Dalam segala hal berlaku pepatah " Rumput tetangga selalu kelihatan lebih
ijo"....
Uang memang tidak kenal nasionalisme..., namun hidup juga harus balance...

Jadi sekali-sekali perlu juga mengingat nasehat orang tua..." Hujan emas di
negeri orang, hujan batu di negeri sendiri lebih baik di......???"

Atau kalau di program OLT bunyinya begini ... F: "My Country, Right Or
Wrong"


salam,
green


2011/1/19 Susanto Salim <[email protected]>

>
>
> Saya kira kita harus paham bahwa uang tidak kenal nasionalisme, itu juga
> mengapa orang asing memarkir dananya dinegara yang dianggap paling
> menguntungkan. Alasan yang sama juga terjadi dibidang industri, pemodal
> mencari tenaga kerja murah (terlepas dari pertimbangan resiko politik dan
> stabilitas)..intinya modal mencari tempat yang dianggap paling menguntungkan
> (masalah untung beneran atau malah buntung cuman Tuhan yang tau[?]).
>
> Satu hal lagi, kalo asing taro duit di sini kita mikirnya pasti
> menguntungkan kepentingan si asing, karena duit hasil cuannya akan dibawa
> kembali. Kalo logika yang sama kita pakai saat WNI menanam uangnya di negara
> asing, maka seharusnya itu merupakan hal yang baik buat negara ini.
>
> Akhir kata, kalo wong asing aja mau nanem duit di sini, lantas mengapa si
> aseng ato si bedjo nanem duitnya di LN? Mungkin karena bejo melihat peluang
> di LN, ibarat orang beli mobil (ato produk lain) kan tidak semua orang harus
> beli produk yang sama, dan masing2 boleh memilih sesuai dengan kebutuhannya
> sendiri.
>
> PS:
> Dalam audiobook tentang ekonomi yang pernah saya dengar, si tutor
> mengatakan dulu ada presiden amrik yang menyarankan rakyatnya untuk cinta
> produk dalem negeri. Logika nya sederhana, kalo beli produk dalem negeri
> katanya kita dapet barangnya dan duitnya juga tetap di dalem negeri. Tapi
> logika ini sedikit bermasalah, dengan logika yang sama kita bisa saja
> mengatakan, lebih baik kita bikin baju sendiri, masak sendiri, tanem
> sayur2an sendiri, beternak sendiri, dll...jadi kita dapet produknya dan gak
> keluar duit. Sudahkan anda melihat kesalahan logika nya? Ya, kita bisa saja
> mengerjakan segala sesuatunya sendiri, atau bisa saja kita beli produk dalem
> negeri semua biar gak ada duit yang lari keluar negeri, masalahnya adalah
> bisakah kita mengerjakan segala sasuatunya dengan lebih baik dan lebih
> efisien? sejarah sudah membuktikan bahwa negara2 membuka diri dan berdagang
> sama dunia luarlah yang menjadi makmur dan maju.
>
> sekedar sumbang pendapat,
> -santo
>
> 2011/1/19 Adrian Maulana <[email protected]>
>
>
>>
>> Benar, saat ini IHSG msh dipengaruhi oleh keluar masuknya dana asing krn
>> mrk msh mendominasi kapitalisasi pasar modal Indonesia.
>> Sehingga kalau terjadi penarikan (maupun pembelian) dalam jumlah besar,
>> akan berpengaruh signifikan thd pasar modal secara umum.
>>
>> Prinsip ekonomi sederhana, "Permintaan Meningkat, Harga Meningkat.
>> Permintaan Menurun, Harga pun Menurun"
>>
>> Hal ini berlaku di manapun, tdk hanya di Indonesia.
>> Mengingat industri pasar modal Indonesia baru bertumbuh dalam beberapa thn
>> belakangan ini (dibandingkan negara AS dan Eropa yg sdh berpuluh2 tahun),
>> maka rentan thd gejolak keluar masuknya dana2 asing (kurang lebih 2/3 dana
>> yg berputar di pasar modal kita masih milik asing).
>>
>> Ironis bila kita mendengar / mengetahui ada masyarakat Indonesia malah
>> berusaha memarkir dananya di negara lain (oleh sebab apapun) dimana banyak
>> negara2 lain malah berbondong2 utk berinvestasi di Indonesia, (karena sbg
>> negara berkembang, Indonesia msh harus terus membangun).
>> Jangan sampai nantinya perusahaan2 asing malah mencaplok semua perusahaan2
>> strategis di Indonesia sehingga kita jd kehilangan identitas bangsa.
>> Cukup beratus2 tahun kita dijajah. Jgn sampai saat ini, walau dg kemasan
>> yg lebih intelek spt pemberian hutang yg lunak, bantuan ini itu, hibah, dsb,
>> kita menjadi terlena shg mudah dikemudikan oleh negara lain.
>> Itu yg disebut penjajahan era masa kini. Tidak lagi dg fisik, tp justru dg
>> cara yg lebih intelek yg menurut saya jauh lebih berbahaya, krn seringkali
>> kita dlm keadaan tdk sadar (lengah).
>>
>> Indonesia mungkin tertinggal dalam banyak hal. Namun jgn jadikan itu sbg
>> alasan kita utk tdk berpikir ke arah Indonesia yg lebih baik.
>>
>> Kita bisa bahkan wajib berkontribusi memajukan bangsa sendiri sesuai
>> kemampuan yg dimiliki.
>>
>> Dalam tulisan kali ini, saya pun ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat
>> Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal untuk mendukung perekonomian di
>> negara kita.
>>
>> Adrian Maulana
>>
>> Pls welcome to join : [email protected]
>> ------------------------------
>> *From: * Mei Saputra <[email protected]>
>> *Sender: * [email protected]
>> *Date: *Tue, 18 Jan 2011 15:12:16 +0800 (SGT)
>> *To: *<undisclosedrecipients>
>> *ReplyTo: * [email protected]
>> *Subject: *[saham] Asing, begitu berperannya-kah?
>>
>>
>>
>> Teman-teman sekalian,
>>
>>
>> Saya sering mendengar beberapa opini yang menyebutkan, bahwa untuk
>> mengkonfirmasi pembalikan arah IHSG yang sekarang sedang bearish, dibutuhkan
>> dana asing untuk membeli saham2 di Indonesia. "Tunggu Asing net sell dalam
>> beberapa hari, baru ok untuk investasi". Kurang lebih begitu bahasanya.
>>
>> Mohon penjelasan dari para senior disini, apakah hal ini benar adanya ?
>> Apakah IHSG kita, naik atau turun digerakkan oleh dana asing ? Kalau iya,
>> kira-kira apa yang terjadi kalau suatu hari nanti mereka kembali
>> berinvestasi di negara masing2 ?
>>
>> Kemudian, apakah hal ini terjadi hanya di Indonesia atau kondisi yang sama
>> juga berlaku di negara lain ? Maksud saya, bahwa naik atau turunnya suatu
>> nilai komposit saham, bisa jadi tergantung pada dana asing yang masuk atau
>> keluar dari negara tersebut ?
>>
>> Mohon pencerahannya.
>>
>> Terima kasih
>>
>> Mei Saputra
>>
>>
>  
>

<<330.gif>>

Kirim email ke