterday. “The Malaysian sukuk are cheap so people should start to buy.” ( >>> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-13/indonesia-sukuk-drop-as-inflation-curbs-demand-islamic-finance.html >>> ) >>> >>> Tidak perlu diberitakan atau diteruskan lagi, beritanya kan sudah ke >>> mana-mana, kecuali tabloid Artis lokal yang mengabarkan :d. >>> >>> Bottom-line, apa yang salah dengan penyesuaian 'interest rate'. Semua >>> melakukan, semua dalam tekanan pasar. Mengapa ada yang perlu berbeda atau >>> dibedakan, dan penyebabnya sama: inflasi. So? >>> >>> '+' >>> >>> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >>> >>>> >>>> >>>> FM asing tidak bermain dengan persepsi, mereka berhitung dengan >>>> kalkulator. Saya sudah tunjukkan hitung2an kalkulatornya yg menunjukkan >>>> mereka tetap cuan lumayan di Indonesia selama nilai tukar mata uang rupiah >>>> kita bisa dijaga stabil oleh BI. >>>> >>>> Spekulanlah yg coba mengobok2 dengan menciptakan persepsi2 yg seperti >>>> anda tuliskan atau forwardkan. Harapannya tentu terjadi kepanikan ataupun >>>> tercipta persepsi seperti itu sehingga diharapkan ramai2 untuk bertindak >>>> tidak rasional lagi. >>>> >>>> Bisa anda jelaskan mengapa Singapore suku bunganya 0,02% sementara >>>> tingkat inflasinya mencapai 3,8%? Mengapa Singapore tidak naikan suku >>>> bunganya mencapai 4% supaya lebih tinggi dari inflasinya? Mengapa investasi >>>> orang tidak kabur dari Singapore? >>>> >>>> Berikut data2 negara yg inflasinya lebih tinggi dari suku bunganya. >>>> >>>> Inflasi di AS 1,1%, suku bunganya 0,25%. >>>> Inflasi di Uni Eropa, 1,9%, suku bunganya hanya 1%. >>>> Inflasi di Inggris/UK, 3,3%, suku bunganya hanya 0,5% >>>> Inflasi di Korsel 3,5%, suku bunganya hanya 2,5% >>>> Inflasi di India 9,7%, suku bunganya hanya 5,25% >>>> >>>> Mengapa investasi tidak kabur dari ngara2 yg saya sebutkan di atas? Bisa >>>> anda jelaskan kalau memang persepsi yg anda sebutkan itu benar adanya? >>>> >>>> Apakah data di atas sudah cukup untuk anda bahwa soal persepsi itu yg >>>> anda sebutkan itu bukanlah dasar pengambilan keputusan FM baik asing maupun >>>> lokal, karena mereka lebih memakai hitungan kalkulator ketimbang persepsi. >>>> >>>> Spekulanlah yg bermain dengan persepsi, mereka malah mencoba menciptakan >>>> persepsi dengan segala cara agar tercipta volatilitas, dimana mereka akan >>>> mengeruk keuntungan dari volatilitas yang terjadi. >>>> >>>> >>>> jabat erat, >>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]> >>>> >>>>> >>>>> >>>>> Persoalannya satu yang 'missed' dalam argumentasi Irwan, dan yang satu >>>>> itu yang sangat penting: persepsi/sentimen pasar. Persepsi/sentimen pasar >>>>> berimplikasi terhadap besaran premi resiko ('risk premium') suatu negara. >>>>> Kita bisa katan, return/yield riil dengan berbagai aspek perhitungan >>>>> hasilnya toh masih lebih baik daripada return serupa di 'developed >>>>> market'. >>>>> Masalahnya, pasar mendiskon segala sesuatu sebesar premi resiko yang >>>>> mereka >>>>> pandang lebih sesuai dengan profil negara bersangkutan. >>>>> >>>>> Dan, dalam konteks pasar saham/ekuitas Indonesia, persepsi/sentimen >>>>> asing lebih berdampak ketimbang persepsi/sentimen lokal karena praktis >>>>> asing >>>>> menguasai sekitar 70% aset portofolio. Sekarang apa persepsi/sentimen >>>>> mereka >>>>> terhadap kondisi pasar secara keseluruhan. >>>>> >>>>> Satu hal lagi untuk 'refreshing' saja sekaligus menguji kesahihan >>>>> 'attractiveness' return investasi portofolio di Indonesia dibandingkan >>>>> less >>>>> return di developed market dari perhitungan angka belaka, coba cermati >>>>> kondisi/kejadian pendahuluan di awal (bukan saat/puncak) krisis finansial >>>>> Asia 2007/2008, kalau perhitungannya hanya besaran angka 'return', BI rate >>>>> saat itu perlahan tapi pasti sudah naik dari 8 ke 9 ke 10 sampai puncaknya >>>>> 23%. Ekonomi maju berdaulat mana yang mampu menyaingi 'return' sebesar itu >>>>> tidak hanya saat itu, tapi juga saat ini? Tidak ada toh. Kenyataannya, >>>>> apakah dana asing tambah masuk ('inflow') atau malah tambah keluar >>>>> ('outlfow')? Tentu jawabanya tambah keluar, kalau tambah masuk atau at >>>>> least >>>>> bertahan, ya 'ga jadi "krismon" dong waktu itu :d. >>>>> >>>>> So, apa 'morale of the story'-nya? Bahwa ada elemen lain yaitu >>>>> persepsi/sentimen pasar selain hitungan angka di atas kertas yang perlu >>>>> dan >>>>> harus dikelola dengan baik oleh otoritas berwenang di negara manapun. >>>>> Jangan >>>>> sampai terlambat menyikapi sentimen pasar karena akan susah membaliknya >>>>> ('reverse') jika sentimen sudah begitu meluas. Btw, 1997/1998 apa benar >>>>> fundamental ekonomi saat itu demikian buruknya? >>>>> >>>>> Jika ingin lain sendiri, apalagi kemudian itu diamini dengan pasar yang >>>>> bergerak sejalan. Jika tidak, ya tidak perlu dipaksakan. Yang paling bisa >>>>> memaksakan kehendaknya saat ini dan bisa mendikte pasar, adalah Cina, dan >>>>> apa yang sudah mereka lakukan? >>>>> >>>>> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, >>>>> the coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to >>>>> buy >>>>> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the >>>>> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that >>>>> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.” >>>>> >>>>> “Don’t forget higher inflation means higher growth,” he said. “I still >>>>> believe economic growth this year could be more than 6.5 percent, driven >>>>> by >>>>> consumption and investments.” (Bloomberg) >>>>> >>>>> '+' >>>>> >>>>> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >>>>> >>>>> >>>>>> >>>>>> BI Rate 6,5% itu sudah ketinggian. Analis asing menginginkan suku >>>>>> bunga di Indonesia dinaikan agar mereka bisa dapat bunga lebih besar. >>>>>> Ngga >>>>>> perlu dinaikan. >>>>>> >>>>>> Amerika saat ini hanya 0-0,25%, Jepang 0,1%, Swiss 0,25%, Inggris >>>>>> 0,5%, Uni Eropa 1%, Canada 1%, China 2,75%, Australia 4,5%. >>>>>> >>>>>> Biarkan saja duit lari ke LN, memang mau lari kemana yg bisa dapat >>>>>> bunga 6,5%? Mau ke Zimbabwe? >>>>>> >>>>>> Apa pemilik dana disini mau pindahin ke Singapore yg kasih bunga 0,02% >>>>>> sementara tingkat inflasi disana 3,8%? >>>>>> >>>>>> Sebenarnya investasi di obligasi/deposito/tabungan itu ngga ada >>>>>> kaitannya dengan tingkat inflasi dalam artian tidak otomatis berarti bila >>>>>> suku bunga di suatu negara lebih rendah dari tingkat inflasi di negara >>>>>> tersebut, maka investasi itu buruk. Investasi itu dilihat dari berapa >>>>>> bunga >>>>>> bersih yg didapat, lalu diadjust dengan perbedaan nilai tukarnya dengan >>>>>> mata >>>>>> uang yg menjadi based kita. >>>>>> >>>>>> Sekedar contoh kita punya uang 100 ribu, katakan saja dulu bunga di >>>>>> Indonesia 6,5% (pajak saya abaikan saja dulu supaya ngga repot, karena >>>>>> bunga >>>>>> di negara lain juga umumnya kena pajak). Jadi, setahun dapat 6500. >>>>>> Katakan >>>>>> saja inflasi 7%. Terlihat seolah2 merugi investasinya secara riil. >>>>>> >>>>>> Alternatif investasi di negara lain, katakan negara A. Suku bunganya >>>>>> 3%, inflasi 1%, perbedaan nilai tukar mata uangnya dengan rupiah di awal >>>>>> tahun 1 dolar A = Rp1000, dan di akhir tahun 1 dolar A= Rp990. >>>>>> Maka, investasi awal Rp100 ribu harus ditukar menjadi mata uang lokal, >>>>>> mendapat 100 dolar A. Selama setahun, dapat bunga 3%, maka 100 dolar A >>>>>> investasi kita berubah di akhir tahun menjadi 103 dolar A. Lalu kita >>>>>> konversikan balik ke rupiah menjadi 103x990 = Rp101.970. Alias >>>>>> investasinya >>>>>> kalau dihitung balik ke rupiah hanya dapat cuan 1.970 atau secara >>>>>> prosentase >>>>>> hanya 1,97% saja. >>>>>> >>>>>> Contoh di atas kalau diasumsikan yg menjadi investor adalah orang >>>>>> Indonesia. Sekarang kita ambil contoh yg menjadi investor adalah orang di >>>>>> negara A. Sama seperti di atas asumsinya, yaitu modal investasi awal 100 >>>>>> dolar A. Kurs awal tahun sama seperti di atas, sehingga rupiahnya menjadi >>>>>> Rp100 ribu. Di Indonesia investasi Rp100 ribu menjadi Rp106.500 di akhir >>>>>> tahun yg bila dikonversi balik ke mata uangnya sama dengan 107,57 dolar >>>>>> negara A alias dia dapat untung 7,57 dolar A atau 7,57%. >>>>>> >>>>>> Sebaliknya bila dia invest di negaranya sendiri, uang 100 dolar A, >>>>>> diakhir tahun menjadi 103 