Berikut adalah "market direction" yang diberikan salah satu group retail 
investor di Singapore (cari saja di google, nanti pasti ketemu) untuk para 
anggotanya mengenai kondisi bursa manca negara pada bulan OKTOBER 2010 :





      Market Valuations 
      PE Ratio 
     
      S&P 500         15,2 
      Singapore 13 
      HangSeng 14,86 
      Jakarta 37,82 
      Shanghai 20,04 
      Malaysia 18 




dari data di atas, terlihat bahwa bursa Jakarta memang sudah terlalu mahal dan 
sudah sulit memberikan ruang bagi trader,  speculator dan bandar untuk 
"mengumpulkan massa" dan menarik untung dari situ.

Kinerja Composite tahun 2010 untuk Bursa Jakarta ternyata masih gains kurang 
lebih  +40%, Bursa Malaysia +20% dan Bursa Shanghai losses -15%. Bursa Shanghai 
yang PE Rationya kedua tertinggi dalam rangking di atas, mulai terkoreksi tajam 
sejak pertengahan November 2010.



Jadi, dari data di atas, secara pribadi (dan begitu juga isi "market direction" 
itu), menurut saya tidak mengherankan kalau sekarang bursa Jakarta kita ini 
mengalami koreksi tajam dan mungkin masih akan terjadi dalam waktu dekat ini. 
Lepas dari kondisi makro ekonomi global, harga komoditas, semua analisa TA dan 
FA, menurut saya yang paling dominan adalah karena buat Local & Asing (trader, 
speculator dan bandar) bursa Jakarta untuk saat ini sudah kehilangan daya 
tariknya karena sudah terlalu kemahalan, kecuali bersedia dilakukan koreksi 
tajam (yang akan mengundang banyak dana masuk lagi) sehingga ada ruang untuk 
mencetak profit lagi.



Demikian sumbang sarannya, mohon maaf kalau tidak berkenan.



salam

sumarna





Financial success is a “matter of having the right habits”, Make sure that you 
have the right role models. Strive for rational behaviour, good habits, and 
proper temperament (Warren Buffet)

Kirim email ke