dolar A atau untung 3 dolar A alias 3%. >>>>>> >>>>>> Semoga sekarang bisa dilihat, bahwa tingkat inflasi ngga ngaruh dalam >>>>>> kondisi seperti di atas. Mau tingkat inflasi di Indonesia 10% pun, selama >>>>>> nilai mata uangnya stabil, maka tidak akan pengaruh pada perhitungan di >>>>>> atas. >>>>>> >>>>>> >>>>>> Tingka inflasi baru berpengaruh atau terasa kepada perhitungan daya >>>>>> beli. Misalkan saya punya Rp100 ribu, dapat bunga hanya 6,5% per tahun, >>>>>> tapi >>>>>> tingkat inflasi 7%, maka saya yg tinggal dan hidup di Indonesia, akan >>>>>> merasakan daya beli uang saya menurun walau dapat tambahan dari bunga. >>>>>> Karenanya, investasi tersebut jadi investasi yang merugi. Saya akan >>>>>> mencari >>>>>> cara untuk mendapatkan keuntungan dari modal saya lebih dari tingkat >>>>>> inflasi >>>>>> agar daya beli uang saya tidak menurun. Apalagi bila investasi saya >>>>>> tersebut >>>>>> untuk tujuan tabungan di hari tua nanti. >>>>>> >>>>>> Dengan begitu, maka saya akan berusaha mencari alternatif investasi >>>>>> lain yg bisa memberikan hasil lebih dari 7% setahun. Di majalah Investor >>>>>> edisi April 2010, sudah pernah saya tuliskan artikel yang berkaitan >>>>>> dengan >>>>>> itu. Dimana di artikel tersebut saya coba kasih contoh saham sebagai >>>>>> alternatif investasi. Saya berikan tabel kinerja saham 5 tahun, dari awal >>>>>> 2005 sampai akhir 2009 dimana tingkat return saham rata2 di atas 20% per >>>>>> tahun sudah bebas pajak, dan sudah termasuk kena crash tahun 2008. >>>>>> Maksudnya >>>>>> investasi disini adalah beli dan simpan saja, tidak ditradingkan alias >>>>>> hanya >>>>>> didiamkan saja. >>>>>> >>>>>> Cara lain adalah dengan masuk ke sektor riil yg bisa memberikan >>>>>> keuntungan setahun lebih besar dari tingkat inflasi. >>>>>> >>>>>> Maka, dengan BI menjaga suku bunga tetap rendah, akan sangat membantu >>>>>> sektor riil berkembang. Bahkan, menurut saya BI rate harusnya berada >>>>>> disekitar 3% saja bila kita mau sektor riil kita berkembang pesat dan >>>>>> pengangguran bisa cepat dikurangi. >>>>>> >>>>>> Jadi, masalah suku bunga rendah itu tidak memiliki pengaruh kuat asing >>>>>> jadi tidak tertarik masuk ke sektor riil. Justru asing malah lebih >>>>>> tertarik >>>>>> bila suku bunga di satu negara murah. Kalau investasi di instrumen pasar >>>>>> uang, barulah suku bunga rendah itu daya tariknya bisa berkurang. Tapi, >>>>>> hari >>>>>> gini, ngapain juga sih kasih makan duit asing. Kasihan selama ini rakyat >>>>>> Indonesia kasih makan investasi asing di SUN maupun SBI. Sudah saatnya >>>>>> kita >>>>>> tidak memperkaya mereka lagi. >>>>>> >>>>>> >>>>>> jabat erat, >>>>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>>>> >>>>>> >>>>>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]> >>>>>> >>>>>> >>>>>>> >>>>>>> Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi >>>>>>> BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia >>>>>>> Tenggara, hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas dasar >>>>>>> argumentasi 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' (food >>>>>>> and >>>>>>> fuel). >>>>>>> >>>>>>> Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini >>>>>>> adalah Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline >>>>>>> inflation'. Tapi ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di >>>>>>> Bloomberg, sekaligus membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak >>>>>>> punya >>>>>>> alasan serupa. Karena komponen 'headline inflation', food and fuel itu >>>>>>> menyumbang 30-40% dari total pendapatan ('income') per kapita penduduk >>>>>>> AS. >>>>>>> Bandingkan di 'emerging market' apalagi negara berkembang/dunia ke-3, >>>>>>> makanan dan bbm bisa menyumbang >70%....termasuk di antaranya Indonesia. >>>>>>> >>>>>>> Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang >>>>>>> merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena >>>>>>> tendensi negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut mereka. >>>>>>> Jika >>>>>>> argumennya kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, >>>>>>> kenyataannya Cina dan India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan >>>>>>> ekonominya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga tahun lalu selain >>>>>>> menaikkan GWM. Dan, sebagaimana disebutkan oleh Reuters bahwa >>>>>>> 'decoupling' >>>>>>> atau disparitas/perbedaan antara 'headline' dan 'core' inflation itu >>>>>>> secara >>>>>>> historis tidak akan pernah lama. Kurang lebih kalau pelaku pasar yang >>>>>>> lebih >>>>>>> pragmatis mengatakan, "Apa perlu menunggu dampak sampingan yang lebih >>>>>>> serius?" >>>>>>> >>>>>>> '+' >>>>>>> >>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL < >>>>>>> [email protected]> wrote: >>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> Diskusi bang ian.. >>>>>>>> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk >>>>>>>> naikin suku bunga pinjaman.. >>>>>>>> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit.. >>>>>>>> >>>>>>>> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR >>>>>>>> ini.. >>>>>>>> >>>>>>>> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini >>>>>>>> seharusnya bukan dari sisi moneter yang digenjot.. >>>>>>>> Kutip dari Positive: >>>>>>>> 1. the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent >>>>>>>> 2. consumer price inflation – driven by food – continued to >>>>>>>> accelerate to 7 per cent >>>>>>>> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money. >>>>>>>> >>>>>>>> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu < >>>>>>>> [email protected]> wrote: >>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu >>>>>>>>> sendiri dalam kasus Indonesia. >>>>>>>>> >>>>>>>>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku >>>>>>>>> pelajaran adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu >>>>>>>>> rendah, >>>>>>>>> baru 8%, untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat >>>>>>>>> GWM nya >>>>>>>>> 18,5%. Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya >>>>>>>>> 2,75% dan >>>>>>>>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%. >>>>>>>>> >>>>>>>>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar. >>>>>>>>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke >>>>>>>>> ekonomi, silakan baca2 di: >>>>>>>>> >>>>>>>>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement >>>>>>>>> >>>>>>>>> jabat erat, >>>>>>>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]>wrote: >>>>>>>>> >>>>>>>>>> >>>>>>>>>> >>>>>>>>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in >>>>>>>>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation. >>>>>>>>>> >>>>>>>>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the >>>>>>>>>> central bank's not raising interest rates despite high inflation," >>>>>>>>>> he said. >>>>>>>>>> (Reuters) >>>>>>>>>> >>>>>>>>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for >>>>>>>>>> the 17th >>>>>>>>>> month<http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/>in a >>>>>>>>>> row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill >>>>>>>>>> into core inflation, and that interest-rate increases would attract >>>>>>>>>> damaging >>>>>>>>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital >>>>>>>>>> flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation >>>>>>>>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per >>>>>>>>>> cent, >>>>>>>>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which >>>>>>>>>> accounts for >>>>>>>>>> about a third of the >>>>>>>>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket >>>>>>>>>> – continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone >>>>>>>>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer >>>>>>>>>> surveys >>>>>>>>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations >>>>>>>>>> are >>>>>>>>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts >>>>>>>>>> of hot >>>>>>>>>> money if capital >>>>>>>>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are >>>>>>>>>> effective, and everyone else is >>>>>>>>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too. >>>>>>>>>> (Financial Times). >>>>>>>>>> >>>>>>>>>> >>>>>>>>>> >>>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>> >>>>> >>>>> >>>>> >>>> >>> >>> >>> >> >> >> > > > -- > Lukman > > > > > -- Lukman
